Erika 20

1751 Words

Langkah Dewa terdengar cepat saat memasuki rumah Oma. Pintu terbuka cukup keras, memperlihatkan wajah lelaki itu yang masih diliputi kegelisahan sejak menemukan Erika pergi dari rumah mereka. Napasnya belum sepenuhnya stabil. Matanya terlihat merah—entah karena kurang tidur atau karena sesuatu yang lebih dalam. Namun langkahnya langsung terhenti. Di ruang tengah, Oma duduk tegak di kursi kebesaran miliknya. Wajah wanita tua itu tidak seperti biasanya. Tidak hangat. Tidak tenang. Melainkan… marah. Di sisi lain ruangan, Erina berdiri. Wanita itu tampak rapi, cantik seperti biasa, tetapi ada kegelisahan samar dalam tatapannya. Dewa mengernyit. “Ada apa, Oma? Kenapa panggil aku mendadak?” Tidak ada jawaban langsung. Oma menunjuk kursi di hadapannya. “Duduk.” Nada suaranya tegas.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD