Sarah menatap pada gaun pengantin yang dipakai oleh dirinya, sekarang dirinya akan menikah dengan Javier, yang membuat dirinya merasakan jantungnya berdegup kencang, dan dirinya tak bisa membayangkan kalau dirinya akan menjadi istri dari pria itu.
"Anda sudah siap?" Sarah menatap pada pengawal yang bertanya padanya.
Ya. Tidak ada ayah atau kakaknya yang akan mengantarkan dirinya ke atas altar. Dirinya hanya sendiri di dunia ini sekarang. Setelah menikah dengan Javier maka dirinya akan menjadi istri pria itu.
Sarah mengangguk, dan perlahan dirinya berjalan menuju pria itu dan pria itu membuka lebar pintu di depannya. Dan dia memerhatikan calon istri bossnya yang sudah turun dan berjalan menuju ke altar sendiri.
Para tamu undangan menatap pada pengantin wanita. Ibunya Javier tersenyum melihat calon menantunya. Wanita paruh baya itu selama ini belum pernah bertemu dengan Sarah. Setiap kali dirinya ingin bertemu Sarah, anaknya selalu melarang.
Dan dia tidak tahu dimana putranya mendapatkan Sarah yang amat cantik dan lugu seperti ini.
Sarah berdiri di depan Javier, keduanya mulai berucap janji suci pernikahan, dan setelahnya pendeta menyuruh mereka untuk berciuman.
Jantungnya berdegup kencang menatap pada Javier. Dan dia memejamkan matanya ketika merasakan Javier yang melumat bibirnya membuat seluruh tamu yang datang bertepuk tangan.
Sarah meraup udara sebanyak mungkin menatap pada Javier yang mengulum senyum pada dirinya, Sarah salah tingkah dengan senyuman dari pria itu.
Dirinya menatap pada tamu-tamu dan dia tersenyum tipis. Lalu dirinya berjalan sambil menggenggam tangan Javier, dan pria itu membawa dirinya menuju salah satu meja. Pernikahannya dengan Javier dilaksanakan secara out door di halaman belakang mansion pria itu.
Dan tamu yang datang pada hari ini tak terlalu banyak. Tapi kebanyakan para wartawan meliput pernikahannya dengan Javier.
"Oh My Good! Dia menantu Mama?" Tanya wanita paruh baya.
Sarah menatap pada wanita itu dengan tatapan kebingungannya dan mengangkat sebelah alisnya, dia tidak tahu siapa wanita itu dan tak mengenalnya sama sekali.
"Holla sayang! Perkenalkan Rose, ibunya Javier. Dan ini suami saya Jay," ucap Rose memperkenalkan dirinya pada Sarah.
Sarah mengangguk, dan tersenyum manis pada wanita itu. "Sarah." Jawab Sarah lembut.
Rose mengibaskan tangannya di depan wajah Sarah. "Saya sudah tahu nama kamu siapa. Dan kamu memang sangat cantik dan manis sekali." Puji Rose.
Rose mengusap pipi Sarah dengan ibu jarinya, gerakannya lembut, penuh rasa memiliki. Sentuhan itu membuat Sarah kembali tersenyum kecil, senyum yang tadi sempat pecah menjadi tawa ketika Rose tanpa ragu mengatakan ingin cepat menggendong cucu.
“Kamu lucu sekali kalau tertawa begitu,” kata Rose sambil menatapnya penuh arti. “Rumah ini butuh suara bayi.”
Sarah menunduk, bahunya naik turun pelan karena tawa yang masih tertahan. “Mama… kami baru menikah dua jam,” katanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh riuh tamu. “Gaun ini saja masih nempel.”
Rose ikut tertawa kecil, lalu mengecup pelipis Sarah. “Justru itu. Mama senang melihatmu di sini. Nyata. Bukan mimpi.”
Kata nyata itu menusuk Sarah lebih dalam dari yang Rose kira. Nyata. Dua jam lalu ia masih berdiri di altar dengan tangan sedikit gemetar, menggenggam tangan Javier, pria yang selama ini ia panggil Daddy dengan nada bercampur antara candaan, kebiasaan, dan sisa identitas lama yang belum sepenuhnya ia lepbaskan.
