Erika akhirnya dipindahkan dari ruang ICU ke ruang rawat inap setelah dua hari penuh ketegangan yang melelahkan. Dokter mengatakan kondisinya membaik, tetapi semua orang tahu itu bukan benar-benar membaik. Tubuhnya masih lemah. Tekanan darahnya belum stabil. Dan sesekali rasa nyeri datang seperti gelombang yang membuatnya menggigit bibir menahan sakit. Namun setidaknya… ia sadar penuh. Pagi itu cahaya matahari menembus tirai putih kamar rumah sakit. Udara terasa tenang, hampir damai. Mesin monitor berdetak pelan mengiringi napas Erika yang masih berat. Dewa duduk di samping tempat tidur sejak subuh. Ia bahkan hampir tidak pulang selama Erika dirawat. Kemeja yang ia kenakan sedikit kusut, rambutnya tidak serapi biasanya. Mata lelaki itu menyimpan kelelahan, tapi tangannya tetap meng

