Lampu-lampu klub malam itu berpendar dalam warna ungu dan biru yang berkilau, memantul di meja kaca tempat Javier duduk dengan punggung tegap. Musik berdentum keras, bass-nya terasa samhpai ke d**a. Di sekelilingnya, tawa dan suara gelas beradu terdengar berbaur dengan aroma alkohol yang pekat. Leonard sudah setengah terkulai di sofa empuk itu, tertawa keras tanpa arah. Victor lebih parah lagi. Kemeja mahalnya sudah terbuka dua kancing, wajahnya merah, dan tangannya sibuk merangkul wanita bayaran yang duduk di pangkuannya. Salah satu wanita lain dengan gaun hitam pendek berjalan mendekati Javier. Rambutnya panjang bergelombang, bibirnya merah menyala. Ia menyentuh bahu Javier dengan lembut, mencoba tersenyum manja. Javier tidak menoleh. Wanita itu mendekat lagi, kali ini berbisik di de

