Malam berlalu tanpa benar-benar memberi Erika kesempatan untuk beristirahat. Ia berbaring di samping Alea, menatap langit-langit kamar yang terasa asing sekaligus akrab. Rumah orang tuanya dulu selalu menjadi tempat ternyaman, tetapi kini justru menghadirkan kegelisahan baru. Setiap detik pikirannya dipenuhi satu pertanyaan. Haruskah Dewa tahu? Erika membalikkan tubuhnya, menatap wajah Alea yang tertidur damai. Anak itu sama sekali tidak tahu bahwa hidupnya sedang berada di persimpangan besar. Jari Erika menyentuh pipi putrinya perlahan. “Ayah kamu…” bisiknya lirih, “ada sangat dekat sekarang.” Dada Erika menghangat sekaligus perih. Selama empat tahun, ia membesarkan Alea sendirian. Ia belajar menjadi ibu sekaligus ayah. Ia menguatkan diri setiap kali Alea bertanya tentang sosok ay
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


