Erika 3

2074 Words

Sore itu Erika menutup Dream Café lebih awal dari biasanya. Zahra sempat memprotes kecil karena masih ada beberapa pelanggan yang datang, tetapi Erika hanya tersenyum dan mengatakan ia memiliki urusan di rumah. Ada perasaan aneh sejak panggilan Dewa siang tadi. Bukan takut. Bukan juga berharap. Lebih seperti… sebuah firasat bahwa sesuatu akhirnya akan mencapai garis akhir. Ia membantu Amar menata meja terakhir, lalu masuk ke dapur kecil café. Dengan hati-hati Erika menyiapkan beberapa cup kopi favorit—caramel latte, iced americano, dan satu hazelnut coffee yang menurutnya paling cocok dengan selera Dewa. Meski pria itu hampir tidak pernah meminumnya. Meski hampir tidak pernah menghargainya. Tetap saja… Erika selalu mencoba. Ia memasukkan kopi-kopi itu ke dalam paper bag, memelukny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD