Hansel begitu terkejut mengetahui ada orang yang mengganggu kesenangannya, padahal sedikit lagi, Hansel pasti bisa memiliki Sena.
Namun, pria itu datang, selingkuhan Sena, pria kaya yang sudah menatapnya dengan penuh amarah itu.
Ya, kemarin di klub malam, Hansel sudah setengah mabuk dan suasana di klub malam yang gelap membuat Hansel tidak mengenali Xander. Tapi kali ini, Hansel mendadak mengingat pria itu.
"Kau ...."
"b******k kau, Hansel!"
Xander sama sekali tidak membiarkan Hansel berbicara karena Xander langsung menyambar tubuh Hansel, lalu menarik pria itu dan menghajarnya.
Buk!
Satu pukulan dilepaskan ke pipi Hansel sampai tubuh Hansel terhuyung.
"Auw, Sialan!"
"Kau yang sialan, berani sekali kau menyentuh Sena!"
Buk!
Pukulan kedua dilepaskan lagi ke pipi Hansel sampai Hansel yang tidak siap pun kembali terhuyung.
"Auw! Sena adalah kekasihku, aku berhak atas dia!" seru Hansel membela diri.
"Berhak atas dia? Dalam mimpimu, Hansel Prawira!" geram Xander lagi sebelum ia kembali melayangkan tinjunya beberapa kali.
Sena yang melihatnya masih menggeleng antara lega, takut, gemetar, tapi juga tidak tega melihat Hansel dipukuli.
Setidaknya, perasaannya yang sejak tadi seperti ingin mati pun perlahan luruh. Sena menarik napas lega dan baru kali ini Sena sangat bahagia atas kehadiran Xander.
Sena pun buru-buru membenarkan posisi kaosnya dan dengan air mata yang tetap berlinang, Sena memaksa dirinya untuk bangkit dari ranjang.
"Cukup! Hentikan! Jangan pukuli Hansel lagi! Cukup!" seru Sena sambil mencoba menarik lengan Xander.
Namun, Xander mengempaskan tangan Sena. "Minggir, Sena! Biarkan aku menghajar pria b******k ini!"
Sena menggeleng. "Tidak! Jangan pukul lagi!" pekik Sena yang akhirnya memeluk lengan Xander begitu erat agar Xander berhenti.
Awalnya Xander masih bertekad menghajar Hansel yang sudah babak belur itu, tapi entah mengapa, melihat Sena yang begitu kukuh menghentikannya membuatnya menurut begitu saja.
"Ck, bereskan dia, Henry!" titah Xander akhirnya sambil melirik Henry yang masih berdiri di ujung pintu.
Henry dan dua anak buah pun langsung masuk untuk memapah Hansel bangun, sedangkan Sena masih menatap Hansel dengan air mata yang berlinang.
Hansel sendiri sudah terlihat begitu kacau, tapi ia masih bisa mengangkat wajahnya menatap Sena.
"Jadi kalian benar-benar selingkuh, hah? Kau tidak mau melayani aku, tapi kau memeluknya begitu erat." Hansel melirik pelukan Sena ke lengan Xander dengan penuh amarah sampai Sena refleks menarik tangannya lepas dari Xander.
"Tidak, Hansel! Tidak!" Sena masih mencoba membela dirinya.
Namun, belum sempat Sena melanjutkan ucapannya, mendadak Xander sudah menyahutinya.
"Tidak perlu banyak bicara dengannya, Sena! Dan dengarkan aku, Hansel Prawira! Aku tidak peduli apa pun yang kau lakukan dengan para wanitamu di luar sana, tapi jangan pernah mengganggu Sena lagi! Jangan pernah berharap kembali padanya atau menyentuhnya lagi karena dia adalah milikku! Sena Monela adalah milikku!"
