Xander hanya berdiri mematung mendengar ucapan Sena. Sungguh, awalnya Xander begitu tergerak mendengar curahan hati Sena, apalagi ternyata wanita itu juga adalah korban dari Giana. Entah wanita macam apa Giana itu sebenarnya.
Namun, saat Sena mulai membahas tentang keberuntungan adik Xander, emosi Xander pun kembali terlecut dan rahangnya mengeras.
"Sial, Sena! Bisakah kau tidak membahas tentang adikku, hah? Jangan berkomentar kalau kau sama sekali tidak mengerti apa yang adikku alami! Dan kalau kau merasa adikku lebih beruntung, coba saja menggantikan tempatnya, Sena!"
Xander menggeram marah dan menatap Sena dengan begitu tajam sampai Sena pun membelalak melihatnya.
Lebam di wajah tampan Xander dan sedikit luka di sudut bibir pria itu benar-benar membuat wajah itu makin menakutkan bagi Sena, walaupun tetap ketampanannya tidak berkurang sama sekali.
Seketika suasana yang tadinya sudah syahdu pun mendadak menegangkan lagi karena ekspresi wajah Xander yang juga berubah.
Sena pun menahan napasnya sejenak. "Aku ... aku memang tidak tahu apa yang dia alami, tapi aku benar-benar prihatin padanya," seru Sena gugup.
"Aku tidak butuh rasa prihatin darimu, Sena. Bahkan adikku juga tidak butuh dikasihani olehmu. Kau dan kakakmu memang sama saja! Aku yakin karakter kalian sama, hanya saja kau masih terus berpura-pura polos di depanku!" sahut Xander geram.
Sena menggeleng tak percaya mendengarnya. "Kau memang keterlaluan! Tidak hanya menyulitkan hidupku tapi kau juga selalu menghinaku! Kalau memang tidak ada hal baik yang bisa kau katakan, lebih baik pergi saja dari sini! Jangan menambah sakit hatiku dengan semua ucapan yang keluar dari mulutmu!"
"Huh, kau pikir aku suka di sini? Kalau bukan karena anak buahku yang melapor padaku kalau ada keributan di sini, aku juga tidak akan ke sini. Dan ternyata begitu tiba di sini, aku malah mendapat pukulan dari para pria b******k itu hanya karena menyelamatkanmu. Kau lihat wajahku, hah?" Xander sengaja memiringkan wajahnya agar Sena bisa melihat lebam di wajahnya.
"Tapi apa yang kudapat? Bahkan satu ucapan terima kasih saja tidak keluar dari mulutmu!" sembur Xander penuh amarah.
Sena kembali menegang, namun ia juga berusaha membela dirinya.
"Aku tidak pernah memintamu menolongku kan? Dan apa? Terima kasih? Apa kau pikir kau itu pantas mendapat ucapan terima kasih dariku? Terima kasih untuk apa? Terima kasih karena telah mengambil kehormatanku? Terima kasih karena sudah membuatku putus dari kekasihku dan menjadi pengangguran, hah? Bahkan lebam di wajahmu itu sama sekali tidak bisa menggantikan apa yang aku alami."
Sena mengembuskan napas kesalnya. "Sial, aku benar-benar tidak bisa bicara baik-baik denganmu. Tadinya kupikir asal kau menghentikan semuanya dan tidak mengusik hidupku lagi, aku bisa melupakan segalanya dan menerima kehancuranku sendiri, tapi aku salah Kau memang iblis, Pria b******k!"
"Dan kau tahu satu hal? Sekalipun kau menyayangi adikmu apa kau pikir yang kau lakukan padaku itu pantas? Kalau dia tahu kau melakukan ini apa kau pikir dia akan senang, hah? Kecuali kalau mungkin saja dia sama brengseknya denganmu!" imbuh Sena geram.
Walaupun Sena tahu kalau ucapannya mungkin menyakitkan, tapi Sena sama sekali tidak bisa menahan dirinya menghadapi pria tidak punya perasaan di hadapannya itu.
Xander sendiri sudah mengepalkan tangannya geram.
"Sena Monela, kau tahu kalau kau itu memang pantas ditampar, hah? Kalau kau pria pasti aku sudah menghajarmu sampai babak belur! Sekali lagi aku mendengar kau menghina adikku, aku tidak akan peduli meskipun kau seorang wanita! Dasar b******k!"
"Dan jangan harap aku akan menghentikan semuanya! Aku tidak akan berhenti mengusik hidupmu. Sekalipun kau sudah merasa menderita dan hancur, aku juga tidak akan pernah melepaskanmu sampai kau merasakan bagaimana rasanya di posisi adikku sekarang!" imbuh Xander lagi sebelum ia berpaling dan pergi begitu saja meninggalkan Sena.
Sena yang menatap punggung Xander pun tidak tahan lagi. Ia sudah bosan diancam dan beberapa kali ia mengalami ketakutan sendiri karena alasan yang tidak jelas.
Sena pun ikut mengepalkan tangannya dan berteriak kencang.
"Aku tidak takut padamu, Pria b******k! Aku tidak takut! Aku tidak salah dan aku tidak akan membiarkan hidupku hancur di tanganmu begitu saja! Dasar pria b******k! Aku membencimu, Alexander Sagala! Aku membencimu!" pekik Sena sakit hati.
Namun, Xander mengabaikannya dan masuk ke dalam mobilnya begitu saja lalu mobil itu langsung melaju kencang.
"Oh, sabar, Sena! Sabar! Tuhan menyayangimu. Ya, Tuhan menyayangimu. Sekalipun ini berat, kau pasti bisa melaluinya," seru Sena yang akhirnya ditinggalkan sendirian.
Sementara Xander sendiri tidak berhenti mengumpat dalam hatinya. Besar sekali keinginannya tadi untuk membungkam mulut Sena agar wanita itu tidak bicara lagi.
Tentu saja Xander kesal saat Sena mengumpatinya walau ia masih bisa mengabaikannya. Tapi kalau sudah menyangkut Andrew, Xander tidak bisa terima. Xander sangat tidak terima.
Namun, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa selain memendam kekesalannya.
"Sial!" Xander terus mengumpat dan terdiam dengan tatapan penuh amarah.
Henry sendiri yang sedang menyetir nampak melirik kaca spionnya karena bosnya itu terus diam.
"Apa Anda mau ke rumah sakit saja untuk mengobati luka Anda, Pak?"
"Apa yang mau diobati, Henry? Ini hanya luka kecil. Hatiku jauh lebih sakit saat wanita b******k itu menghina adikku."
Henry yang mendengarnya pun mengangguk dan terdiam.
"Bawa aku ke klub malam saja!" titah Xander akhirnya.
Henry kembali mengangguk dan akhirnya melajukan mobilnya ke sebuah klub malam tempat Xander biasa melampiaskan rasa kesalnya dengan minum.
Xander bukan pemabuk, namun ia membutuhkan alkohol untuk melampiaskan rasa lelahnya atau rasa kesalnya, apalagi sejak Andrew sakit.
Xander pun akhirnya masuk ke dalam dan ia pun langsung disambut oleh suara musik yang keras di dalam.
Beberapa orang pengunjung wanita yang datang ke sana nampak melirik penuh minat padanya namun Xander sama sekali tidak berminat. Tujuan Xander hanya minum dan menenangkan dirinya lalu pulang.
Namun, saat Xander sedang melangkah ke arah meja bar, seorang pria yang setengah mabuk mendadak menabraknya dengan keras.
Buk!
"Akhh! Kau tidak punya mata ya?" keluh pria itu yang memicingkan matanya menatap Xander. "Siapa kau? Sepertinya kau tidak asing!" tanya pria itu ragu.
Xander sendiri hanya terdiam menatap sosok pria yang ia kenal itu sebelum sedetik kemudian, dua orang teman menghampiri pria itu.
"Hansel! Astaga, dia sudah oleng! Apa dia menabrakmu, Pak? Maaf ya, Pak! Ayo kita ke meja bar saja!"
Dua orang itu membawa Hansel ke meja bar dan langsung duduk di sana.
Xander sendiri masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung para pria itu dan ya, pria mabuk itu adalah Hansel, pria yang sama sekali tidak dibayangkan oleh Xander bisa masuk ke tempat seperti ini.
"Bahkan pria itu terlihat begitu suci waktu itu," gumam Xander sambil tertawa kesal. "Benar-benar wanita bodoh!" rutuk Xander lagi sambil membayangkan Sena.
Xander pun ikut melangkah ke arah meja bar dan duduk tidak jauh di samping Hansel dan kedua temannya sampai Xander bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
"Jadi Sena itu maunya tidur dengan orang kaya saja. Buktinya dia tidur dengan pria itu tapi saat aku menyentuhnya saja dia menolakku. Dasar sok suci! Ini rekor terlamaku berpacaran dengan seorang wanita tanpa menyentuh lebih selain menciumnya di tangan, pipi, dan kening saja," keluh Handel yang mulai meracau.
"Haha, seperti pacaran anak SMP saja," celetuk salah seorang temannya.
"Ck, pokoknya itulah yang membuat aku sakit hati. Dia sama murahan seperti kakaknya!" seru Hansel lantang yang langsung membuat Xander menegang.
"Eh, tapi bukankah kau juga sudah dapat penggantinya? Bosmu yang seksi itu? Kalian terus pergi bersama untuk urusan di luar kantor kan?"
"Ah, Bosku itu memang super seksi dan minggu depan kami akan dinas ke luar kota lagi, hanya berdua saja."
"Wohoho, pastikan kalian tidur di satu kamar yang sama, Hansel."
"Itu sudah pasti. Dia juga menyukaiku, jadi tinggal tancap saja."
"Wah wah, enak sekali posisimu, Hansel."
"Ya, tapi aku masih tidak terima. Aku menjadi pria baik-baik selama ini karena kupikir Sena juga begitu. Aku bersamanya selama dua tahun tapi aku belum mencicipinya sama sekali. Aku tidak bisa seperti ini!"
"Kau serius dengannya kan, Hansel?"
"Tentu saja aku serius dengannya. Hanya saja aku tidak terima tidak bisa menikmatinya sama sekali," seru Hansel lagi sambil menggelengkan kepalanya mengusir rasa pusingnya.
Hansel masih cukup sadar walaupun kepalanya sudah pusing dan ia tidak terlalu mengingat wajah Xander tadi, jadi ia berlalu begitu saja.
"Lalu apa rencanamu, Hansel?" tanya seorang temannya lagi.
Hansel nampak menatap gelas minumannya lekat-lekat dan tersenyum sendiri.
"Sudah beberapa hari aku menghindarinya, dia pasti akan senang kalau aku minta berbaikan, tapi tentu saja syaratnya adalah ... dia harus melayaniku juga seperti dia melayani pria itu," seru Hansel penuh keyakinan.
Dan lagi-lagi Xander pun menegang mendengarnya sampai ia melirik Hansel dengan penuh kebencian. Bukan karena Xander mengkhawatirkan Sena. Xander hanya terkejut saat mengetahui ternyata kekasih Sena itu tidak sebaik yang terlihat dari luar.
"Malang sekali nasibmu, Sena Monela!" gumam Xander sambil meneguk minumannya dalam satu teguk.
**