Langkah Erika terasa sedikit lebih berat ketika ia memasuki ruang praktik dokter Candra. Aroma antiseptik yang khas langsung menyambut, memberikan sensasi familiar yang entah menenangkan atau justru mengingatkan bahwa tubuhnya memang tidak pernah benar-benar sehat. Pintu tertutup pelan di belakangnya. “Selamat sore, Erika.” Suara hangat itu langsung membuatnya tersenyum kecil. Dokter Candra duduk di balik meja kerja dengan jas dokter putih yang selalu rapi. Lelaki itu masih sama seperti dua tahun terakhir—tenang, profesional, namun memiliki sorot mata yang terlalu peduli untuk sekadar hubungan dokter dan pasien. “Sore, Dok,” jawab Erika pelan. Candra menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Dan seperti biasa, ia langsung tahu. “Kamu kelihatan capek.” Erika tertawa kecil

