Siang itu Dream Café berada di puncak keramaiannya. Aroma kopi bercampur s**u karamel memenuhi udara. Suara mesin espresso berdengung bersahutan dengan obrolan para pengunjung. Musik akustik pelan mengalun, menciptakan suasana hangat yang menjadi ciri khas café milik Erika. Erika berdiri di balik bar. Tangannya bergerak cekatan meracik pesanan. “Dua cappuccino, satu iced latte!” seru Zahra dari kasir. “Siap!” jawab Erika sambil tersenyum. Meski wajahnya masih terlihat pucat, matanya tampak hidup. Ada semangat berbeda dalam dirinya setiap berada di sini. Dream Café bukan sekadar usaha. Tempat ini… seperti rumah kedua. Tempat ia bisa melupakan statusnya sebagai istri yang tidak dicintai. Pintu café berbunyi. Ting. Erika refleks menoleh. Dan matanya langsung berbinar. “Kak!” Eri

