Rapat baru saja selesai. Suara kursi bergeser dan tumpukan berkas yang ditutup memenuhi ruangan. Para manajer satu per satu pamit, hingga menyisakan Prajaka yang masih duduk di kursinya, menatap lurus ke arah layar proyektor yang perlahan memudar. Punggungnya lalu menegak. Dia melonggarkan dasi yang terasa mencekik, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut. Kepala terasa berat, bukan karena rapat tadi, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih pribadi. Tadi malam, dia kesulitan tidur. Saat akhirnya tertidur pun, mimpi buruk itu kembali datang—tentang perselingkuhan Stevani—bak kaset yang rusak. Sepertinya, melupakan pengkhianatan wanita itu benar-benar sulit baginya. Hati dan pikirannya tidak sejalan. Sekalipun Prajaka sudah mantap ingin memperbaiki hubungan mereka, ada bagian dalam dirinya

