Kesialan yang Belum Berakhir

1036 Words
Sena membuka matanya pagi itu dan ia pun langsung tersentak saat melihat jamnya. "Astaga, sudah jam sembilan, apa aku akan terlambat lagi?" pekik Sena sambil buru-buru turun dari ranjangnya. Namun, baru saja ia akan melangkah ke kamar mandi, ia pun mendadak tersentak lagi oleh kesadaran bahwa ia sudah dipecat kemarin dan untuk sesaat, Sena pun hanya diam mematung di tempatnya. Dengan tatapan yang goyah, akhirnya Sena pun kembali ke ranjangnya dan duduk lagi di sana. "Baiklah, kau seorang pengangguran sekarang, Sena. Kau tidak perlu lagi bersiap cepat-cepat karena kau tidak punya pekerjaan sekarang. Ck, semua karena pria b******k itu. Sial sekali aku harus berurusan dengannya!" Sena memejamkan mata sesaat sebelum ia membukanya lagi. Sekalipun Sena sudah kehilangan pekerjaannya, tapi ia tidak boleh membiarkan dirinya terus ditindas. "Ya, kau harus bersemangat, Sena. Jangan biarkan pria b******k itu merasa menang. Kau harus berusaha bicara dengan Hansel lalu mencari pekerjaan baru. Benar! Telepon Hansel dulu." Sena pun segera meraih ponselnya dan menelepon Hansel, namun ponsel Hansel masih tidak aktif sampai detik ini. "Apa aku harus mencari ke tempat kosnya saja? Atau aku ke tempat kerjanya saja? Baiklah, aku akan mencarinya saja. Kurasa aku juga harus membawa surat lamaran kerja, siapa tahu saja di perjalanan nanti aku melihat lowongan kerja." Sena terus menyemangati dirinya sebelum ia bersiap dan segera pergi dari rumahnya. Tempat pertama yang Sena kunjungi adalah tempat kos Hansel yang berisi semua teman prianya di sana, tapi Hansel tidak ada karena ia sudah pergi bekerja. "Ah, baiklah, terima kasih. Aku akan mencarinya ke tempat kerja saja." Sena berpamitan pada beberapa pria di sana sebelum ia pun kembali naik angkutan umum ke tempat kerja Hansel, sebuah perusahaan manufaktur yang cukup besar dan Hansel bekerja sebagai salah satu karyawan admin di divisi produksi. "Permisi, kalau aku mau mencari Pak Hansel Prawira dari divisi produksi apa bisa?" tanya Sena pada seorang satpam yang berjaga di depan pintu masuk gedung perusahaan. "Bisa tanyakan saja pada reseptionis di dalam ya," jawab sang satpam. "Ah, baiklah, terima kasih." Sena pun langsung saja melangkah ke arah reseptionis untuk mencari Hansel, namun Sena malah menemukan plang penunjuk arah yang bertuliskan ruang interview. "Eh, maaf, Nona, apa di sini membuka lowongan pekerjaan?" tanya Sena antusias. "Benar, Nona. Apa kau mau melamar kerja? Langsung masuk saja, kami menerima walk in interview." "Eh, benarkah?" Tatapan Sena langsung berbinar-binar mendengarnya. Dengan antusias, Sena pun merapikan kembali setelan formal yang memang sengaja ia pakai dan ia pun masuk ke ruang interview itu sambil menyiapkan surat lamarannya. Seorang wanita yang melakukan interview pun menanyakan beberapa pertanyaan pada Sena dan Sena pun menjawabnya dengan lancar. "Baiklah, Nona Sena, sebenarnya pengalamanmu masih kurang untuk bergabung bersama kami, tapi karena sejak minggu lalu kami belum menemukan admin gudang maka kau diterima bekerja, apa kau bisa langsung masuk besok? Kami sedang kekurangan orang untuk bagian stok di gudang." Rasanya Sena tidak berani mempercayai pendengarannya. Ini pasti hari keberuntungannya karena ia langsung diinterview dan diterima begitu saja? "Tentu! Tentu saja aku bisa! Aku akan mulai bekerja besok pagi. Terima kasih, Bu! Terima kasih!" "Baiklah, Nona Sena. Untuk sementara kau bisa memakai setelan formal biasa selama tiga bulan. Setelah masa training berakhir, kami akan memberimu seragam." "Baik, Bu! Terima kasih lagi!" "Sama-sama. Oh ya, setelah ini, orang gudang akan langsung mengajakmu ke gudang untuk melihat kira-kira bagaimana pekerjaanmu nanti." Sena pun mengangguk dengan antusias dan penuh haru. Ia akan bekerja di perusahaan yang sama dengan Hansel dan ia sangat gembira. Di sisi lain, seperti biasa, Xander sudah duduk di ruang kerjanya dan mendengar laporan dari Henry. Setelah Henry menyelesaikan laporannya tentang perusahaan, Henry pun melaporkan tentang Giana dan Sena. "Sampai sekarang kami masih belum berhasil melacak di mana Giana berada. Dia menghilang dan tidak pernah terlihat lagi di rumahnya," lapor Henry. "Sial! Dia seperti hantu yang menghilang tanpa jejak. Lalu wanita yang satu lagi bagaimana? Sena. Apa yang dia lakukan setelah kehilangan kekasihnya juga? Apa dia sudah menjadi gila? Atau malah dia mencoba bunuh diri?" seru Xander sarkastik. "Tidak, Pak. Dia mencari Hansel ke tempat kosnya tadi pagi dan sepertinya dia sedang mengikuti interview di perusahaan yang sama dengan pria itu." Xander yang mendengarnya pun memicingkan matanya. "Interview di perusahaan itu?" "Benar, Pak. Di sana sedang diadakan walk in interview dan Sena terlihat mengikuti interviewnya." "Benarkah begitu? Dia bergerak cepat rupanya untuk mencari pekerjaan baru ya," seru Xander yang seketika menyeringai penuh rencana. "Tapi sayangnya, mimpinya akan segera hancur." * Malam menjelang dengan begitu cepat dan Sena pun masih begitu bersemangat karena ia merasa begitu beruntung hari ini. Setelah seharian berkeliling perusahaan, Sena pun berdiri di pintu masuk saat jam pulang kerja agar ia bisa bertemu dengan Hansel dan memberitahu kabar baik ini. Namun, sayangnya setelah begitu lama menunggu, Hansel pun tidak kunjung keluar. Setelah lama menunggu, Sena baru tahu dari satpam kalau ternyata pintu keluar ke parkiran sepeda motor ada di sisi lain dari perusahaan. Sena pun hanya bisa mendesah kecewa dan pulang dengan putus asa malam itu. Namun, ia tetap bersemangat karena mulai besok ia akan bekerja di perusahaan yang sama dengan Hansel dan itu berarti mereka bisa bertemu setiap hari. "Semoga saja masih ada harapan dalam hubungan kita, Hansel," seru Sena penuh harap malam itu. Sena pun tidur dengan begitu nyaman malam itu karena hatinya masih dipenuhi kebahagiaan. Keesokan harinya, Sena juga berangkat begitu pagi ke perusahaan barunya karena ia tidak mau terlambat sedetik pun di hari pertamanya bekerja. "Nona Sena, kau admin gudang yang baru ya?" sapa seorang wanita yang berbeda dengan kemarin. "Eh, iya, Bu. Aku Sena, admin gudang yang baru," sapa Sena dengan ramah dan sopan. "Baiklah, silakan masuk! Manager HRD yang kemarin melakukan interview ingin bicara denganmu." "Ah, baik. Terima kasih." Sena merapikan penampilannya sekali lagi dan langsung menemui wanita paruh baya yang melakukan interview dengannya kemarin. "Silahkan duduk, Nona Sena!" "Terima kasih, Bu!" Sena masih tersenyum dan duduk dengan percaya diri walaupun jantungnya berdebar tidak karuan. Sena pun sudah membayangkan hari pertamanya bekerja di perusahaan yang pasti berbeda dengan menjadi pramuniaga biasanya. Namun, mendadak senyumannya lenyap saat manager HRD itu mulai mengatakan hal yang menurut Sena sangat tidak masuk akal. "Sebelumnya aku minta maaf karena ternyata kami sudah menemukan admin gudang yang lebih cocok dengan kriteria kami. Karena itu, kami tidak jadi menerimamu bekerja di sini, Nona Sena Monela!" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD