Bab 06

1482 Words
Sarah membuka pintu kamar itu dengan hati-hati, seolah takut suara engsel akan memecah ketenangan yang terlalu sunyi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, langkahnya terhenti. Matanya mnenatap ruangan itu cukup lama, napasnya tertahan tanpa sadar. Kamar pengantin itu dirias dengan kesungguhan yang nyaris berlebihan. Kelopak mawar merah memenuhi lantai, tersebar rapi namun tetap terlihat alami, seperti seseorang menaburkannya satu per satu dengan penuh niat. Aroma mawar mengambang di udara, lembut namun pekat, menyentuh indera penciumannya dan membuat dadanya terasa semakin sesak. Di atas ranjang besar dengan seprai putih bersih, kelopak mawar merah dibentuk menjadi sebuah love yang sempurna. Simetris. Tidak ada satu kelopak pun yang terlihat asal. Di bagian tengah ranjang, selimut putih digulung dan dibentuk menjadi dua angsa yang saling berhadapan, lehernya melengkung hingga bertemu, membentuk simbol kasih yang terlalu manis untuk situasi yang sedang Sarah rasakan. Ia melangkah masuk lebih jauh, ujung gaun pengantinnya menyapu kelopak-kelopak mawar di lantai. Tangannya refleks memilin kain gaun itu, jari-jarinya menggenggam renda putih dengan sedikit gemetar. Gaun itu terasa berat sekarang, bukan karena bahannya, tapi karena maknanya. Ini nyata. Ini bukan kontrak. Bukan transaksi. Bukan sekadar perjanjian diam-diam seperti yang biasa ia jalani. Ini pernikahan. Sarah berdiri di tepi ranjang, menatap bentuk angsa itu dengan perasaan campur aduk. Javier sudah mengatakan dengan jelas, tanpa ragu, tanpa nada menggoda, bahwa malam ini mereka tidak akan melakukan hubungan suami istri. Kata-katanya tegas, hampir dingin, seolah ia sedang menyampaikan keputusan bisnis, bukan perkara ranjang. Tapi justru itu yang membuat Sarah semakin gugup. Jika tidak ada sentuhan, jika tidak ada tuntutan, jika tidak ada peran yang harus ia mainkan… lalu apa yang tersisa darinya? Ya Tuhan, pikirnya lirih. Aku menikah dengan lelaki yang bahkan tidak pernah benar-benar kukenal. Pikirannya melayang ke wajah Javier. Tatapannya yang selalu tenang, suaranya yang rendah dan jarang meninggi, caranya memutuskan sesuatu tanpa membuka ruang bantahan. Lelaki itu tidak pernah bertanya berlebihan. Tidak pernah menjelaskan lebih dari yang perlu. Dan selalu, selalu berdiri di posisi yang tidak bisa digoyahkan. Uangnya terlalu banyak. Pengaruhnya terlalu besar. Dan Sarah tahu, sejak malam pertama mereka bertemu, bahwa ia tidak berada di posisi setara. Sarah menghela napas panjang, lalu duduk perlahan di tepi ranjang. Gaunnya mengembang di sekelilingnya, seperti pengingat akan peran barunya. Istri. Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. Tangan yang selama ini ia gunakan untuk bertahan hidup. Tangan yang terbiasa menerima, bukan memilih. Pintu kamar terbuka pelan. Sarah mendongak refleks. Javier masuk tanpa suara berlebihan. Jasnya sudah dilepas, dasinya longgar, kemeja putihnya masih rapi. Ia menutup pintu kembali, lalu berdiri sejenak, menatap ruangan yang sama seperti Sarah tadi. Tidak ada ekspresi kagum di wajahnya. Hanya pengamatan singkat, lalu fokusnya kembali pada Sarah. “Kamu tidak perlu gugup,” ucapnya tenang. Sarah tersenyum kecil, senyum yang lebih mirip usaha daripada kelegaan. “Aku… sulit tidak gugup.” Javier mendekat, tapi berhenti dengan jarak yang aman. Ia tidak menyentuh. Tidak mendekatkan diri terlalu jauh. Sikap itu justru membuat jantung Sarah berdetak lebih cepat. “Aku sudah bilang,” lanjut Javier. “Tidak ada kewajiban malam ini.” Sarah mengangguk. “Aku tahu. Tapi ini tetap… aneh.” “Karena kamu terbiasa dengan aturan lain,” jawab Javier lugas. Kalimat itu membuat Sarah terdiam. Javier tidak bermaksud menyindir, tapi kebenarannya tetap terasa tajam. Ia memang terbiasa dengan dunia yang penuh syarat, penuh tuntutan tak tertulis. Javier menghela napas pelan. “Kamu istriku sekarang. Tidak ada yang membeli kamu lagi.” Kata membeli itu membuat Sarah menelan ludah. Ia menatap Javier, mencoba membaca apakah kalimat itu sekadar pernyataan atau sebuah hinaan. “Kalau kamu mau istirahat,” lanjut Javier, “kamu bisa tetap memakai gaun itu. Atau melepasnya. Pilihanmu.” Pilihan. Kata itu terdengar asing namun menenangkan. Sarah berdiri perlahan. “Aku… ingin membersihkan diri dulu.” Javier mengangguk. “Aku akan menunggu di luar kamar mandi.” Ia benar-benar berbalik, berjalan ke arah sofa kecil di sudut kamar, lalu duduk tanpa menoleh lagi. Memberinya ruang. Memberinya kendali. Sarah melangkah ke kamar mandi dengan langkah pelan. Di depan cermin besar, ia menatap bayangannya sendiri. Wajahnya masih dirias sempurna, tapi matanya menunjukkan kebingungan yang belum selesai. “Apa yang sebenarnya terjadi dalam hidupku?” bisiknya pada diri sendiri. Ia menyentuh cincin di jarinya. Dingin. Berat. Nyata. Di luar, Javier duduk diam, menatap lantai, pikirannya sendiri bergolak meski wajahnya tetap datar. Ia tahu pernikahan ini tidak lahir dari cinta. Tapi untuk pertama kalinya, ia juga tahu bahwa ia tidak ingin menyakiti perempuan itu. Dan malam itu, di kamar pengantin yang penuh simbol cinta, dua orang asing yang terikat olejh janji mulai belajar arti batas, kepercayaan, dan waktu. *** Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Uap hangat masih mengepul keluar ketika Sarah melangkah ke dalam kamar dengan piyama berlengan panjang berwarna lembut, kainnya jatuh longgar menutupi tubuhnya sampai pergelangan tangan dan mata kaki. Rambutnya masih sedikit lembap, dibiarkan tergerai tanpa penataan apa pun. Tidak ada riasan. Tibdak ada kilau lampu pesta. Hanya Sarah apa adanya. Ia menghela napas lega saat menyadari satu hal kecil yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Di dalam lemari kamar itu, tersedia piyama. Bukan hanya lingerie tipis yang nyaris tak menyisakan ruang aman bagi seseorang sepertinya. Syukurlah, batinnya dengan nada setengah kesal. Kalau hanya lingerie itu… entah bagaimana dia harus bersikap. Langkah Sarah terhenti sesaat ketika menyadari Javier masih duduk di sofa kecil, posisinya sama seperti sebelumnya. Pria itu mendongak, matanya langsung menangkap sosok Sarah yang kini jauh berbeda dari pengantin beberapa jam lalu. Tidak ada komentar. Tidak ada siulan. Tidak ada tatapan yang membuat Sarah merasa sedang dinilai. Javier hanya mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya datar namun penuh makna. “Aku akan keluar sebentar,” ucapnya singkat. Sarah terkejut kecil. “Keluar?” “Telepon,” jawab Javier. “Kamu tidurlah.” Nada suaranya bukan perintah, tapi juga bukan permintaan. Lebih seperti keputusan yang sudah dipikirkan matang. Sarah mengangguk cepat, refleks. “Iya.” Javier berdiri, mengambil ponselnya, lalu melangkah menuju pintu tanpa menoleh lagi. Pintu tertutup dengan suara klik pelan yang entah kenapa membuat ruangan terasa lebih luas… sekaligus lebih sunyi. Sarah berdiri kaku beberapa detik, mendengarkan keheningan itu. Jantungnya masih