Suara tegas Xander pun langsung membuat Hansel tersentak sampai ia menatap Sena dengan begitu kecewa. Sena kembali menggeleng, namun Sena tidak punya waktu untuk bicara lagi karena dengan cepat, Henry dan para anak buah membawa Hansel keluar dari kamar.
Sena yang ingin ikut keluar pun ditahan oleh Xander dan Xander mencekal lengan wanita itu.
"Akhh, lepaskan aku!" pekik Sena.
"Mau ke mana kau?"
"Aku mau bicara dengan Hansel!"
"Bicara dengan Hansel? Apa kau tidak sadar kalau dia baru saja berusaha melecehkanmu, hah?"
"Aku tetap harus bicara dengannya. Dia itu hanya pria baik yang terlalu kecewa dan sakit hati sampai menjadi seperti ini, jadi jangan memfitnahnya seperti tadi. Wanita apa yang kau katakan? Dia tidak pernah bersama wanita lain. Dan aku juga bukan milikmu jadi jangan sembarangan bicara. Sekarang lepaskan aku!" seru Sena sambil terus menarik tangannya dari Xander, tapi Xander terus menahannya.
"Sial! Aku tidak akan melepaskanmu karena kau memang milikku, Sena! Tapi aku terkejut sekali kau masih bisa membelanya, Sena. Dengar ya! Kalau pria itu memang baik, dia tidak akan mencari alasan untuk melakukan sebuah kejahatan. Apa yang dia lakukan barusan itu sangat b******k, Sena. Bahkan dia sudah merencanakan ini sejak kemarin."
Xander menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Hansel yang mabuk di klub malam, namun Sena terus menggeleng tidak percaya.
"Dia juga berciuman dengan wanita lain dan entah apa lagi yang mereka lakukan di dalam mobil itu. Dan kau masih menganggap pria seperti itu baik, hah?" imbuh Xander.
"Tidak! Kau bohong!" sembur Sena begitu mendengar cerita menyakitkan dari Xander. "Kau bohong! Berhenti menjelekkan Hansel karena dia sama sekali tidak seperti itu!"
"Kau pikir apa untungnya bagiku memfitnah Hansel, hah?"
"Aku tidak tahu mengapa kau melakukannya, tapi kau pasti hanya ingin menyakiti hatiku? Kau baru bisa bahagia setelah menyakiti aku kan? Hansel itu pria yang baik dan sekali lagi aku tegaskan bahwa dia melakukan semua ini karena cemburu! Dia mencintaiku! Dia tidak mungkin selingkuh dariku! Dan dia juga tidak pernah minum apalagi sampai masuk ke klub malam seperti yang kau katakan, aku sudah bersamanya lama sampai aku begitu mengenalnya!"
Xander yang mendengarnya langsung tertawa kesal. "Kau benar-benar wanita bodoh, Sena. Tidak perlu menegaskan padaku berapa lama kalian sudah bersama, karena itu malah membuatmu terlihat makin bodoh, Sena. Begitu lama kau bersamanya, tapi kau tidak tahu seperti apa pria yang kau cintai itu sebenarnya."
"Dia sama sekali bukan pria baik yang harus kau tangisi seperti ini. Justru seharusnya kau berterima kasih padaku karena telah menghindarkanmu dari pria b******k bermuka dua seperti Hansel!" imbuh Xander dengan geram.
Namun, Sena sudah menutup satu telinganya sambil terus menggeleng dan terus menarik lengannya yang lain dari Xander, walaupun ia tidak berhasil juga karena Xander menekannya begitu erat sampai mungkin saat ini lengan Sena sudah berbekas.
"Cukup, jangan bicara lagi! Aku tidak mau mendengarnya! Bisa-bisanya kau mengatakan dia bukan pria baik lalu apa kau sendiri adalah pria baik? Kau bahkan lebih b******k darinya. Kau menculikku dan menodaiku dengan paksa. Kau memintaku menanggung kesalahan yang sama sekali tidak pernah aku buat. Kau membuatku kehilangan pekerjaanku dan semuanya. Apa kau itu orang baik, hah?"
