Jangan Mencampuri Urusan Orang Lain

1252 Words
"Kalian semua b******k! b******k semuanya!" Sena tidak berhenti mengumpat sambil memunguti barangnya yang sudah dilempar tidak karuan keluar dari rumah. Sesekali air mata Sena akan jatuh dan buru-buru ia menghapusnya. Sesekali juga, Sena akan mengomel dan marah-marah hanya untuk melampiaskan semua kekesalan dalam hatinya. Namun dengan telaten, Sena menyusun kembali semua barang ke tempatnya semula di dalam rumah, walaupun ternyata ada beberapa barang yang sudah tidak utuh, entah itu pecah sedikit atau rusak. Dan untuk sesaat, Sena pun kembali melow. "Tidak Giana, tidak pria itu, mengapa semua orang begitu suka menyiksaku? Bahkan sekarang aku sudah tidak punya Hansel untuk tempatku berkeluh kesah." Sena mengembuskan napas panjangnya dan kembali menyusun barangnya yang begitu banyak dan begitu tidak beraturan. Sampai tidak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Awalnya Sena hanya melirik ke tas selempangnya, tempat ponselnya berada, namun Sena tidak berniat mengangkat teleponnya karena ia tidak sedang menunggu telepon dari siapa pun. Namun, karena ponselnya terus berbunyi, Sena pun akhirnya mengambilnya dari dalam tas dan seketika Sena langsung memekik senang karena melihat nama Hansel di sana. Dengan cepat, Sena pun mengangkat teleponnya dengan senyuman yang mendadak terpancar di wajahnya, padahal baru saja ia masih melow dan putus asa. "Halo, Hansel? Akhirnya kau meneleponku juga, Hanse. Aku merindukanmu, Hansel," seru Sena begitu ia mengangkat teleponnya. "Sena Sayang, aku juga merindukanmu," sahut Hansel dengan suara sengau yang membuat Sena pun mengernyit. Perlahan senyuman Sena sedikit memudar berganti ekspresi cemas membayangkan apa yang sedang terjadi pada Hansel sampai suaranya seperti itu. Dan Sena pun makin mengernyit saat mendengar suara musik yang begitu keras sebagai background Hansel. Entah Hansel ada di mana sekarang, namun mendadak Sena sangat penasaran. "Hansel, kau ada di mana sekarang? Apa kau mau kita bertemu? Kita bicara langsung saja, Hansel. Tapi ... suara musik di belakangmu itu keras sekali, Hansel. Kau ada di mana sekarang?" ulang Sena lagi yang sama sekali tidak berpikir bahwa Hansel ada di klub malam karena memang selama ini yang Sena tahu, Hansel adalah pria yang sangat baik. Sena tahu Hansel tinggal di rumah kos bersama para teman prianya dan mereka sering pergi bersama tapi itu pun Hansel selalu mengaku mereka pergi bermain game bersama atau nonton bersama. Hansel pun tidak pernah merokok ataupun minum alkohol di depan Sena, walaupun sebenarnya Hansel melakukan semua itu di belakang Sena. Hansel dan kedua temannya yang mendengar ucapan Sena pun hanya saling melirik karena Hansel sudah menyalakan speakernya sehingga kedua temannya bisa mendengar jelas suara Sena saat ini. Bukan hanya mereka, tapi Xander yang masih duduk di sana sambil meneguk minumannya pun bisa mendengar suara Sena, walaupun kadang suara Sena timbul tenggelam teredam oleh suara musik yang keras. Namun, Xander bisa mengenali pasti kalau itu adalah suara Sena dan entah mengapa Xander tidak menyukainya. Entah Xander tidak menyukainya karena ia sedang kesal pada Sena atau ia tidak suka karena Sena sedang dipermainkan saat ini. Sena sendiri yang tidak kunjung mendapat jawaban Hansel pun kembali bertanya. "Hansel, katakan kau ada di mana? Apa kau mau aku ke sana, Hansel?" Namun, Hansel terlihat tersenyum puas mendengarnya dan memberi kode membanggakan diri sendiri pada kedua temannya, bahwa ternyata benar kalau Sena masih mencintainya. "Ah, Sayang ... aku di tempat makan dan sedang ada musik live di sini," dusta Hansel dengan begitu fasih tanpa jeda. Xander yang mendengarnya pun tertawa kesal. Sepertinya Hansel sudah terlatih untuk berbohong. Sena sendiri yang mendengarnya hanya mengangguk. "Benarkah? Apa kau akan pulang malam, Hansel? Jangan pulang terlalu malam, kau kan naik sepeda motor, aku tidak mau kau masuk angin. Apa kau sudah makan, Hansel? Makanlah dulu, aku tidak mau kau sakit." Semua ucapan Sena menunjukkan bahwa wanita itu begitu mencintai dan mempedulikan Hansel sampai Xander pun mau muntah dibuatnya. Dasar wanita bodoh yang lebay! rutuk Xander dalam hatinya. Rasanya Xander ingin menyudahi mendengar ini, namun entah mengapa, tubuhnya ternyata belum mau beranjak juga dari