Sarah berdiri di ambang pintu ruang kerja Javier cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pelan. Jantungnya berdegup tidak karuan, bukan karena takut, tapi karena perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali ia harus menyampaikan keinginannya sendiri. Ia sudah memikirkan ini sejak kemarin malam, sejak brosur-brosur itu kembali ian buka di atas ranjang, sejak ia membayangkan jalan-jalan sempit berbatu, balkon dengan bunga, dan langit senja yang tampak hangat di foto-foto. “Masuk,” suara Javier terdengar dari dalam, datar seperti biasa. Sarah membuka pintu dan melangkah masuk. Javier berdiri di depan meja kerjanya, memeriksa sesuatu di tablet. Kemejanya rapi, lengan digulung sampai siku, rambutnya tersisir rapi. Ruangan itu berbau kopi dan kertas—bau yang selalu membuat Sarah merasa sedikit ke

