Mobil itu mulai memasuki kawasan rumah mewah keluarga Prambudi. Sesosok gadis di dalam sana tampak terpukau atas kemewahan yang ada. Tanpa sadar mulutnya terbuka dan matanya tidak kunjung berkedip. Melihat itu, membuat Damar tersenyum tipis.
"Terpukau, hm?" tanyanya yang sudah memarkirkan mobil di antara mobil yang tersusun di sana. Tangannya mulai melepas seatbelt dengan mata yang tak berpaling dari sosok Kalila di sampingnya.
Kalila mengangguk kecil, menanggapi apa yang Damar tanyakan. "Indah," gumamnya dengan kedua mati berbinar, tak lepas dari melihat bangunan mewah bak istana di depannya.
"Mau rumah yang kayak gitu?" Damar mulai penasaran. Siapa tahu Kalila menginginkannya. Jadi, ia bisa mulai membelikan rumah untuk gadis itu dan akan menempatinya bersama ketika sudah sah menjadi suami istri. Namun, siapa sangka jika jawaban gelengan yang pria itu dapatkan.
"Terlalu besar. Takut," gumam Kalila entah disadarinya atau tidak. "Lebih baik yang kecil aja, tapi nyaman. Trus bisa melihat pemandangan langit secara langsung." Gadis itu tiba-tiba mengusap wajahnya sembari menggeleng kecil. "Ah, nggak-nggak. Ngomong apa si aku!"
Damar menaikkan satu alis, bingung atas gumaman gadisnya. Benaknya mulai memikirkan apa yang gadis itu ucapkan. Kecil tapi nyaman. Bisa melihat langit. Hm, i see, batin Damar mulai menemukan titik terang dari apa yang gadisnya inginkan. Oke, mulai besok ia akan berkeliling kota. Mencari tahu tempat tinggal yang pas untuk ditinggali setelah menikah nanti.
"Ayo turun," ajak Damar menyadarkan Kalila dari keterkagumannya. Gadis itu ingin membuka pintu, tetapi langsung dicegah oleh Damar. Kalila menoleh dengan bingung. Hingga ketika Damar turun terlebih dahulu, lalu berjalan memutar dan berhenti tepat di depan pintu mobil. Barulah Kalila sadar dengan apa yang pria itu ingin lakukan.
"Welcome," ucap Damar ketika Kalila turun dari mobil. Pria itut tersenyum tipis, kemudian berbisik, "jangan khawatir. Keluargaku baik dan pengen ketemu sama kamu." Wajah khawatir campur tegang dari Kalila tidak dapat membohongi Damar. Maka dari itu, sebisa mungkin ia membuat sang gadis tenang dengan ucapannya barusan.
Kalila hanya mengangguk kecil. Ia dan Damar secara beriringan mulai mendekati rumah. Di depan pintu sudah ada beberapa pelayan wanita yang tampak ramah. Kalila tersenyum dan menunduk kecil. Demi apa pun, jantungnya berdetak gila-gilaan di dalam sana. Semoga ia tidak melakukan kesalahan di hadapan keluarga besar Damar. Ia hanya tidak ingin membuat semua orang kecewa. Tenanglah, Kalila, batin gadis itu.
Pintu besar itu terbuka dan langsunglah mereka di sambut oleh sepasang suami istri dan sepasang kakak beradik.
"Selamat datang, Sayang." Darisa mendekati sang calon menantu dan memeluknya dengan erat. Tak lupa ia berikan kecupan demi kecupan di kedua pipi dan puncak kepala Kalila. "Mulai sekarang kamu bagian dari keluarga ini. Jadi, jangan malu dan sungkan manggil Bunda dan Ayah. Oke?"
Darisa tersenyum tipis setelah mendapati anggukan dari Kalila. Wanita itu kembali melayangkan kecupan di pelipis Kalila sembari tangan mengusap pelan punggung gadis itu. Mengingat bahwa sang calon menantu merupakan gadis yatim piatu, membuat rasa sayang semakin membuncah ruah. Namun, terlepas dari semua itu Darisa berterima kasih kepada Kalila. Sebab telah menerima Damar dengan apa adanya pria itu.
"Terima kasih udah nerima Damar," gumam Darisa melepas pelukan dan menatap wajah Kalila penuh kelembutan. Wanita itu mengusap kedua pipi Kalila kemudian.
Sementara itu, Damar tampak menghangat melihat kedekatan sang ibunda dengan sang calon istri. Pria itu kemudian menoleh dan menangkap raut sang ayah yang tak juga bisa menutupi rasa senangnya.
"Kakaknya manis," ucap Dara kepada Damar. "Cocok deh sama Bang Damar." Mendengar itu, membuat Damar hanya bisa tersenyum tipis.
"Kok lama datangnya sih?" tanya Darisa mendekati Damar dengan Kalila yang wanita itu gandeng. Baru akan menjawab, tiba-tiba saja Adnan berceletuk.
"Sengaja itu mah. Biar lama berduaan sama calon istri."
Damar mendengus. Matanya tertuju ke arah Adnan yang tampak santai dan cuek pembawaannya. "Bocah diem aja," ucapnya datar. Ia pasang deathglare-nya untuk memberi ancaman kepada sang adik. Ya, meski agaknya percuma sebab Adnan tidak mempan dengan hal tersebut.
"Gue udah 19 tahun. Paling beda beberapa tahun sama calon Abang. Dahlah, males." Setelah mengucapkan itu, Adnan pun berlalu pergi menaiki tangga. "Bun, Adnan nggak ikut dinner hari ini. Tugas kuliah numpuk," ucapnya sedikit nyaring. "Tapi ntar sisain tumpengnya ya."
Darisa menggeleng kecil. Setelahnya, wanita itu mengusap lengan Kalila dengan lembut. "Dia adiknya Damar. Adnan namanya. Itu anak emang perangainya gitu. Nggak sopan dan cuek. Jadi, harap maklum aja ya."
"Iya, Bun," sahut Kalila sopan sembari tersenyum tipis. Tiba-tiba saja, Dara mendekat dan mengulurkan tangannya.
"Salam kenal Kak Kalila. Namaku Dara." Dara tersenyum lebar sampai kedua mata gadis itu menyipit. Tangannya yang terulur langsung disambut hangat oleh Kalila.
"Salam kenal juga. Ngomong-ngomong, panggil Lil atau Lila aja ya. Biasanya Kakak sering dipanggil Kak Lil. Tapi terserah kamu deh manggilnya apa." Kalila terkekeh kecil. Gadis itu sangat menyukai pembawaan Dara yang ceria. Sangat berbanding terbalik dengan Damar dan Adnan.
Dara akan menyahut, tapi tiba-tiba terurung ketika muncul ide jail di benaknya. Gadis itu tersenyum geli. "Kalau manggil 'sayang' boleh nggak? Kan, itu artinya Dara sayang sama Kakak."
Kalila akan menjawab, niatnya sih mengiyakan. Namun, Damar tiba-tiba menyahut. "Nggak. Nggak boleh." Nadanya jengkel, begitu kentara sekali. Begitu pula dengan wajah bertekuk pria itu.
"Ih, kok nggak boleh sih? Suka-suka Dara, dong!" Dara memberengutkan bibirnya lucu. Pura-pura merajuk. Namun, ketahuilah, gadis kecil itu begitu senang. Ia jadi tahu sifat protektif sang abang. "Kak Lil juga nggak protes tuh. Iya 'kan, Kak?" Dan dibalas anggukan kecil oleh Kalila yang terkekeh. Sejenak terjadi adu mulut antara Damar dan Dara. Keduanya sama-sama tidak mau kalah. Sampai-sampai tidak menyadari bahwa Kalila bersama Darisa dan Adam sudah berlalu pergi menuju ruang makan.
"Nggak Abang, nggak Adek. Sama aja kelakuan. Maklumin ya, Sayang," ucap Darisa kepada Kalila.
***
Makan malam berjalan dengan hangat. Adam dan Darisa, selaku orang tua, kerap mengajak Kalila untuk berbincang. Entah membincangkan sesuatu terkait pekerjaan atau pun hal yang lebih privasi, seperti keluarga. Semua itu dilakukan tentunya untuk mengetahui lebih dalam calon menantu mereka. Sejauh ini, mereka bisa menilai bahwa Kalila anak yang baik-baik. Tidak mengherankan jika mampu menaklukan hati si sulung mereka yang sempat disangka gay itu.
"Kalila, kamu mulai sekarang tinggal di sini ya."
Mendengar ucapan itu, Kalila langsung tersedak. Damar yang khawatir langsung memberi gadis itu segelas air. Setelah dirasa mulai baikan, Kalila pun mulai berucap. Biar bagaimanapun, tidak sopan juga jika tiba-tiba tersedak seperti tadi. "Ma-maaf, Bun. Kalila kaget. Soalnya tiba-tiba banget."
"Kok kaget? Pekan depan kamu sama Damar udah mau nikah loh," sahut Darisa.
"Ya. Dan lebih baik kamu tinggal di sini mulai sekarang," ucap Adam dengan tenang. Pria itu menyesap kopi hangatnya.
Kalila melirik Damar dan kembali memusatkan matanya ke Darisa. "Kalila bahkan nggak bawa baju, Bun. Masih ada di yayasan. Ibunda Tari juga tahunya Kalila cuma makan malam di sini. Nggak nginap gitu," ucapnya membeberkan alasan. Namun, sepertinya sia-sia saja ujarannya itu.
"Udah, nggak pa-pa. Masalah baju itu nanti besok aja diambil. Untuk sementara kamu bisa pake baju Bunda. Trus, untuk Ibunda Tari itu 'kan bisa aja dihubungin. Kalo mau, ntar Bunda yang ngomong ke beliau. Oke?" sahut Darisa.
Kalila masih bimbang sejujurnya. Di sela itu, ia diberi bisikkan oleh Damar yang duduk di sampingnya. "Turutin aja. Nggak pa-pa." Mendengar itu, Kalila mengembuskan napas dan mengangguk setuju kemudian.
"Kamu nanti tidur di kamar Dara aja untuk sementara. Soalnya kalo di kamar tamu terlalu kekecilan."
"Kenapa nggak di kamar Damar aja?"
Langsung saja semua pasang mata menatap ke arah Damar. Tatapan mereka—lebih tepatnya Adam dan Darisa—menunjukkan tatapan membunuh. Sementara yang ditatap tampaknya tenang. Seolah apa yang diucapkannya tadi itu bukanlah hal yang salah.
"Jadi ngadi-ngadi kamu, Damar!" ucap Darisa menatap tajam sang anak. "Kalian belum sah!"
"Iya, betul. Bang Damar mah sembarangan banget jadi orang," kompor Dara sembari memakan es krim.
"Jangan coba-coba kamu," imbuh Adam dengan auranya yang memancar kemarahan.
Mengetahui semua itu, membuat Damar mendesah. Sepertinya ucapannya tadi itu salah diartikan oleh mereka. Padahal, niatnya baik. Ya, meski ada keinginan terselip di baliknya sih. Namun, itu hanya sekelumit. Niatnya yang benar dan lurus hanya ingin gadisnya nyaman berada di kamarnya. Seorang diri, tentunya.
"Kalian salah paham," ucap Damar tenang. "Aku cuma pengen Kalila tidur di kamarku aja. Sendiri." Damar menekankan kata 'sendiri' diucapannya. Mencoba meluruskan kesalahpahaman.
"Kirain," gumam Dara.
"Oh, gitu. Ya udah," sahut Darisa. "Tapi jangan coba-coba aja buat masuk ke kamar pas udah sepi. Awas aja. Nih, tangan Bunda," Darisa menunjukkan tangan kanannya ke Damar, "siap buat nyiksa kamu kalo kamu coba-coba."
Damar mendengus. "Bunda pikir aku penjahat kelamin apa."
"Ya kali aja." Darisa kemudian beralih menatap Kalila. "Kamu biar Bunda anterin ke kamar ya. Sekalian kita ambil baju ganti buat kamu di kamar Bunda." Darisa berdiri. Diraihnya tangan Kalila lalu dibawanya menuju kamar.
Damar mendengus untuk yang ke sekian kalinya. Rencananya ia ingin mengajak Kalila ke belakang rumah. Namun, sang bunda malah memonopoli gadisnya. Seketika, pria itu merasa terjajah. Miliknya diambil alih tanpa persetujuan.
Ya, memang lebay itu si Damar.
"Jangan maraaah," goda Dara kemudian berlari pergi menyusul sang bunda dan calon kakak ipar.
"Persiapan pekan depan gimana?" Adam membuka suara. Mengajak Damar untuk bicara. Hanya ada mereka berdua di ruang makan.
"Udah diurus beres sama WO yang juga dipantau langsung sama Rudi."
"Rencana fitting baju kapan?"
"Mungkin lusa. Soalnya besok mau nyari penthouse dulu."
Adam berkerut kening mendengar penuturan itu. "Penthouse? Kenapa nggak sekalian rumah aja? Buat ditinggali sama Kalila, 'kan?"
Damar mengangguk. "Iya. Kalila nggak mau, pengennya penthouse. Jadi, yaudah. Kuturutin aja," balasnya. "Oh, ya. Ayah tahu nggak di mana penthouse yang nyaman?"
***
Memasuki kamar Damar, Kalila dibuat heran. Aura kamar itu terasa suram dengan cahayanya yang begitu temaram. Hanya berteman cahaya di lampu hias saja. Warnanya kuning keemasan lagi.
"Astaghfirullah, ini anak," gumam Darisa mulai menyalakan lampu utama kamar. Kali ini jauh lebih terang. Namun, tetap terlihat muram sebab dinding kamar lebih didominasi warna abu gelap, ditambah dengan kasur, batal, selimut, yang warnanya rata-rata gelap. "Suram banget kamarnya. Lebih baik kamu nggak usah tidur di sini deh, Sayang. Kalo nggak betah. Ya?"
"Eh, enggak. Nggak masalah," sahut Kalila cepat. Ia sebenarnya tidak terlalu mempersalahkan kemuraman kamar ini. Jadi, tidak perlu untuk pindah kamar segala. Lagi pula, ia tidak ingin mengecewakan Damar yang sudah berbaik hati meminjamkan kamarnya untuk ia tiduri.
"Yakin?" Darisa bertanya, yang langsung dibalas anggukan mantap oleh Kalila. "Okedeh. Baik-baik di sini ya. Kalo bisa kunci kamarnya. Kalo Damar masuk diam-diam, 'kan nggak lucu." Kembali, dibalas anggukan oleh Kalila. Namun, dengan gerakan yang canggung.
"Haha. Damar itu sebenarnya anak baik kok. Cuma, itu anak nggak tertebak orangnya," ucap Darisa mencoba meluruskan ucapannya barusan. "Lama kelamaan kamu bakal tahu sifatnya gimana kok." Darisa mengulas senyum tipis, kali ini tidak sampai ke mata. Entah mengapa.
Kalila diberi pelukan hangat dan kecupan singkat di puncak kepala oleh Darisa. Setelahnya, barulah wanita itu keluar dari kamar.
Langsunglah Kalila mengembuskan napas perlahan. Gadis itu mendudukkan diri di samping ranjang dengan mata menyapu bersih area kamar. Hingga pandangannya jatuh ke sebuah figura di atas nakas. Diambilnya figura itu lalu diamatinya sejenak. Di sana terpampang nyata foto keluarga besar Prambudi. Ada Adam dan Darisa yang berdiri berdampingan. Di sisi masing-masing ada Damar dan Adnan dengan wajah mereka yang terkesan kaku. Kemudian, ada Dara sang berdiri di tengah-tengah Adam dan Darisa, memasang ekspresi ceria.
Keluarga besar itu tampaknya sempurna. Dan Kalila, tidak pernah terpikir sekalipun akan menjadi bagian anggota dari keluarga besar itu. Jika ini mimpi, harusnya ia sudah terbangun sedari tadi. Kenyataan memang tidak terduga hadirnya.
Sayup-sayup, Kalila mendengar suara ketokan. Gadis itu segera mendekat ke pintu kamar. Dibukanya pintu itu dan langsunglah ia disuguhi oleh sesosok pria yang telah berhasil membawanya sejauh ini. Siapa lagi kalau bukan Damar?
"Apa aku ganggu?" Damar menatap Kalila terang-terangan.
"E-enggak. Kenapa?"
"Aku mau ganti baju sebentar di kamar. Apa boleh?"
"Tentu. Toh ini kamar kamu juga," ucap Kalila yang tanpa sadar menjadikan ucapannya itu bermakna beda untuk Damar. Pria itu tersenyum miring dengan langkahnya yang mulai memasuki kamar lebih dalam.
Kalila tidak membiarkan pintu tertutup, malahan gadis itu membuka pintu seluas-luasnya. Biar bagaimanapun mereka belum terikat. Tidak baik tentunya berdua-duaan. Apalagi di kamar. Maka dari itu, sebisa mungkin Kalila mencegah segala sesuatu yang buruk terjadi sebelum kata sah itu ada.
Di sisi lain, Damar tampak berdiri tegap di depan lemari. Memilih baju ganti yang nyaman untuknya kenakan. Pilihannya jatuh ke kaus abu dengan celana pendek di bawah lutut berwarna hitam. Lagi-lagi, warna yang gelap. Rata-rata semua pakaian hariannya itu berwarna gelap. Memang ada salah satu pakaian sehari-harinya yang berwarna putih, tetapi sangat jarang pria itu pakai.
Damar akan langsung mengganti baju. Kemejanya sudah ia tarik ke atas, memperlihatkan sedikit perutnya yang atletis. Namun, tidak berapa lama ia turunkan kembali. Teringat ia bahwa masih ada Kalila di sana. Mungkin saja gadis itu merasa tidak nyaman. Dan, benar saja. Ketika ia menoleh, ia mendapati Kalila yang duduk dengan menangkup wajah menggunakan kedua tangan. Seketika mencipta senyum geli seorang Damar.
Tanpa berkata-kata, Damar segera memasuki kamar mandi. Mengganti pakaian di sana untuk menghormati Kalila yang tampaknya tidak nyaman dengan hal tak terduga tadi. Syukurnya Damar ingat ada Kalila di kamar. Jika tidak, mungkin akan ada teriakan melengking, yang langsung membuatnya menjadi tersangka kemesuman. Memikirkan itu membuat Damar merasa geli sendiri.
Bersambung ....