Hari-hari yang Tak Lagi Dihitung

1113 Words
Aku sudah tak tahu lagi ini hari ke berapa sejak aku berada di tempat ini. Waktu di penjara tidak berjalan seperti di luar sana. Ia tidak berdetak. Ia menggenang. Diam, berat, dan menyesakkan. Pagi selalu datang tanpa matahari. Yang membangunkanku bukan cahaya, melainkan suara besi beradu. Pintu sel dibuka dengan kasar. Disusul teriakan petugas yang menyuruh kami bangun. "Bangun! Semua bangun!" Suara itu menusuk telinga seperti cambuk. Aku bangkit perlahan dari lantai dingin yang menjadi alas tidur. Tubuhku pegal, punggung terasa seperti diremas sepanjang malam. Aku sudah hafal ritmenya. Bangun. Berbaris. Cuci muka dengan air dingin yang baunya aneh. Lalu kembali ke dalam sel untuk menunggu waktu makan. Aku bukan tahanan baru lagi, tapi bukan juga bagian dari mereka. Di sini, itu posisi paling berbahaya. Para napi lama memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Bukan marah, bukan benci. Lebih seperti... meremehkan. Seolah keberadaanku adalah gangguan kecil yang bisa mereka injak kapan saja. Aku sering mendengar bisikan. "Katanya bandar." "Ah, paling cuma kurir." "Kelihatan lugu, tapi paling licik." Aku memilih diam. Diam adalah satu-satunya tameng yang kupunya. Setiap pagi aku kebagian tugas membersihkan lorong depan blok. Mengepel lantai, mengangkat ember, mengelap dinding yang lembap. Tanganku kasar, kuku-kuku mulai menghitam. Bau sabun bercampur keringat dan karat besi menempel di kulitku, tak mau hilang walau sudah berkali-kali dicuci. Kadang ada yang sengaja menyenggol emberku sampai airnya tumpah. "Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat," kata salah satu dari mereka sambil terkekeh. Aku hanya menunduk dan mengulang dari awal. Saat jam makan tiba, aku selalu duduk di sudut paling ujung. Piring logam di tanganku sering kali dingin sebelum sempat kusentuh. Nafsu makanku hilang sejak lama. Bukan karena tidak lapar, tapi karena setiap suapan terasa seperti beban. Tatapan itu lagi. Tatapan yang menilai. Menghakimi. Menguliti. Ada yang sengaja duduk berhadapan denganku, menatap tanpa berkedip sambil mengunyah pelan. Seolah ingin melihat seberapa kuat aku bertahan. Kadang seseorang menyenggol piringku "tak sengaja". Kadang sendokku hilang. Aku sudah belajar untuk tidak bereaksi. Aku menelan semuanya. Makanan, hinaan, air mata... sendirian. Namun di tengah semua itu, ada satu wajah yang berbeda. Ratna. Perempuan itu selalu muncul dengan langkah tenang, rambutnya diikat asal, matanya tajam tapi tidak kejam. Usianya mungkin sepuluh tahun di atasku. Tubuhnya kurus, tapi sikapnya tegap. Ia tidak pernah ikut mencemooh. Tidak ikut menatap sinis. Hari pertama Ratna duduk di sebelahku saat makan, aku hampir berdiri dan pergi. Tapi ia justru mendorong piringnya sedikit ke arahku. "Makan yang banyak," katanya datar. "Kamu kelihatan mau tumbang." Aku menggeleng cepat. "Nggak apa-apa." Ratna menatapku lama. "Di sini, yang sok kuat biasanya mati pelan-pelan." Kalimatnya dingin, tapi anehnya... jujur. Sejak itu, ia sering berada di dekatku. Tidak banyak bicara. Hanya memastikan aku makan. Kadang memberiku sisa sabun. Kadang mengingatkanku untuk tidak memancing perhatian. "Jangan berdiri terlalu tegak," katanya suatu kali. "Tapi jangan juga terlalu menunduk. Mereka bisa mencium rasa takut." Aku menuruti. Sedikit demi sedikit, aku belajar bertahan. Namun bukan berarti aku kebal. Malam adalah saat terburuk. Saat lampu dipadamkan, dan suara tangisan lirih terdengar dari berbagai sudut. Aku sering memeluk lutut, menatap gelap, dan bertanya pada diriku sendiri. Bagaimana hidupku bisa berakhir di sini? Bayangan masa lalu datang tanpa diundang. Wajah Raka. Hari-hari biasa yang dulu terasa membosankan, kini terasa seperti surga. Aku membenci diriku sendiri karena masih mengingatnya. Tapi lebih dari itu, aku membenci kenyataan bahwa ia tak ada di sini. Malam itu, saat aku hampir