berdetak cepat, meski ia tahu tidak ada apa-apa yang akan terjadi malam ini. Tubuhnya belum sepenuhnya memahami bahwa untuk sekali ini, ia benar-benar aman. Ia melangkah menuju ranjang perlahan. Setiap langkah terasa canggung, seperti seseorang yang belum terbiasa berada di tempat yang terlalu bersih, terlalu rapi, terlalu baik. Kelopak mawar di lantai berdesir halus saat kakinya menginjaknya. Bentuk love di atas ranjang masih utuh, begitu pula dua angsa dari selimut yang saling berhadapan dengan sempurna. Sarah duduk di tepi ranjang, tangannya kembali memegang ujung piyama, memilinnya tanpa sadar. Ia menatap sekeliling kamar sekali lagi. Kamar ini bukan kamar hotel biasa. Ini kamar yang disiapkan untuk sepasang pengantin yang saling mencintai. Dan dia… belum tahu apakah dirinya pantas berada di sini. Ia merebahkan tubuhnya perlahan, berhati-hati agar tidak merusak bentuk angsa itu. Punggungnya menyentuh kasur empuk, dan untuk pertama kalinya hari ini, tubuhnya benar-benar merasakan lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah karena terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu singkat. Sarah menarik selimut tipis ke dadanya. Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu temaram. Bayangan-bayangan samar bergerak lembut di atas sana, mengikuti napasnya yang mulai melambat. Pikirannya melayang. Tentang klub malam. Tentang lampu neon. Tentang musik keras. Tentang malam saat Javier pertama kali duduk di hadapannya, tatapannya dingin, ucapannya singkat, tapi kehadirannya mendominasi ruangan. Lelaki yang tidak banyak bicara, tidak suka dibantah, dan selalu tahu apa yang ia inginkan. Lelaki dengan uang terlalu banyak dan dunia yang terlalu jauh dari dunia Sarah. Dan kini, lelaki itu adalah suaminya. Air mata menggenang di sudut mata Sarah tanpa ia sadari. Bukan karena sedih semata. Lebih karena bingung. Hidupnya berubah terlalu cepat, dan ia belum sempat mengejar napasnya sendiri. Di luar kamar, Javier berdiri di koridor dengan ponsel di tangan. Panggilan yang ia terima sebenarnya tidak mendesak. Tapi ia tetap keluar. Memberi Sarah ruang. Memberi waktu. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membacanya. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan kekakuan. Ada keraguan yang jarang muncul, bahkan untuk dirinya sendiri. Ia menikahi Sarah karena banyak alasan. Alasan yang logis. Alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Tapi malam ini, melihat cara Sarah berjalan kaku menuju ranjang, melihat kegugupan yang tidak dibuat-buat, Javier menyadari satu hal yang tidak ia perhitungkan. Perempuan itu rapuh. Dan ia memegang kendalinya. Javier menghela napas panjang, lalu mematikan ponselnya. Ia tidak kembali ke kamar segera. Ia berdiri lebih lama di sana, memastikan waktu cukup berlalu agar Sarah benar-benar tertidur, atau setidaknya merasa sendirian dengan aman. Di dalam kamar, napas Sarah akhirnya teratur. Matanya terpejam, meski pikirannya belum sepenuhnya tenang. Tubuhnya menggulung sedikit ke samping, refleks lama untuk melindungi diri. Tangannya menggenggam selimut erat-erat. Di ranjang pengantin yang penuh simbol cinta, Sarah tertidur dengan mimpi yang masih samar, sementara di balik pintu tertutup, Javier berdiri sebagai penjaga jarak—pria dingin yang perlahan mulai memahami bahwa pernikahan ini bbukan hanya soal keputusan, tapi juga tanggung jawab yang jauh lebih besar dari yang ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD