Pagi itu ruang makan terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk lewat jendela-jendela tinggi, memantul di permukaan meja panjang yang mengilap. Sarah berdiri di dekat meja, meletakkan piring berisi roti croissant yang mnasih hangat dan secangkir kopi hitam di depan kursi Javier. Aromanya menyebar lembut di udara. Javier duduk dengan punggung tegak, jas kerjanya masih rapi meski jam belum terlalu siang. Tatapannya dingin, mengamati setiap gerakan Sarah tanpa ekspresi yang mudah dibaca. Bukan marah. Bukan juga lembut. Hanya… mengawasi, seperti biasa. Sarah merasakan tatapan itu, tapi ia berpura-pura tidak menyadarinya. Tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan posisi piring dan cangkir. Setelah semuanya rapi, ia mundur satu langkah, berdiri dengan sikap sopan, menunggu. “D

