Kalila jauh lebih segar setelah mencuci muka. Gadis itu mengusap wajahnya yang lembab dengan handuk kecil, seiring langkah mendekat ke cermin. Dipatutnya dirinya di depan cermin itu. Menelusuri garis wajah dan mengamatinya dalam pandangan mata selama beberapa saat.
Entah apa yang dipikirkan gadis itu, tiba-tiba saja embusan napas kasar keluar dari mulutnya. Gadis itu bergumam perlahan, "sudahlah. Jalani aja." Mungkin ia memikirkan hal-hal yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Memang penuh kejutan. Dan mungkin akan berlanjut sampai di masa yang akan datang.
Kalila sudah rapi dengan kain kerudung. Begitu pula dengan keadaan ranjang empunya Damar yang sudah ia rapikan sedemikian rupa. Setelah itu, barulah bisa ia tinggalkan kamar itu dan turun ke bawah. Mungkin ia bisa menyiapkan sarapan. Ya, hitung-hitung memberi kesan yang baik pada keluarga barunya.
Ketika sudah menapak di marmer lantai dasar, pandangan Kalila terpancing oleh sesosok yang berbaring di sofa. Matanya memicing dan barulah ia sadari bahwa sosok itu adalah Damar. Oh, no! Jadi, pria itu semalaman tidur di sofa? Sementara ia sendiri sudah memonopoli kamarnya? Oh, why? Sungguh, Kalila merasa sangat bersalah.
"Ya ampun," gumam Kalila ketika sudah berada dekat pada Damar yang tertidur lelap di sofa. Gadis itu mulai berjongkok di samping pria itu. Sejenak, terpaku pada aura wajah Damar yang damai tatkala tertidur. Secara bersamaan, pendapatnya tentang pria itu pun mulai berseliweran di benaknya.
Pria tampan penuh kesempurnaan. Tidak terduga, penuh kejutan. Datang sebagai penolong di malam ketika Rio merengek meminta permen bulan. Datang sebagai penolong, menyuntikkan dana untuk yayasan. Dan berakhir dengan—tidak ada angin, tidak ada hujan—menjadikannya secara utuh sebagia bayaran. Atas kecerobohan, yang semestinya tidak harus dibayar dengan pernikahan.
Damar benar-benar tidak terduga. Penuh kejutan di tiap apa pun yang dilakukannya. Hadirnya tiba-tiba membuat Kalila bertanya-tanya. Semua ini terjadi secara tidak sengaja atau memang direncanakan sebelumnya? Oh, benarnya, semua ini telah direncanakan tentunya. Direncanakan oleh Tuhan, jauh sebelum kehidupan ini ada. Kalau begitu jadinya, haruskah Kalila menjalaninya? Bahkan tanpa cinta?
"Calon suamimu ini sangat tampan, huh?"
Seketika membuat Kalila terseret ke kenyataan. Menghentikan lamunannya tentang sosok yang sekarang memasang ekspresi gelinya. Terlebih ia baru menyadari bahwa dirinya berada dalam kungkungan kedua lengan pria itu. Hei! Sejak kapan?! Lagi dan lagi, Damar bertindak selalu tidak terduga. Sepertinya pria itu dan segala sesuatu yang tidak terduga, dilahirkan secara berdampingan layaknya saudara kandung kembar. Oh, pria itu.
"Maaf, to-tolong lepas," ucap Kalila mencoba melepas kedua lengan Damar yang melingkari bahunya. Sampai akhirnya, kedua lengan itu pun berhasil terlepas. Bergegas Kalila berdiri dan sedikit menjaga jarak dari Damar yang setengah terbaring di sofa.
Sebenarnya, Damar bisa saja mempertahankan kungkungan itu. Bahkan bertindak lebih dari itu pun ia bisa. Namun, ia harus bisa menahan diri. Biar bagaimanapun ikatan itu belumlah terjalin sebagaimana mestinya.
"Pagi," sapa Damar enteng. Tangannya mengacak rambutnya. Membuat aura kharisma pria itu semakin menguat. Kalila akui itu. "Gimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Damar lembut. Kalila hanya membalas dengan anggukan kecil. Tiba-tiba, tergelitik gadis itu untuk bertanya perihal alasan kenapa Damar tidur di sofa.
"Um, kamu kok tidur di sofa?" tanya Kalila dengan pelan. Syukurnya masih tertangkap jelas oleh pendengaran Damar. "Kenapa?" timpal gadis itu dengan lirih. Kentara sekali kalau sedang merasa bersalah. Damar yang menyadari itu malah terkekeh kecil.
"Aku tidur di kamar tamu. Tapi setelah subuh aku ke bawah. Niatnya cuman nonton, malah ketiduran." Damar tersenyum, membeberkan kenyataan yang ada pada Kalila. Namun, bukannya percaya, Kalila malah memasang ekspresi selidik yang cenderung lucu. Membuat Damar rasanya gatal untuk segera menarik Kalila ke dalam pelukannya. Lagi dan lagi, ia harus menahan diri.
"Nggak percaya?" tanya Damar menaikkan satu alisnya ke atas.
"Ah, nggak. Tapi, seriusan, 'kan? Nggak bohong, 'kan?"
Gadis ini! batin Damar merasa gemas atas tingkah Kalila. Pria itu tiba-tiba berdiri dan mulai mendekat satu langkah di hadapan Kalila. Matanya memusat tajam ke wajah Kalila yang tampak polos agaknya. Diam-diam, tangannya terulur. Mengusap puncak kepala Kalila penuh kelembutan. Sampai kemudian, dengan gerakan tiba-tiba—bahkan secepat kedipan mata—Damar mencuri satu ciuman pada kening Kalila. Setelahnya, pria itu langsung berlalu cepat menaiki tangga. Meninggalkan Kalila yang diam mematung di tempat.
Tanpa disadari, ada sepasang mata yang menatap kejadian itu. Ialah Darisa yang berpeluk tubuh dengan wajah yang begitu jengkel. Ah, anak itu! Harus jauh-jauh dari Kalila mulai sekarang.
Memang seharusnya begitu, 'kan? Damar memang si pria yang tidak mampu menahan diri di depan gadisnya.
***
"Sayang, nanti Bunda yang bakal anterin kamu ke yayasan ya? Sekaligus mau temu Ibunda Tari dan anak-anak." Darisa mengusap kepala Kalila dengan lembut. Tersenyum begitu manis. Sampai, senyum itu luntur tatkala Damar berucap dengan nada song cenderung jengkel.
"Sudah tugasku mengantar Kalila, Bun." Damar menatap sang ibunda dengan malas. "Bunda nggak perlu antar. Di rumah aja. Jadi ibu rumah tangga yang baik."
"Nggak!" sahut Darisa cepat. Matanya memelototi Damar. Nyaris kedua bola mata itu keluar dari tempatnya.
Damar mendengus. "Bola mata Bunda keluar, baru tahu rasa," gumamnya pelan. Namun, pendengaran tajam Darisa menangkap itu. Membuat wanita itu langsung mengomel. Khas emak-emak pada umumnya.
"Mulai sekarang kamu nggak boleh ketemu sama Kalila."
"Loh? Nggak bisa gitu dong, Bun?" Damar tentu protes. Bagaimana mungkin pria itu tahan berjauhan dengan gadisnya?
"Tahan sebentar, Damar. Lima hari itu bukan waktu yang panjang."
"Beda lagi kalo orang yang lagi kasmaran, Bun," celetuk Adnan. Damar seketika menatap pemuda itu. Apakah adiknya yang satu ini akan menolongnya? Kalau begitu adanya, Damar bersumpah akan mem— "mending diperpanjang aja, Bun. Jangan lima hari, tapi sebulan! Mati lo, Bang!"
"s**t!" umpat Damar kesal. Adik s****n emang.
"Pokoknya sebelum hari akad, kamu nggak boleh ketemuan sama Kalila. Bunda bakal nyembunyiin Kalila dari kamu. Awas aja kalo nyulik calon mantu kesayangan Bunda diam-diam. Siap-siap Bunda geprek kamu!"
"Tapi aku dan Kalila besok mau fitting baju-"
"Gampang itu mah. Intinya, kamu nggak boleh ketemu Kalila. Bahkan sekadar telponan atau video call-an pun nggak boleh. Titik!"
"Bun, nggak bisa gitu- aish! s**l!" Damar mengacak rambut frutrasi. Jatuhnya lebay memang. Ya, begitulah Damar.
Darisa menggeleng heran. Wanita itu langsung menarik Kalila untuk bersiap pergi menuju yayasan. Sebelum itu, Darisa membisikkan sesuatu pada Damar. Seketika membuat Damar langsung merasa tertangkap basah.
"Bunda liat kamu curi ciuman ke Kalila. Dasar! Sekali lagi kamu lakuin, bakal Bunda coret kamu dari kartu keluarga. Kalian itu belum menikah woy! Tahan bentar!"
Setelahnya, Damar mendengus kesal. Sepertinya lima hari ke depan akan menjadi hari yang panjang bagi pria itu.
***
"Maafin anak Bunda ya," ucap Darisa kepada Kalila. Mereka kini sedang dalam perjalanan menuju yayasan. Duduk bersisian di kursi penumpang, dengan sopir pribadi yang mengendarai mobil berkecepatan sedang.
Kalila hanya bisa mengangguk kecil. Disertai senyum kecil pada bibirnya yang mungil. Ingatannya kembali pada kejadian di pagi hari. Tentang aksi tiba-tiba Damar, yang dalam bahasa hiperbolanya itu adalah aksi yang setara dengan kecepatan cahaya. Tahu-tahu sudah terjadi aja. Tanpa ada ruang untuk mengelak.
Damar merupakan sosok paling tidak tertebak yang pernah Kalila temui. Apakah setelah menikah nanti ia akan mengetahui sifat asli Damar sebenarnya? Jauh lebih sulit atau jauh lebih mudah kah? Kita lihat saja nanti.
Di lain tempat, ada sesosok pria dalam balutan kemeja yang tampaknya agak kusut. Jangan lupakan juga raut yang tak kalah kusut dari kemeja itu. Bahkan, fokusnya pria itu juga kusut. Bak gumpalan benang yang kusut, yang sulit untuk diuraikan. Padahal, dalam beberapa waktu lagi ia akan mengadakan rapat rutin internal. Namun, apa mau dikata. Kondisinya sekarang tidak memungkinkan untuk memimpin rapat. Salahkan sang ibunda yang pagi-pagi sudah merusak mood-nya. Memisahkannya dengan sang kekasih dalam lima hari ke depan. s**l.
"Pak, rapat akan-" Rudi langsung menatap sang atasan yang menggesturkan tangan untuknya berhenti bicara. "Ya, Pak?" tanyanya bingung.
Damar mengusap rambutnya perlahan. "Tolong handle rapat hari ini. Mood dan fokusku sedang kacau. Maaf," ucapnya pelan. Pria itu meraih kunci mobil dan jasnya kemudian. "Tolong ya, Rudi." Setelah menepuk-nepuk bahu Rudi, Damar pun langsung melengos pergi keluar ruangan.
Sekarang ini Damar sedang mengendarai mobilnya. Membelah jalan raya yang relatif normal, tidak ada kemacetan di sana. Tujuan pria itu saat ini adalah kembali ke apartemennya. Untuk melakukan registrasi ulang—sebab Damar akan pindah unit apartemen—sekaligus melihat-lihat keadaan tempat tinggal terbarunya di sana. Barangkali ada sesuatu yang harus ia modif di sana.
Kemarin, setelah bertanya kepada sang ayah tentang penthouse, Damar baru menyadari bahwa di apartemennya ada tersedia penthouse yang cukup elit dan mewah. Terfasilitasi oleh berbagai macam kemewahan dan pemandangan lantai teratas gedung. Langit jadi terlihat jauh lebih dekat. Semoga saja Kalila menyukainya, itu harapan Damar setelah yakin membeli penthouse itu.
Mobil Damar memasukki kawasan gedung apartemen. Ia menuju ruang bawah tanah gedung untuk memarkirkan mobilnya di sana. Setelahnya, langsunglah Damar melangkah lebar menuju aula untuk melakukan berbagai registrasi beserta remeh-temehnya.
Sekitar lima belas menit, registrasi sudah selesai dilakukan. Saat ini Damar sedang berada di lift untuk menuju ke lantai teratas gedung. Pria itu tidak sendiri, tentunya. Ia bersama dengan manajer apartemen. Bertugas untuk mencatat segala kebutuhan Damar terkait penthouse yang akan didiami pria itu bersama sang istri dalam waktu dekat. Seharusnya sih ia ke sini bersama Kalila. Namun, mengingat titah sang ibunda bahwa ia dan Kalila harus berjauhan serta mengingat niatnya untuk memberi kejutan pada Kalila, membuat segala keinginan itu terurung. Ya mau bagaimana lagi.
"Silakan dilihat-lihat dulu, Pak. Dan beritahu saja semua apa yang Bapak inginkan untuk penthouse ini," ucap manajer pria itu penuh kesopanan. Menanggapi hal itu, Damar hanya mengangguk kecil. Pria itu mulai menyisiri area unit apartemen yang agaknya lengang sebab tidak banyak perabot rumah tangga di sana. Matanya menatap sekeliling dan mengatakan sesuatu terhadap apa saja yang harus ditambah dan dikurangi dari penthouse itu. Sang manajer yang menemaninya dengan sigap mencatat semua yang Damar katakan.
Langkah kaki Damar pun membawanya menuju halaman penthouse yang cukup luas. Di sana, tersedia sebuah gazebo kecil. Sangat cocok untuk bersantai sembari memandangi langit. Tak jauh dari itu, ada sebuah kolam renang privasi persegi panjang seukuran sepuluh kali lima meter. Dengan sisinya yang terbatasi oleh kaca. Sepertinya, untuk halaman penthouse sendiri sudah cukup nyaman. Dan, Damar yakin bahwa Kalila akan menyukainya.
Ah, membahas tentang gadis itu, bagaimana kabarnya ya? Tiba-tiba saja Damar langsung merindukan gadisnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah. Namun, bagi pria itu adalah berhari-hari.
Oke, ini adalah hal terakhir untuknya berjauhan dengan Kalila. Setelah menikah nanti, tidak akan ia biarkan Kalila jauh-jauh dari sisinya. Tidak akan.
***
Malam hari itu, Kalila tengah sibuk merapikan pakaiannya di dalam lemari empunya Damar. Ia rapikan sedemikian rupa agar tidak bercampur dengan pakaian milik Damar. Ya meski pakaian Damar terbilang sedikit di lemari itu, tetap saja harus Kalila rapikan.
Waktu berjalan memang tidak terasa. Tahu-tahu nanti, ia sudah sah saja menjadi istri dari pemegang saham tertinggi perusahaan Prambudi. Ia akan menjadi Nyonya Prambudi dalam waktu dekat ini. Semua ini terasa mimpi. Ia si gadis biasa akan menikah dengan sang CEO luar biasa sekelas Damar. Sungguh, baginya itu sebuah hayalan tinggi di siang bolong. Namun, yang terjadi ini adalah kenyataannya. Bukan mimpi, bukan halusinasi, tetapi nyata!
"Oh, Allah," gumam Kalila setelah berbagai macam pikiran tidak menyangka masih berseliweran di benaknya. Sejak ia "diklaim" akan menjadi istri Damar, sejak itulah ia mulai berpikir bahwa semua yang terjadi ini adalah mimpi. Sepertinya gadis itu masih belum mempercayai semua kenyataan ini. Kenyataan yang justru diinginkan para gadis di luaran sana.
Kalila menggeleng cepat. Sepertinya ia harus segera tidur. Mungkin efek dari capek membuatnya masih mempertanyakan segala kenyataan ini. Seharian ini ia sibuk mengemasi barang-barangnya di yayasan. Tak hanya itu, ia juga disibukkan oleh tingkah manja beberapa anak di yayasan. Mungkin karena terakhir kalinya ia di sana, membuat para anak memanfaatkan waktu untuk bermanja ria dengan dirinya. Namun, atas semua itu, Kalila merasa senang dan tidak merasa keberatan sekalipun.
Setelah membersihkan diri dan melakukan "ritual" hariannya sebelum tidur, Kalila pun mulai mendekati tempat tidur. Wajahnya jauh lebih segar dari sebelumnya. Gadis itu menaiki ranjang dan segera berbaring di sana berselimutkan selimut yang hangat. Tangannya terulur menuju sakelar lampu di atas tempat tidur lalu ia nyalakan lampu hias agar keadaan kamar tidak terlalu gelap.
Kalila berdoa beberapa saat, setelah itu barulah ia mulai mencoba melelapkan diri menuju alam mimpi. Namun, baru beberapa menit menuju kata lelap, tiba-tiba saja gawainya yang berada di nakas berbunyi dengan nyaring. Kalila membuka matanya yang sedikit memberat. Tangannya terulur meraih gawai di nakas. Memeriksa, siapakah yang menelponnya di malam larut seperti ini?
Mata Kalila menyipit ketika layar gawai terpampang di depan wajahnya. Mencoba beradaptasi dengan cahaya gawai beberapa saat, sampai kemudian terlihatlah id penelpon di sana.
"Mas Damar?" gumam Kalila dengan serak. Alih-alih mengangkat panggilan video itu, Kalila justru berpikir dengan kejadian di sore hari tadi. Kejadian yang cukup lucu dan membentuk ulasan senyum di bibirnya.
Waktu itu di sore hari, Damar tiba-tiba menelponnya. Kalila kaget, mengingat bahwa hal tersebut dilarang oleh Darisa untuk beberapa hari ke depan sebelum pernikahan. Namun, karena terdorong rasa kasihan—sebab terhitung berpuluh kali Damar memanggilnya—Kalila pun akan segera mengangkat telpon itu. Baru ia akan bersuara, tiba-tiba saja Darisa langsung mengambil gawainya dan mengambil alih panggilan.
Awalnya berjalan normal, Damar mengatakan banyak hal yang menunjukkan bahwa pria itu tidak tahan berjauhan dengan dirinya. Namun, ketika Darisa mulai bersuara, langsunglah panggilan terputus. Seketika itu pula langsung mencipta gelak tawa Darisa. Sementara Kalila, hanya bisa tersenyum geli. Terlalu kasihan ia jika menyemburkan tawa layaknya sang calon mertua.
Kalila langsung kembali ke kenyataan. Gawainya masih saja berbunyi, entah panggilan yang ke berapa saat ini. Sebelum mengangkat, Kalila pun bergegas menyalakan lampu kamar dan memasang kerudungnya. Setelahnya, ia angkat panggilan itu. Langsunglah layarnya terpampang nyata wajah rupawan seorang Damar. Dilihat-lihat, pria itu sedang berbaring di ranjang dengan setengah badannya yang tidak berpakaian terselimuti oleh selimut bercorak hitam dan abu.
"Hei," ucap Damar dengan suaranya yang serak di balik telepon. "I miss you so bad."
Bersambung ....