"Hanya karena pernah menyelamatkanku tidak membuatmu lantas menjadi pria baik, Alexander Sagala! Aku tetap membencimu setengah mati jadi menyingkirlah dari hidupku selamanya!" bentak Sena begitu ngotot sampai urat lehernya tercetak jelas.
Xander yang mendengarnya pun terdiam sejenak namun ia juga menatap Sena dengan tatapan yang sama, tatapan penuh kebencian pada wanita kurang ajar yang sudah berani membentaknya seperti ini.
"Dasar wanita yang tidak sopan dan tidak tahu berterima kasih. Aku sudah salah menyelamatkanmu karena sepertinya kau lebih suka dilecehkan oleh pria b******k itu kan?" desis Xander di depan wajah Sena.
"Aku memang tidak sopan. Aku juga sudah bilang aku tidak akan berterima kasih pada pria yang sudah menghancurkan hidupku. Dan apa? Aku lebih suka dilecehkan oleh Hansel? Kalau iya, kenapa? Itu urusanku kan? Sekalipun aku berakhir tidur dengan Hansel, itu juga urusanku kan? Itu tidak ada hubungannya denganmu! Mengapa kau harus terus datang dan mencampuri hidupku, hah? Mengapa?" pekik Sena lagi yang sebagian suaranya sudah ikut tertelan lagi.
Sungguh, bukannya Sena tidak tahu berterima kasih, bahkan Sena ingin mengatakan terima kasih tadi, tapi nyatanya semua sikap yang ditunjukkan oleh Xander membuat Sena mengurungkan niatnya.
Ditambah semua ucapan Xander yang menjelekkan Hansel yang sampai detik ini masih belum bisa Sena terima.
Semua rasa terima kasihnya pun meluap begitu saja. Dan seandainya boleh memilih, Sena lebih memilih tidak pernah bertemu dengan Xander saja.
Xander sendiri yang mendengar ucapan Sena pun lagi-lagi terdiam. Xander mengamati lekat-lekat wajah cantik yang masih berlinang air mata itu.
Ada luka di sana, ada kesedihan dan kekecewaan. Dan semua itu tidak hanya terlihat dari wajah dan tatapan mata Sena namun juga dari suara Sena yang bergetar, sampai hati Xander pun terasa seperti tertusuk sesuatu.
Xander tidak menyukai Sena yang seperti ini, melawannya, membentaknya dan mengatakan membencinya.
Walaupun memang wajar saja Sena membencinya, tapi sikap Sena ini sudah melukai harga diri Xander sampai membuat Xander merasa buruk dan tidak diinginkan.
Dalam hati, Xander merasa Sena adalah wanita yang bodoh. Tapi sekali lagi Xander tegaskan bahwa Sena sekarang adalah miliknya. Hanya Xander yang boleh memperlakukan Sena sesuka hati.
Tangan Xander pun akhirnya lepas dari lengan Sena, namun pria itu malah mencengkeram rahang Sena, memaksa wanita itu menatapnya dan mendengarkannya.
"Dengar, Sena! Tidak peduli apa pun yang kau katakan, aku tidak akan pergi semudah itu. Dan aku juga tidak akan berhenti mengusik hidupmu karena kau adalah milikku. Hanya aku yang berhak atasmu dan hanya aku yang boleh membuatmu menderita, Sena Monela!" kecam Xander mempertahankan harga dirinya.
"Dasar pria iblis!" umpat Sena.
"Iblis yang menyelamatkan hidupmu?" ujar Xander dingin.
Sena hanya menatap datar pada Xander. "Aku tidak akan menyerahkan hidupku padamu. Aku akan menyelamatkan diriku sendiri!" ujar Sena dengan arogan.
"Huh, kita lihat saja nanti. Aku punya banyak cara untuk membuatmu bertekuk lutut dan memohon padaku," seru Xander dengan penuh rencana.