Sore itu langit tampak redup, warna jingga bercampur abu-abu menggantung di atas halaman rumah besar keluarga Dewa. Angin berembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun. Suasana terasa aneh—terlalu tenang, terlalu sunyi. Dewa baru saja selesai mengganti pakaian ketika ponselnya berdering. Nama Oma muncul di layar. Ia langsung mengangkat. “Wa, kamu bisa datang sekarang?” suara Oma terdengar serius, jauh dari nada lembut biasanya. “Ada apa, Oma?” tanya Dewa waspada. “Kamu datang saja dulu. Oma mau bicara.” Telepon terputus. Dewa berdiri diam beberapa detik. Ada sesuatu dalam nada suara Oma yang membuat dadanya tidak nyaman. Ia menarik napas panjang lalu keluar kamar. Erika sedang duduk di ruang keluarga. Wanita itu mengenakan dress rumah sederhana berwarna krem, rambutnya terg

