Insiden yang Tidak Terduga

1230 Words
Sena masih mematung mendengar ucapan wanita di hadapannya. Apa ia salah dengar? Sena yang sebelumnya merasa ia begitu beruntung, tapi sekarang mendadak ia merasa begitu sial. Seolah diangkat tinggi ke langit dengan diterima bekerja dan ia dihempaskan lagi ke bumi dengan langsung dipecat lagi pada hari pertamanya bekerja. "Anda ... Anda tidak salah kan, Bu? Aku bahkan belum mulai bekerja dan aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Bahkan aku datang begitu pagi hari ini." "Kami tahu, Nona Sena. Tapi ini bukan kesalahanmu, ini kesalahan kami. Maaf ya, tapi posisi admin gudang sudah terisi sekarang." "Kalau posisi lain saja bagaimana, Bu? Aku bisa menjadi apa saja. Tidak apa, Bu." "Maaf, Nona, interview sudah kami tutup karena semua lowongannya sudah terisi. Permisi!" Manager HRD pun meninggalkan Sena dan Sena pun kembali frustasi dibuatnya. "Bu, tunggu, Bu. Aku bisa bekerja apa saja, tolong jangan seperti ini," lirih Sena yang kembali putus asa. Sungguh, Sena yang awalnya bersemangat pun mendadak melow lagi. Sena pun akhirnya melangkah gontai keluar dari ruangan itu saat tiba-tiba ia melihat sosok Hansel di lobby. Hansel terlihat sedang berjalan bersama seorang wanita yang nampak modis dan mereka pun tertawa bersama. Sena yang begitu bahagia melihat Hansel pun refleks menghampiri Hansel. "Hansel, aku senang sekali akhirnya bertemu denganmu lagi. Ponselmu tidak pernah aktif, Hansel. Aku mohon maafkan aku dan aku mau bicara denganmu." Sena menghambur memeluk Hansel sampai Hansel menoleh ke sekeliling dengan risih. "Sena, apa yang kau lakukan? Mengapa kau ada di sini? Apa kau tidak lihat kalau aku sedang bekerja?" Mendadak Hansel berbicara dengan nada tinggi sambil melepaskan pelukan Sena begitu saja sampai Sena pun menatapnya tidak percaya. "Hansel, aku merindukanmu, Hansel. Aku mau minta maaf padamu, Hansel." Sena masih berusaha bicara dengan Hansel namun wanita di samping Hansel langsung mengernyit. "Siapa dia, Hansel?" "Ah, dia bukan siapa-siapa, Bu." "Baiklah, segera suruh dia pulang sebelum dia membuat keributan di sini." "Baik, Bu! Maafkan aku!" Wanita modis itu mengangguk dan segera pergi dari sana. Namun, Sena terus menatap punggung wanita modis itu sejenak sebelum ia kembali mengalihkan tatapannya pada Hansel dengan kecewa. "Hansel, tega sekali kau bilang aku bukan siapa-siapa? Dan siapa wanita itu, Hansel?" tuntut Sena meminta penjelasan. "Ck, Sena, bisakah kau berhenti menghubungiku? Aku lelah, Sena. Pikiranku tidak pernah benar. Tolong jangan menambah beban pikiranku dengan mendadak muncul di sini. Wanita itu bosku dan aku bisa dipecat kalau membuat keributan. Aku ... aku masih kecewa padamu, Sena!" seru Hansel sebelum ia pergi meninggalkan Sena begitu saja. "Hansel! Hansel!" panggil Sena yang seketika kembali mematung di sana. Bagaimana bisa pertemuan dengan Hansel yang sudah ia nantikan berlalu begitu saja? Bukan hanya tidak mau mendengar penjelasannya, Hansel bahkan meninggalkannya dan meminta Sena agar berhenti menghubunginya? "Apa kau tidak merasa keterlaluan, Hansel? Apa hubungan kita selama dua tahun tidak ada artinya bagimu?" Hati Sena rasanya kembali sakit dengan semua kejadian ini. Namun, Sena mencoba tetap bangkit. Mungkin memang Hansel butuh waktu dan Sena akan memberinya waktu. Sena pun akhirnya fokus untuk mencari pekerjaan saja, namun sialnya setelah berkeliling beberapa hari, ia berakhir dengan terus ditolak dan Sena pun mulai frustasi. Dan inilah yang Xander inginkan. Rasa frustasi, rasa putus asa. Tanpa Sena sadari, Xander terus memantaunya beberapa hari ini dan ia begitu puas melihat Sena menderita. Sambil terus tersenyum puas, Xander pun meraih ponselnya dan menelepon Sena untuk merayakan kemenangannya. Sena sendiri yang tadinya masih duduk di sebuah bangku taman pun langsung meraih ponselnya begitu ponsel itu berbunyi. Sena sempat mengernyit menatap nomor yang tidak dikenal itu, namun ia segera mengingat kalau nomor itu adalah nomor pria b******k itu. Untuk sesaat, Sena berpikir untuk mereject teleponnya saja, namun akhirnya ia mengurungkan niatnya dan mengangkat teleponnya. "Apa yang kau mau, Pria b******k?" sembur Sena begitu mengangkat teleponnya. Xander yang mendengarnya pun sedikit terkejut karena makin hari Sena terlihat makin garang. "Oh, kau masih bisa marah rupanya. Apa yang kau alami belum cukup menyedihkan, Sena?" Sena yang mendengar pertanyaan itu pun langsung membelalak. