Jantung Sena masih berdebar begitu kencang dan Sena membelalak lebar menatap pria b******k bernama Alexander Sagala yang entah dari mana datangnya dan mendadak menolongnya.
Xander sendiri melirik Sena sekilas sebelum ia kembali menatap pria mandor itu dengan penuh kebencian.
"Siapa yang mengijinkanmu menyentuhnya, Pria b******k!" desis Xander sambil mengempaskan tangan pria itu dengan keras.
Tadinya Xander masih berada di mobilnya bersama Henry saat anak buahnya menelepon untuk melaporkan bahwa ada yang mengobrak-abrik rumah Sena.
Xander pun meminta Henry segera melihat ke rumah Sena dan begitu mereka tiba barusan, Xander tidak bisa menahan emosinya melihat Sena yang diperlakukan kasar oleh pria b******k itu.
Bagi Xander, hanya dirinya yang boleh memperlakukan Sena seperti itu. Dan di sinilah Xander, secara tidak langsung menjadi penyelamat Sena malam ini.
Pria mandor itu nampak membelalak menatap Xander. "S-siapa kau? Jangan ikut campur urusan kami!"
"Urusan wanita ini adalah urusanku juga, jadi singkirkan tangan kotormu darinya!"
Dengan satu gerakan cepat, Xander pun langsung mencengkeram tangan pria itu yang masih menarik rambut Sena dan Xander pun memutar tangan itu sampai sang pria mandor merintih kesakitan.
"Akh, lepaskan aku! Akh!" rintih pria itu begitu keras.
Beberapa temannya yang lain pun langsung keluar dari rumah dan langsung membantu sang mandor.
"Siapa kau? Berani sekali mengganggu pekerjaan kami!" seru seorang pria yang langsung melayangkan tinjunya ke arah Xander.
Namun, Xander berhasil menghindar dan malah balik memukul pria itu sambil menendang sang mandor.
"Akh!"
Dalam sekejap keributan pun terjadi, pria mandor dan beberapa tukang yang lain menyerang bersamaan, sedangkan Xander dan beberapa anak buahnya yang muncul entah dari mana juga ikut melawan.
Sena sendiri hanya bisa terus melangkah mundur dengan gemetar dan ia pun berakhir dengan berdiri mematung di sana.
Kalau saja Xander tidak muncul, Sena pasti sudah berpikir kalau pria itu adalah dalang dari semua ini. Tapi Sena pun mendadak teringat bahwa sertifikat rumah dibawa oleh Giana untuk dijual.
"Pasti Giana yang melakukannya. Ya, Giana sudah berhasil menjual rumah ini pada Bos dari pria itu. Ya Tuhan, rumahku, apa yang harus aku lakukan," lirih Sena sambil tatapannya masih ikut mengarah kesana kemari melihat para pria itu yang masih berkelahi.
Para tetangga pun akhirnya ketakutan dan bersembunyi di rumah masing-masing.
Sampai tidak lama kemudian, perkelahian itu dimenangkan oleh Xander yang berhasil melumpuhkan empat orang pria yang mengobrak-abrik rumah Sena tadi.
"Pak Xander, Anda tidak apa?" Henry menatap Xander dengan wajah cemasnya.
Dengan napas yang masih tersengal, Xander pun menyentuh sudut bibirnya yang terluka dan tulang pipinya yang terkena pukulan.
"Aku tidak apa, Henry," jawab Xander singkat sebelum ia kembali menatap para pria itu.
"Sekali lagi kalian membuat ulah di sini, akan kupatahkan tangan kalian!" hardik Xander yang langsung membuat para pria itu ketakutan.
"Maaf, maafkan kami! Kami hanya menjalankan perintah. Rumah ini sudah dibeli oleh Bos kami dengan harga yang sangat mahal, karena itu Bos kami meminta kami mengosongkan rumah ini malam ini juga," jawab sang mandor dengan gemetar.
Xander yang mendengarnya pun mengernyit dan menoleh ke arah Sena yang masih berdiri tegang di sana.
"Bereskan mereka, Henry!" titah Xander pada Henry sebelum Xander pun menghampiri Sena di sana.
"Apa yang kau lakukan, Sena? Kau menjual rumah ini dengan harga mahal dan sekarang kau melarang mereka mengambil barangmu, apa yang ada di otakmu, hah?"
Sena hanya menggeleng mendengarnya. "Giana ... Giana yang melakukannya."
"Giana?"
"Malam itu dia tiba-tiba muncul di rumah dan membongkar laciku, aku tidak tahu apa yang dia cari sampai dia berhasil menemukan sertifikat rumah dan bilang akan menjual rumah ini. Pasti dia sudah berhasil menjualnya sekarang." Sena pun menutup wajah dengan tangannya dan berjongkok di sana sambil menangis.
Xander yang mendengarnya mengkerut tak percaya.
"Jadi kalian mau menjual rumah ini dan melarikan diri bersama? Jangan harap, Sena!" seru Xander sarkastik.
Namun, Sena langsung mendongak menatap Xander dengan emosional.
"Aku sudah bilang berkali-kali padamu kalau aku tidak ada hubungannya dengan Giana! Dia tidak pernah pulang dan setiap kali pulang dia hanya mencari masalah! Kalau memang aku mau menjual rumah ini dan melarikan diri, mengapa aku kembali lagi ke sini? Mengapa aku harus mencari kerja kesana kemari dengan susah payah, hah?" bentak Sena penuh emosi.
"Giana juga meninggalkanku. Aku sudah mengalami banyak hal sulit karena Giana dan tiba-tiba kau juga muncul untuk menambah penderitaanku," pekik Sena lagi sambil menangis emosional.
Xander pun sampai terdiam sejenak, mencoba memahami semuanya. "Jadi Giana juga meninggalkanmu? Katakan apa kau itu anak pungut, hah?"
Sena yang ditanya hanya menatap Xander frustasi tanpa menjawabnya lalu ia bangkit berdiri dan mulai memunguti barangnya.
Xander yang tidak dianggap pun kesal dan terus mengikuti Sena.
"Kau tidak dengar aku sedang bertanya padamu, hah? Kau punya mulut kan, Sena? Jawab aku!"
"Aku adik kandungnya Giana, tapi kau salah besar kalau berpikir menyiksaku demi menangkap Giana. Aku tidak tahu dia ada di mana dan dia juga tidak akan peduli kalau aku menderita. Bahkan kalau aku mati pun, belum tentu dia akan datang demi melihatku untuk yang terakhir kalinya. Jadi percuma saja kau melakukan semua ini padaku."
"b******k!" umpat Xander kasar saat mendengar pengakuan Sena.
Sena pun hanya bisa menatap Xander dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
"Karena itu, hentikan semua ini! Kumohon, Alexander, Xander, atau siapa pun namamu. Kita tidak saling mengenal jadi tolong jangan usik hidupku lagi. Aku akan menganggap semuanya tidak terjadi dan aku akan mengulang semuanya dari awal, tapi tolong jangan mempersulit hidupku lagi!"
Sungguh, Sena sudah bertekad untuk tidak menangis dan tidak memohon di depan pria b******k itu karena ia tidak mau pria itu merasa menang.
Sena harus menunjukkan kalau ia adalah wanita kuat yang tidak mudah ditindas, namun nyatanya ia tidak bisa, sampai akhirnya ia memohon juga dengan air mata yang berlinang.
"Aku tahu kau punya dendam pada Giana yang sudah menipu adikmu dan aku hanya bisa minta maaf atas nama Giana. Maafkan kakakku atas apa yang sudah dia lakukan," seru Sena dengan nada yang sedikit melemah.
"Aku turut prihatin walaupun aku tidak tahu siapa adikmu dan aku juga tidak tahu apa yang sudah Giana lakukan padanya. Tapi percayalah kalau sesulit apa adikmu saat ini, dia masih beruntung memiliki kakak yang begitu menyayanginya sepertimu."
"Tidak seperti aku yang sama sekali tidak bisa mengandalkan kakakku. Sungguh, di balik kesulitannya, adikmu masih lebih beruntung daripada aku," imbuh Sena dengan rasa iba, tapi juga rasa frustasi di hatinya.
**