Javier. Pria yang pertama kali ia temui di klub malam dengan lampu remang dan musik yang terlalu keras untuk mendengar suara hati sendiri. Pria yang datang bukan hanya membawa uang, tapi keputusan paling tak terduga dalam hidup Sarah.
Menikahinya.
Dari kejauhan, Javier berdiri sambil berbincang dengan beberapa tamu keluarga. Jas hitamnya rapi, rambutnya tersisir sempurna, wajahnya tenang, seolah semua ini memang sudah menjadi bagian dari rencana hidupnya sejak awal. Sesekali matanya melirik ke arah Sarah, dan setiap kali tatapan mereka bertemu, ada sesuatu yang tak terucap tapi terasa penuh.
Sarah membalas tatapan itu dengan senyum kecil, refleks, seperti yang selalu ia lakukan di klub. Namun kali ini senyum itu berbeda. Tidak dibuat-buat. Tidak dijual.
Rose mengikuti arah pandang Sarah dan ikut tersenyum. “Dia benar-benar jatuh cinta padamu,” ucapnya pelan, seolah sedang menyampaikan rahasia.
Sarah menghela napas, dadanya naik turun lebih dalam. “Mama yakin?”
Rose mengangguk tanpa ragu. “Mama ibunya. Mama tahu.”
Kalimat itu membuat tenggorokan Sarah tercekat. Selama ini, ia terbiasa dengan orang-orang yang menebak, menawar, menilai. Tidak pernah ada yang tahu, apalagi yakin, tentang dirinya. Tentang perasaannya. Tentang tempatnya.
Seorang pelayan datang menawarkan minuman. Rose mengambil satu, Sarah menolak dengan senyum sopan. Tangannya masih gemetar sedikit, bukan karena lelah, tapi karena emosi yang belum sepenuhnya menemukan bentuk.
“Apa kamu menyesal?” tanya Rose tiba-tiba, kali ini dengan suara lebih hati-hati.
Sarah mengangkat wajahnya. Pertanyaan itu membuatnya terdiam cukup lama. Matanya menyapu ruangan resepsi, lampu kristal, bunga putih, tawa para tamu, nama mereka yang tertera di papan besar di depan ruangan.
Sarah dan Javier.
“Aku… masih mencoba mencerna semuanya,” jawabnya jujur. “Tapi tidak. Aku tidak menyesal.”
Rose tersenyum lega, lalu kembali merangkul Sarah. “Itu cukup.”
Di sisi lain ruangan, Javier akhirnya mendekat. Langkahnya tenang, terukur. Begitu ia sampai, tangannya langsung menyentuh bahu Sarah, ibu jarinya mengusap pelan seolah memastikan istrinya baik-baik saja.
“Kamu capek?” tanyanya lembut.
Sarah menoleh, menatap wajah pria itu dari jarak sedekat ini, masih dengan gaun pengantin, masih dengan sorot mata yang belum sepenuhnya percaya. “Sedikit,” jawabnya jujur. “Tapi aku baik-baik saja.”
Javier tersenyum tipis, lalu menatap Rose. “Mama sudah merepotkan istriku?”
“Justru Mama yang dimanjakan,” balas Rose cepat. “Jaga dia baik-baik, Javier.”
Javier mengangguk. “Selalu.”
Kata itu sederhana, tapi cara ia mengucapkannya membuat Sarah menelan ludah. Selalu. Bukan malam ini saja. Bukan hanya di gedung megah ini. Tapi setelah lampu padam dan tamu pulang.
Sarah berdiri perlahan, gaunnya bergeser pelan. Javier langsung menawarkan lengannya. Sarah meraihnya, refleks, seperti sudah terbiasa berjalan di sampingnya.
“Daddy,” panggil Sarah tanpa sadar.
Javier menoleh, alisnya terangkat sedikit, lalu tersenyum samar. Tidak menegur. Tidak membetulkan. Hanya menggenggam tangan Sarah sedikit lebih erat.
“Nanti kita masuk ke kamar untuk kamu istirahat,” katanya pelan di telinga Sarah. “Tidak perlu terburu-buru melakukan hubungan intim nanti. Kita punya waktu.”
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sarah benar-benar percaya pada kalimat itu. Sarah tak menyangka lelaki segagah Javier tidak mau melakukan hubungan intim dulu.