sana sampai akhirnya Xander harus mendengarkan percakapan itu dari awal sampai selesai. "Aku sudah berpikir, Sena. Dan aku juga mau berbaikan denganmu," kata Hansel dengan suara yang tetap sengau dan dengan kepala yang sudah oleng kesana kemari namun ia masih sadar. Sena yang mendengarnya pun begitu senang sampai ia mengabaikan suara sengau itu. "Syukurlah, Hansel! Syukurlah kau mau memberiku kesempatan, Hansel. Aku mencintaimu, Hansel. Aku tidak mungkin mengkhianatimu. Aku akan menceritakan semuanya padamu, tapi tidak di telepon. Aku mau bertemu denganmu, Hansel. Aku merindukanmu," seru Sena yang sedang luar biasa bahagia sekarang. Hansel sendiri terkekeh mendengarnya dan kedua temannya pun saling melirik dengan senang. Sedangkan Xander tetap menegang dengan rahang yang mengeras. "Kalau begitu besok kita bertemu, Sena. Aku akan menemuimu di rumahmu setelah aku pulang kerja," seru Hansel lagi. Sena pun mengangguk dengan penuh syukur. "Tentu, Hansel. Aku akan menunggumu. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu juga dan kita makan bersama di rumahku ya." "Hmm, boleh juga, Sayang. Aku mau kau melayaniku besok," sahut Hansel dengan penuh maksud. Namun, Sena yang terlalu polos dan terlalu bahagia hanya mengangguk yakin. "Tentu saja, Hansel. Tentu saja. Aku tidak sabar lagi bertemu denganmu. Atau bagaimana kalau besok pagi saja aku ke kantormu?" "Tidak, Sena. Tidak di kantor. Aku akan ke rumahmu besok malam. Tunggu aku, Sayang." "Aku pasti akan menunggumu, Hansel. Sekarang kau pulang dan istirahatlah, Hansel. Hati-hati menyetirnya ya," ucap Sena lagi dengan penuh perhatian. Mereka pun saling berpamitan lalu menutup teleponnya dan Sena tidak berhenti tertawa sambil mengucap syukur malam itu. "Oh, bukankah orang bilang selalu ada hal baik di dalam hal buruk sekalipun? Kurasa inilah hal baiknya, akhirnya aku tahu kalau Hansel benar-benar mencintaiku sampai dia bisa menerima aku apa adanya," ucap Sena begitu yakin dan ia pun tidak berhenti tertawa bahkan makin bersemangat menyusun barangnya. Sedangkan Hansel sendiri masih terkikik bersama teman-temannya saat ponselnya berbunyi dan kali ini Bos wanitanya menelepon. Hansel berbicara dengan begitu genit di telepon sampai kedua temannya itu hanya bisa menggelengkan kepala mendengarnya dan Hansel pun terus tertawa setelah menutup teleponnya. "Si seksi tidak tahan tidak bertemu denganku dan dia akan menjemputku ke sini." "Eh, benarkah? Bosmu itu?" pekik salah satu teman Hansel. "Tentu saja! Siapa lagi? Dan sebagai karyawan yang baik, aku harus memberikan pelayan yang terbaik juga, siapa tahu setelah ini pangkat dan gajiku ikut naik! Haha!" Hansel tertawa keras sedangkan Xander yang mendengarnya malah makin panas. Sejak mendengar Sena mengatakan akan melayani Hansel, Xander sudah merasa kesal dan makin lama melihat kelakuan Hansel membuat Xander tidak tahan lagi. Xander meneguk minumannya lagi dan ia tidak peduli lagi ke mana Hansel dan kedua temannya itu pergi. Sampai akhirnya Xander yang merasa sudah cukup pun keluar dari klub itu sambil menelepon Henry untuk menjemputnya di depan pintu. Namun, begitu Xander keluar dari sana, Xander langsung disuguhi pemandangan yang menjijikkan. Xander melihat Hansel dan seorang wanita dengan gaun mini nampak sedang berciuman dengan begitu mesra. Bahkan, Hansel nampak masuk ke mobil wanita itu sambil mereka tetap melanjutkan aksinya. Xander pun mengepalkan tangannya geram. Sebenarnya pemandangan ini biasa saja ia lihat, tapi karena pria itu adalah Hansel yang baru saja mengajak Sena berbaikan, entah mengapa Xander begitu gatal ingin menghajar pria b******k itu. Namun, Xander mencoba tidak peduli dan langsung masuk ke mobilnya. "Jalan, Henry!" "Baik, Pak! Tapi ... bukankah pria itu adalah Hansel Prawira, kekasihnya Sena itu? Apa dia sedang selingkuh sekarang?" tanya Henry sambil mengernyit menatap mobil di belakangnya. Ucapan yang biasa saja, namun mampu membuat Xander menjadi kesal luar biasa. "Henry, bisakah kau menyetir saja? Jangan berkomentar dan jangan mencampuri urusan orang lain! Sekalipun kau melihatnya, pura-pura tidak tahu saja karena itu sama sekali bukan urusan kita!" seru Xander tegas yang sebenarnya sedang memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak mencampuri urusan Sena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD