Alejandro mengerjap pelan, menahan silau matahari pagi yang memantul di kaca jendela mobil-mobil yang lalu lalang. Udara dingin pagi bercampur debu jalanan terasa menyesakkan di d**a. Sudah hampir satu jam ia berdiri di tempat itu, tanpa tahu pasti apa yang sebenarnya ia cari. Langkahnya tak tentu arah, hanya didorong oleh perasaan bersalah dan gelisah yang tak juga mereda sejak mendengar kabar tentang Natalia—tentang pingsannya, tentang kegugurannya. Dua kata yang terus terngiang dan membuat dadanya terasa sesak. Tadi malam ia datang tergesa ke rumah, berharap bisa melihat wajah Natalia, memastikan sendiri bahwa perempuan itu baik-baik saja. Namun yang menyambutnya justru Marco, mantan komandannya yang kini lebih seperti penjaga gerbang antara dirinya dan masa lalu. Marco mengajaknya bic