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya ia menyadari maksud ucapan Xander. "Apa? Apa yang aku alami? Bagaimana kau tahu apa yang aku alami? Apa kau juga ada hubungannya dengan semua ini, hah?" Xander menyeringai. "Bukankah sudah kubilang kalau tidak ada yang tidak bisa kulakukan, Sena? Dan kau ingat aku pernah bilang akan menghancurkan hidupmu kan, Sena? Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, jadi ... bersiaplah dengan kejutan-kejutanku yang lain, Sena!" imbuh Xander dengan santainya. "Kau memang benar-benar b******k ya. Apa kau pengangguran dan tidak punya pekerjaan sampai harus terus mengurusi hidupku, hah? Berhenti mengusikku dan biarkan aku hidup tenang!" teriak Sena kesal. Xander pun tidak menjawab lagi dan malah mematikan ponselnya sampai Sena makin tertekan dibuatnya. "Sial! Mengapa kehidupan seseorang bisa dipermainkan dengan semudah itu? Padahal aku sama sekali tidak pernah berbuat salah padamu." Cukup lama Sena kembali menangis sebelum akhirnya ia tidak ingin terlarut dalam kesedihannya lagi. Sena pun segera menghapus air matanya dan melangkah pulang ke rumahnya. Namun, lagi-lagi, kesialan sama sekali belum mau pergi darinya karena saat Sena pulang ke rumah malam itu, Sena melihat beberapa pria yang sudah mengobrak-abrik rumahnya dan melempar barangnya keluar dari rumah. Para tetangga pun sampai tidak berani mendekat dan hanya mengintip dari kejauhan, sedangkan Sena langsung berlari ke arah para pria itu. "Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan di rumahku? Mengapa kalian membuang barang-barangku?" teriak Sena. Seorang pria yang berdiri di luar layaknya mandor pun mengernyit menatap Sena. "Kau yang siapa? Dan mengapa kau menghalangiku? Bosku adalah pemilik yang baru dari rumah ini dan kami diperintahkan untuk mengosongkan rumah ini malam ini juga." Kedua mata Sena membelalak mendengarnya. "Apa lagi ini? Aku adalah pemilik rumah ini jadi jangan mengaku-ngaku sebagai pemiliknya!" "Jangan sembarangan kau, Nona! Bosku sudah membeli rumah jelek ini dengan begitu mahal, karena itu, rumah ini sudah menjadi milik bosku. Jadi pergilah!" Pria itu mengibaskan tangannya ke arah Sena begitu saja seolah mengusir Sena. Namun, Sena tidak mau pergi dan malah memunguti barangnya lalu berlari memasukkannya lagi ke dalam rumah. "Kalian gila! Kembalikan barangku ke tempatnya! Kembalikan!" teriak Sena lagi sambil menghalangi para tukang yang mengangkut barang-barang. Sena terus mendorong para tukang dan membuat keributan sampai barang-barangnya malah berjatuhan dan sang mandor tidak tahan lagi. Pria mandor itu pun langsung menghampiri Sena dan menarik tubuh Sena lalu mengempaskannya sampai Sena terjatuh. "Aku sudah bilang pergilah kan? Jangan mengganggu pekerjaan kami atau jangan salahkan aku bertindak kasar padamu!" ancam sang mandor. Namun, Sena tidak peduli. Sena bangkit berdiri dan kembali menerjang para tukang sampai sang mandor yang melihatnya pun akhirnya menarik rambut Sena begitu kuat sampai kepala Sena mendongak. Sret!! "Akhh!" rintih Sena. Pria itu melotot dan menatap Sena dengan tajam. "Kesabaranku sudah habis, Nona! Kau mau pergi atau mau kupukul, hah?" Sena gemetar takut, tapi ia juga tidak bisa pergi begitu saja. "Tidak, ini rumahku! Aku tidak akan pergi dan tidak akan menjual rumahku pada siapa pun!" gertak Sena akhirnya. "Dasar wanita sialan! Kau membuat pekerjaan kami makin sulit!" "Aku tidak peduli, aku hanya mau rumahku! Pergi kalian, Pria b******k! Pergi kalian!" Sena kembali berteriak lantang dan terus mengumpat sampai pria mandor itu makin marah dan mengangkat tangannya untuk menampar Sena. "Diam kau, Wanita Sialan!" Jantung Sena sudah berdebar begitu kencang dan matanya membelalak melihat tangan besar itu diangkat. Sena pun sontak memejamkan matanya ketakutan. Namun, untungnya tangan itu tidak pernah menyentuh pipi Sena, karena saat Sena membuka matanya, tangan besar itu sudah ditahan oleh sebuah tangan yang lain, tangan seorang pria yang tidak pernah Sena sangka sebelumnya. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD