Pagi itu cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai kamar. Hangat, lembut, dan tenang. Erika membuka mata pelan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar, mencoba mengumpulkan kesadaran yang masih setengah tertinggal di alam tidur. Refleks, ia menoleh ke sisi ranjang. Kosong. Tidak ada Dewa. Selimut di sisi pria itu sudah rapi, tanda ia telah bangun sejak lama. Erika tersenyum tipis. Tentu saja. Pikirannya langsung kembali pada kenyataan yang selama ini ia pahami. Semalam mungkin hanya momen sesaat—Dewa kebetulan sedang baik hati, kebetulan peduli. Hari ini… semuanya kembali normal. Mungkin Dewa sudah pergi bekerja. Mungkin menemui seseorang. Mungkin bertemu wanita yang ia cintai. Dada Erika terasa sedikit sesak, tapi ia segera mengusir perasaan itu. Tidak

