Mobil Rose baru saja berhenti di halaman mansion ketika Javier sudah berdiri di teras. Jas kerjanya masih rapi, tapi kancing paling atas sudah terbuka, dasinya entah sejak kapan dilepas. Tatapannya langsung tertuju pada Sarah yang turun dari mobil dengan langkah pelan. Ia melihatnya seketika. Wajah Sarah tidak ceria seperti pagi tadi. Senyumnya ada, tapi tipis, nyaris dipaksakan. Matanya sedikit redup, pundaknya turun, seolah membawa beban yang tidak ia ucapkan. Javier langsung melangkah mendekat. “Ada apa?” tanyanya, suaranya rendah, tajam, tapi jelas penuh perhatian. Sarah terkejut melihat Javier sudah menunggunya. Ia menunduk sedikit, kebiasaannya muncul begitu saja. “Tidak apa-apa, Daddy.” Jawaban itu justru membuat rahang Javier mengeras. Ia terlalu mengenal bahasa tubuh. Terlal