terlelap, suara Ratna membangunkanku. "Selira." Aku membuka mata. "Kamu jangan patah," katanya pelan. "Aku tau kamu bukan orang jahat." Dadaku menghangat, perih. "Aku nggak tau kenapa semua ini terjadi," bisikku. Ia menatap langit-langit sel yang gelap. "Kadang hidup nggak butuh alasan buat menghancurkan orang baik." Aku memejamkan mata, menahan air mata, lalu menarik napas panjang yang terasa berat di d**a. Suara-suara di blok tahanan mulai mereda, digantikan dengusan napas para penghuni yang terlelap kelelahan. Lampu redup di lorong menyala setengah, membuat bayangan jeruji jatuh miring di lantai seperti garis-garis penjara yang tak berujung. Aku memeluk lutut, mencoba menghangatkan diri. Namun justru di saat sunyi itu, pikiranku semakin bising. Wajah Raka kembali muncul. Bukan yang marah, bukan yang dingin, tapi wajahnya yang menatapku dan tak sempat kuartikan. Campuran antara bersalah... dan tekad. Aku menelan ludah. Apa yang sebenarnya ia cari? Apakah ia datang hanya karena rasa bersalah? Atau... karena sesuatu yang belum kuketahui? Pikiranku melayang pada satu ingatan yang sejak tadi berusaha kutepis. Wajah perempuan itu. Perempuan yang sering datang ke rumah mertuaku dengan senyum manis dan langkah percaya diri. Dia selalu berpakaian rapi, wangi, dan terlihat begitu... pantas. Dia atang bukan sebagai tamu asing. Melainkan seperti seseorang yang sudah diterima sepenuhnya. Aku ingat betul pertama kali melihatnya duduk di ruang tamu, tertawa kecil bersama ibu mertua. Tangannya memegang cangkir teh seolah itu rumahnya sendiri. Sementara aku, sang istri sah, hanya berdiri di dapur... menyuguhkan minuman, lalu kembali menghilang. "Ini anaknya teman lama Mama," kata mertuaku waktu itu, sambil tersenyum penuh arti. "Namanya Livia." Raka hanya mengangguk. Namun matanya tak pernah lepas dari perempuan itu. Sejak hari itu, Livia sering datang. Kadang sendiri, kadang bersama keluarga. Mereka pergi bersama. Ke acara keluarga, ke rumah saudara, bahkan sekadar makan di luar. Aku jarang diajak. Kalau pun ikut, aku lebih sering berjalan beberapa langkah di belakang, seperti bayangan yang tak ingin dilihat. Yang paling menyakitkan bukan kehadirannya, tapi caranya diterima. Aku ingat suatu sore, saat aku baru pulang dari pasar dan mendengar suara dari ruang tengah. Aku berhenti di balik pintu, tidak berniat menguping. Sampai namaku disebut. "Raka itu kasihan," suara ibu mertuaku terdengar jelas. "Istrinya begitu-begitu saja. Sudah lama menikah, tapi belum juga hamil." Aku menahan napas. "Nak, Livia itu cocok sekali sama kamu," lanjutnya. "Pendidikannya bagus, pembawaannya pantas. Kalau kamu mau, mama bisa atur semuanya." Ada jeda. Lalu suara Raka, pelan tapi tegas. Terlalu pelan untuk dibantah, terlalu jelas untuk diabaikan. "Kita lihat nanti, Ma." Hatiku runtuh saat itu. Bukan karena Raka setuju, tapi karena dia tidak menolak. Aku berdiri di balik pintu, tangan gemetar, dan d**a terasa sesak. Di momen itulah aku sadar. Aku sedang disisihkan, perlahan tapi pasti. Aku, istrinya, mulai dianggap sebagai kesalahan yang bisa diperbaiki. Dan sekarang, di balik jeruji besi ini, kenangan itu kembali menghantamku tanpa ampun. Aku menutup wajah dengan kedua tangan, napasku tercekat. Jika benar semua ini berawal dari sana... Jika benar aku disingkirkan demi membuka jalan bagi perempuan itu... Maka mungkin aku tidak hanya dikhianati. Aku dikorbankan. Tiba-tiba terdengar langkah kaki di lorong. Bukan langkah petugas ronda malam. Terlalu pelan. Terlalu hati-hati. Langkah itu berhenti tepat di depan sel kami. Aku menahan napas. Suara seseorang berdehem pelan di balik jeruji. "Selira..." panggilnya nyaris tak terdengar. Aku menegakkan badan. Jantungku berdegup keras, seperti ingin menerobos d**a. "Besok kamu akan menjalani sidang pertama," lanjut suara itu, datar tetapi mengandung tekanan. "Siap-siap saja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD