Malam ini adalah malam terakhir seorang Damar melajang. Tidak ada perayaan apa pun. Mengingat hal tersebut bukan budayanya dan Damar tidak secuil pun tertarik untuk merayakan hari terakhir ia melajang. Pria itu hanya diam di apartemen. Menikmati sekaleng soda sembari menikmati pemandangan langit malam dari balkon apartemen.
Damar mengembuskan napas kasar. Seketika ia langsung teringat dengan Kalila. Apa yang sedang gadis itu lakukan? Apakah sama seperti dirinya yang sibuk menikmati malam terakhir melajang? Atau ada hal lain yang gadis itu lakukan?
Rindu mulai datang hampiri. Damar akui bahwa ia benar-benar lemah dengan perasaan itu. Berjauhan dengan sang kekasih dalam waktu yang terbilang lama itu—menurut definisinya—sangatlah menyiksa. Jika ia diberi dua pilihan antara bekerja seharian non-stop atau bekerja jauh dari sang kekasih, tentu Damar akan memilih opsi pertama. Ia rela bekerja seharian non-stop dengan catatan ada orang tersayang yang menemaninya saat bekerja. Bersama Kalila, waktu rumit saat bekerja itu pasti akan cepat terlalui. Ya, katakan saja Damar bucin. Memang begitulah kenyataannya.
"s**l," gumam Damar setengah kesal. Kaleng soda yang sudah habis ia lempar ke sembarang arah. Tak berapa lama, terdengar suara teriakan dongkol seorang pria. Membuat Damar bergegas memasuki kamar dan menutup pintu balkonnya rapat-rapat. "Ups, maaf. Nggak sengaja," ucap pria itu lalu terkekeh geli.
Damar melangkah menuju rak buku, mengambil buku bacaan di sana. Lalu, ia duduk santai di sofa. Membaca lembar demi lembar buku itu. Merupakan salah satu usahanya untuk memangkas waktu. Namun, entah mengapa waktu berjalan begitu lambat. Waktu seolah mempermainkannya agar ia berlama-lama tersiksa dengan yang namanya rindu.
Mata setajam elang itu melirik jam di nakas. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Dipikirannya saat ini adalah Kalila yang sedang beristirahat di kamar. Bergegas Damar meraih gawainya dan menghubungi Kalila. Tidak disangkanya jika Kalila begitu cepat mengangkat panggilannya. Seperti orang yang sudah lama menunggu untuk dipanggil.
Langsung saja senyum miring tercetak. Dengan bangganya, Damar berucap, "kangen, heh?"
"Huh?" Suara itu mulai terdengar. Damar memposisikan diri berbaring di ranjang. Senyum tak ubahnya pudar. Hanya bersama Kalila, ia yang jarang tersenyum itu bisa tersenyum begitu rupa. Hanya bersama Kalila, ia bisa menunjukkan sisinya yang lain, yang tak banyak orang ketahui. Ya, hanya bersama gadis itu.
"Huh apa, hm?"
"Ng-nggak. Nggak pa-pa," balas Kalila tampak canggung.
"Kamu gugup karena besok?" tanya Damar.
"Um, sedikit," balas Kalila jujur. "Tapi kamu pasti lebih gugup. Soalnya besok kamu bakal ngucapin akad."
Damar tersenyum tipis. "Nggak. Aku nggak merasa gugup sama sekali." Ya, pria itu tidak berbohong. Tidak ada secuil pun rasa gugup.
"Seriusan? Apa kamu udah latihan untuk akad besok?"
"Ya. Udah. Jauh-jauh hari. Makanya aku nggak gugup lagi. Dan aku yakin akad besok akan lancar dan bakal cepat selesai." Damar tersenyum bangga.
Hening kemudian. Kalila tidak lagi membalas ucapan Damar. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Sudah dikatakan di awal bahwa gadis itu sangat tidak pandai memulai pembicaraan. Apalagi dengan Damar. Sosok yang masih terasa abu, menurut definisinya.
"Kita vidcall ya?" bisik Damar yang langsung disangkal cepat oleh Kalila. Membuat Damar merasa kecewa. Ekspresi wajahnya kini tampak begitu sedih. "Kenapa?"
"Telponan aja," balas Kalila pelan.
"Kenapa?" tanya Damar untuk yang kedua kalinya. Nadanya kini jauh lebih datar dan terkesan mengintimidasi. "Ada sesuatu, hm?"
Di balik telepon, Kalila mengembuskan napas kasar. "Aku di kamar Bunda." Jeda dalam beberapa detik. "Bunda lagi liat. Katanya telepon aja boleh, vidcall jangan."
Langsung saja Damar mendengus. Ingin rasanya ia mengeluarkan semua kalimat sumpah serapahnya. Namun, ia tahu diri bahwa hal tersebut tidak lah baik.
"Hah, dasar Bunda," gumam Damar tampak pasrah. "Bilangin ke Bunda, setelah sah nanti aku bakal balas dendam sama Bunda. Nggak bakal kubiarin istriku ketemu sama Bunda. Bilangin gitu ya-"
"Damar! Mau jadi anak durhaka kamu?!" Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familier. Membuat Damar kembali mendengus. Tangannya mengusap kasar wajahnya dan mengacak-acak rambutnya frustrasi.
"Serah Bunda. Capek ladenin Bunda terus."
"Capekkan mana sama Bunda yang ngelahirin kamu trus jaga kamu dari kecil? Tega kamu ya, Nak. Nggak nyangka Bunda rasanya."
"Oh, damn!" Damar menggerutu. Bunda kumat lagi, pikirnya.
"Jangan ngomong kasar!" Darisa berseru. Wanita itu kemudian mengomel layaknya emak-emak pada umumnya. Membuat Damar memutar bola matanya dengan malas.
"Bunda marah-marah mulu. Inget umur, Bun," ucap Damar malas. "Mending kasih ke Kalila aja. Aku masih mau ngomong sama dia."
"Nggak! Urusan kita belum selesai, Damar." Sang bunda tidak mau mengalah. Entah apa yang terjadi dengan bundanya itu, yang pasti Damar merasa kesal. Untung Bunda, batinnya.
"Apalagi sih, Bun." Damar kini mengubah posisi menjadi duduk. Wajahnya tampak sangat kusut.
"Pokoknya kamu nggak boleh balas dendam sama Bunda!"
"Lah? Suka-suka aku dong, Bun. Istri-istri aku juga."
"Istri-istri? Jangan bilang kalo nanti kamu ada niatan nambah istri?!"
"Iy- apa?" Langsunglah Damar menepuk dahinya pelan. Sepertinya Darisa sudah salah paham dengan ucapannya itu. Ah, selalu saja ucapannya disalah artikan. Sebenarnya siapa sih yang salah?
Damar akan ungkapkan penyangkalan terhadap apa yang sudah bundanya sangkakan. Namun, semua itu terurung kala ia mendengar tawa geli dari seseorang. Tawa dari sosok yang begitu berarti bagi Damar pribadi. Ya, Kalila sedang tertawa. Tertawa begitu lepasnya. Meski hanya terdengar dari pelantang gawai, Damar tetap merasa hangat dan bahagia. Ia jadi membayangkan betapa lucunya raut wajah gadisnya ketika tertawa. Haha.
"Tuh, Kalila ketawa banget," bisik Darisa terkekeh kecil. "Makasih ya, Sayang. Kamu emang partner lawak terbaik. OTW jadi pelawak nih, haha."
"A-apa? La-lawak?" Damar sweatdrop. "Dari tadi aku nggak niat ngelawak, Bunda!"
Bunda, oh, Bunda. Tiada hari tanpa menistakan anaknya sendiri.
***
Tibalah hari yang paling ditunggu-tunggu. Hari paling bersejarah. Bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan sakral yang disebut pernikahan. Pengikraran sebuah janji dan komitmen dalam meniti masa panjang bersama. Menerima kekurangan, memperbaiki kekurangan, saling melengkapi dan mengasihi satu sama lain. Tak ada lagi kata aku dan kamu, yang ada hanyalah kita. Kita dalam mengarungi samudra luas yang bernama rumah tangga.
Tampak seorang pria yang gagah dalam balutan seragam formal berwarna putih, disertai dengan peci yang sewarna serupa. Ialah Damar. Semakin tampan sosok itu. Begitu berwibawa dan sangat berkharisma.
"Gantengnya abangku," ucap Dara sembari memeluk sang abang dengan erat. "Semoga ntar Dara bakal punya suami seganteng Abang!"
Damar mendengus. Diusapnya kepala Dara yang terlapisi oleh kerudung pink itu. "Fokus sekolah dulu. Baru kelas enam SD udah mikir suami-suami aja."
"Ih, Abang mah. Bentar lagi aku kelas satu SMP tau!"
Damar menggeleng kecil. Ia kemudian beralih menatap sang adik lelaki yang tampak datar wajahnya. Ya, begitulah sesosok Adnan. Pemuda itu mendekati Damar dan menjabat tangan pria itu dengan sedikit kaku. Membuat Damar kembali mendengus. Itu anak memang tidak terlalu ekspresif orangnya.
"Semoga bahagia, Bang," ucap Adnan datar. Pemuda itu lalu melirik sang ibunda dan ayah yang baru saja datang. "Cepet bikin anak ya. Pusing denger Bunda minta cucu Mulu."
Damar sweatdrop. Ingin sekali ia menjitak adiknya yang budiman dan sangat akhlakless itu.
"Akhirnya kamu menikah juga, Sayang. Bunda pikir kamu bakal membujang seumur hidup, haha." Darisa memeluk Damar erat. Menepuk-nepuk bahu pria itu cukup kencang. "Jadilah suami yang baik. Jangan sakitin mantu Bunda. Awas aja! Ntar Bunda geprek kamu!"
"Iya, Bun," balas Damar tersenyum tipis. Ia beralih dipeluk oleh sang ayah kemudian.
"Seperti biasa, kamu ganteng kaya Ayah," ucap Adam dengan kebanggaan seratus persen. "Semoga sakinah mawadah wa rahmah. Ayah dan Bunda selalu doakan yang terbaik buat kamu."
Damar tersenyum tipis. Pria itu membenarkan letak peci di kepala, lalu sedikit memperbaiki seragam yang ia kenakan. Setelahnya, barulah ia melangkah dengan gagah berani menuju tempat yang akan menjadi saksi bisu ia mengikrarkan perjanjian sakral itu.
Di lain tempat, ada Kalila yang duduk anggun di hadapan cermin. Tampilannya kini sungguhlah sangat berbeda. Baju pengantin putih dengan bordiran dan renda bunga yang begitu indah. Tak lupa dengan kerudung putih yang melingkupi kepalanya. Serta sebuah mahkota kecil di kepalanya, mempermanis tampilan gadis itu. Satu kata yang pas untuk Kalila saat ini: cantik.
Sejujurnya, Kalila sangatlah gugup. Di bawah sana ada Damar yang akan berhadapan dengan penghulu, mengucapkan kalimat sakral itu. Harap cemas ia. Semoga saja Damar lancar dalam mengucapkan itu. Meski sudah dikatakan bahwa pria itu tidaklah gugup, tetapi yang namanya manusia pasti ada rasa gugupnya. Mungkin saja gugup tiba-tiba datang secara tak terduga. Benar, bukan?
"Sayang." Seseorang memanggil, membuat Kalila langsung menoleh. Didapatinya Darisa yang tersenyum begitu lebar dengan langkah menghampiri dirinya. Wanita itu kemudian berbisik, "turun yuk. Akad udah selesai."
Mendengar itu, membuat Kalila terbelalak kaget. Secepat itu? batinnya. Ucapan damar malam tadi itu bukanlah main-main rupanya.
Kalila menarik napas lalu diembuskannya secara perlahan. Gadis yang sudah berubah status menjadi istri itu pun mengangguk kecil. Tangannya yang terlapis sarung tangan renda itu pun meraih tangan Darisa yang terulur. Bersamaan mereka turun ke bawah. Menemui sang mempelai pria yang tampaknya tidak sabar untuk bertemu sang mempelai wanita.
Gugupnyaaaa, batin Kalila berteriak. Sedari tadi ia menunduk dalam. Lantai lebih menarik baginya daripada menatap ke depan, saat semua orang menatapnya. Tak terkecuali Damar. Pria itu begitu terpesona dengan Kalila. Di matanya, Kalila bak bidadari yang jatuh dari surga.
"Cantik sekali," gumam Damar ketika Kalila sudah ada di sampingnya. Tangan pria itu meraih cincin lalu segera dipasangkannya ke jari manis Kalila. Kemudian, bergantian Kalila yang memasangkan cincin ke jari Damar. Namun, ada hal unik terjadi. Tangan Kalila yang memegangi cincin itu tampak bergetar begitu kentara. Tak heran semua orang yang melihat itu terkekeh kecil. Gemas dan maklum dengan kegugupan Kalila.
"Jangan gugup," bisik Damar lembut. "Tenanglah."
Kalila mengangguk kecil. Berusaha ia menetralkan detak jantungnya yang berdetak gila-gilaan di dalam sana. Tak lama kemudian, ia pun merasa lega sebab cincin sudah terpasang sempurna di jari manis empunya Damar.
"Terima kasih," ucap Damar menatap Kalila terang-terangan. Pria itu memejamkan matanya seriring dengan wajahnya yang mulai mendekat ke wajah Kalila. Dan, satu kecupan lembut berhasil ia layangkan ke kening Kalila. Sontak para tamu bersorak gemuruh. Merasa bahagia atas apa yang telah mereka saksikan.
Prosesi akad telah berakhir dengan manis. Aura positif begitu menguat, terpancar ke seluruh penjuru gedung. Kini, saatnya resepsi. Penjamuan untuk para tamu yang telah berhadir.
Tampak Damar dan Kalila yang duduk bersisian di panggung aula. Menjamu setiap tamu yang tak hentinya datang untuk mengucapkan selamat kepada mereka. Selang beberapa saat kemudian, kedua pengantin baru itu pun bisa duduk beristirahat di singgasana mereka.
"Lelah?" tanya Damar dengan tangan mengusap kepala Kalila lembut.
"Hu'um." Kalila hanya menjawab dengan gumaman. Gadis itu menatap lurus ke depan. Melihat para tamu yang begitu ramai menikmati makanan yang tersedia. Perasaannya kemudian menghangat. Dan tiba-tiba saja ia teringat dengan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Gadis itu membayangkan betapa bahagianya raut wajah ibu dan bapaknya ketika menyaksikan ja menikah. Tak bisa dimungkiri, Kalila mulai terbawa suasana. Menangis. Menunduk gadis itu, tak ingin orang mengetahui bahwa ia sedang menangis. Namun, semua itu tak akan pernah luput dari seorang Damar.
"Kenapa nangis?" Damar meraih dagu Kalila perlahan. Setelah wajah sembab gadis itu terpampang, barulah Damar mengusap air mata Kalila dengan jemarinya. "Ada apa? Ceritalah."
Kalila menggeleng. Gadis itu kemudian tertawa sumbang. "A-aku cuma ngebayangin betapa bahagianya mendiang Ibu sama Bapak pas liat a-anaknya udah-" Kalila tak sanggup melanjutkan ucapannya. Gadis itu kembali menangis. Dengan sigapnya Damar membawa sang istri ke dalam pelukannya. Tak peduli menjadi pusat atensi. Bersama Kalila, dunia serasa milik sendiri.
"Mereka bahagia. Pasti," ucap Damar menenangkan Kalila. Pria itu kemudian menangkap sosok Darisa yang bertanya lewat tatapan padanya. Mengerti, Damar pun mengucapkan sesuatu tanpa mengeluarkan suara. Memberitahu apa yang tengah terjadi pada istrinya. Dari gelagat, Damar bisa menilai bahwa Darisa mengerti atas ucapannya tadi. Membuat pria itu membuang napas kecil lalu kembali fokus pada Kalila.
Setelah merasa agak lebih tenang, Kalila mulai melepaskan diri dari dekapan hangat seorang Damar. Gadis itu menghapus kasar air mata di kedua pipinya. Syukurnya, make up yang ia pakai sekarang berbahan waterproof. Jadi, aman kalau terkena air mata.
Semoga Ibu dan Bapak tenang di alam sana. Dan semoga Kalila bahagia, batin Kalila berdoa. Tiba-tiba saja gadis itu dikejutkan dengan genggaman erat Damar pada tangan kanannya yang tak lagi terlapis sarung tangan. Ia menoleh dan mendapati tatapan menghanyutkan milik Damar. Gugup ditatapan seperti itu, membuat Kalila mengalihkan pandangan untuk menatap ke depan. Jantungnya langsung berdetak gila-gilaan di dalam sana. Apalagi ia bisa merasakan punggung tangannya yang dicium lama oleh pria itu, Damar.
"Aku janji bakal ngebahagiain kamu," ucap Damar kemudian kembali mengecup punggung tangan Kalila dengan lembut. "Aku janji bakal jadi suami yang baik buat kamu." Kecupan beralih pada telapak tangan. "Dan aku janji bakal menepati segala janji." Kecupan terakhir Damar layangkan ke jemari lentik Kalila. Kali ini dalam waktu yang cukup lama. Membuat darah berdesir ke seluruh tubuh Kalila sampai ke wajah, yang mengakibatkannya menjadi sangat-sangat merah.
Damar melepaskan kecupannya. Ia pandangi Kalila yang tampak malu-malu dengan wajah merah merona. Kemudian, pandangannya menurun ke bawah, tepat ke kedua tangan Kalila yang tampak gelisah memelintir ujung kerudung. Membuat Damar mendengus menahan tawa. Tiba-tiba, muncul sebuah ide jail di benaknya. Senyum pun tercetak miring. Pertanda bahwa ia sudah siap untuk menggoda sang istri.
Perlahan, Damar mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Kalila. Setelah itu, ia berbisik seduktif. Membuat Kalila mendelik lebar dengan tubuhnya yang mulai bergidik. Mengetahui hal tersebut, membuat Damar mati-matian menahan tawa. Pria itu lalu mengecup telinga Kalila yang terlindung kerudung. Setelahnya, barulah wajahnya ia jauhkan. Senyum pun tercetak penuh kemenangan.
Sementara itu, Kalila masih saja diam mematung. Bisikan Damar tadi itu begitu berdampak pada dirinya. Begitu hebatnya.
Kira-kira, apa yang Damar bisikkan kepada Kalila tadi ya?
Bersambung ....