Siang itu suasana mansion kembali berubah. Jika pagi tadi Sarah tidak sanggup melihat donat, kini justru muncul keinginan yang begitu spesifik. Ia duduk di ruang tengah dengan tangan memegang bantal kecil, wajahnya sedikit lesu namun matanya terlihat berpikir. Tiana yang duduk di sebelahnya langsubng memperhatikan. “Apa lagi sekarang?” Sarah menoleh pelan. “Aku lapar…” Tiana mengangkat alis. “Bagus. Itu berarti kau mau makan.” Sarah mengangguk kecil. “Iya… tapi…” Tiana langsung menyipitkan mata. “Jangan bilang—” Sarah memotong pelan, “Aku mau spaghetti…” Tiana langsung tertawa kecil. “Spaghetti?” Sarah mengangguk. “Iya…” Tiana melirik jam. “Sekarang?” Sarah mengangguk lagi. “Sekarang.” Tiana menyandarkan tubuhnya. “Menarik.” Namun sebelum Tiana sempat mengatakan ses

