Erika 14

1983 Words

Langit di luar mulai berubah jingga ketika Erika akhirnya sampai di rumah. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat di waktu yang sama. Langkahnya pelan, hampir menyeret. Energi yang tersisa dalam tubuhnya seperti hanya cukup untuk satu tujuan saja. Malam ini. Ia membuka pintu rumah dengan hati-hati. Rumah masih sepi. Sunyi. Seperti beberapa bulan terakhir—rumah yang terasa besar, tapi kosong. Erika menaruh tasnya di sofa, lalu berdiri diam beberapa detik. Tangannya otomatis menekan d**a kiri. Rasa nyeri itu datang lagi. Menusuk perlahan, membuat napasnya sedikit tersengal. Ia memejamkan mata. “Sedikit lagi…” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia tidak boleh tumbang sekarang. Belum. Masih ada yang harus ia lakukan. Masih ada yang harus ia tanyakan. Erika langsung menuju dapur. Ia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD