Kalila. Kausudah sah menjadi istri seorang CEO. Apa yang harus kau lakukan? Tentu, menjadi istri yang baik dan berbakti kepada suami. Namun, segampang itukah? Oh, sepertinya tidak. Terlebih kaumasih merasa abu terhadap sosok yang menjadi suamimu itu. Lantas, apa yang harus kaulakukan sekarang?
Well, seperti itulah sekelumit pikiran abstrak yang merumitkan Kalila saat ini. Sampai-sampai gadis itu duduk diam merenung di sofa ruang tengah. Di tengah ramainya suasana rumah dalam mempersiapkan syukuran keluarga pascanikah.
"Kok melamun?"
Seseorang mengejutkan Kalila dengan sebuah sentuhan di kepala. Ketika ia menoleh, langsunglah ia mendapati sesosok yang menjadi andil dalam merumitkan pikirannya saat ini. The one and only, Damar. Pria itu beralih duduk di samping Kalila, memperhatikan secara terang-terangan gadis yang telah resmi menjadi miliknya.
"Why, hm?"
Kalila bergidik saat dirasakannya tangan Damar melingkari pinggangnya penuh keposesifan. Seketika rasa gugup muncul dan membuatnya otomatis tidak tahu harus bersikap apa. Dalam hati, Kalila merutuk. Merutuk diri sendiri yang selalu lemah jika berhadapan dengan Damar. Selalu tidak bisa bersikap sebagaimana harusnya ia bersikap.
"Sakit?" Damar menggunakan satu tangannya yang bebas untuk menyentuh kening Kalila, memeriksa suhu badan. Namun, yang ia rasakan adalah suhu tubuh Kalila yang cukup normal. Tentu, Damar semakin bertanya-tanya. Apa yang tengah terjadi pada sang istri? Diam dan melamun.
Di tengah kebisuan Kalila, Damar berpikir keras. Berusaha memecahkan kode seorang wanita yang diam, melamun, dan membisu itu. Sampai beberapa saat kemudian, Damar mendapat titik terang. Dipikirannya saat ini adalah mungkin saja Kalila gugup di hari pertamanya ia berstatus sebagai seorang istri.
Seringai pun tercetak begitu rupa pada Damar. Ide menarik muncul dipikirannya. Ide yang tidak lepas dari menggoda Kalila. Melihat wajah gadis itu memerah dan salah tingkah menjadi kesenangan tersendiri bagi Damar.
Dengan gerakan tiba-tiba, Damar menarik tubuh Kalila agar lebih dekat dengannya. Sontak membuat Kalila tersentak kaget. Ketika ia menoleh, langsunglah ia menghadapi raut wajah aneh itu. Damar yang tersenyum ganjil seiring dengan wajahnya yang mulai mendekat.
Kalila tampak panik. Gadis itu tanpa sadar mencengkram kuat lengan sofa. Dalam hati, gadis itu menjerit kuat. Menjerit memikirkan apa yang akan Damar lakukan padanya jika ia terus berdiam diri saja sedari tadi.
"M-mas," ucap Kalila setelah berusaha keras. Gadis itu tiba-tiba memejam refleks saat dirasakannya kening Damar menempel di keningnya. Perlahan, Kalila mulai membuka mata. Langsung saja matanya bertubrukan dengan mata setajam elang empunya Damar.
"Apa?" tanya Damar berbisik seduktif. Napasnya begitu terasa menerpa permukaan wajah Kalila.
"J-ja-jangan-"
"Jangan apa?" Seiring dengan pertanyaan itu, tangan Damar mulai beralih menuju tengkuk Kalila yang masih terlindung kain kerudung. Sekelebat niat usilnya untuk menelusup di balik kain itu—sekadar untuk menggoda—langsung terurung seketika. Damar takut tidak bisa menahan gejolak dalam dirinya. Membuatnya bisa melakukan sesuatu di tempat itu juga. Oh, tidak, kauharus menahan diri, Damar.
Damar mengusap lembut bagian tengkuk Kalila, lalu beralih mengusap puncak kepala gadis itu. "Mencium istri sendiri boleh aja, 'kan?" Matanya terkunci pada bibir Kalila. Bibir ranum yang begitu menggoda iman seorang Damar.
Kalila menggeleng. Ia ingin katakan bahwa situasi saat ini tidaklah tepat. Bagaimana mungkin pasangan suami istri melakukan hal romantis itu di ruang tengah keluarga? Terlebih, keadaan rumah cukup ramai. Hanya di beberapa bagian rumah saja yang agaknya sepi, layaknya di ruang tengah ini. Namun, bukan berarti bisa melakukan sesuatu seenaknya. Kalau tertangkap basah, bagaimana? Jatuhnya malu bukan main.
"Mumpung sepi," bisik Damar yang mulai semakin memangkas jarak. Spontan Kalila memejam kuat, membuat Damar hanya bisa tersenyum geli. Di saat jarak bibirnya dengan Kalila sudah nyaris terhapuskan, pria itu tiba-tiba berhenti dan malah beralih melayangkan ciuman ke pipi kanan Kalila. Setelahnya, barulah Damar tertawa kecil. Merasa puas sebab sudah berhasil menggoda Kalila. Bersamaan dengan itu, Darisa dan Adam pun datang. Mereka menggeleng pelan atas apa yang baru saja mereka saksikan. Mereka memaklumi status Damar dan Kalila yang merupakan pengantin baru. Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontak. Duh.
"Udahan dulu ya romantis-romantisnya," ucap Darisa terang-terangan. "Kita makan-makan dulu di halaman belakang."
"Iri bilang bos," gumam Damar yang masih bisa didengar oleh Darisa. Pria itu menggenggam erat tangan Kalila, lalu dibawanya sang istri menuju halaman belakang. Meninggalkan Darisa dan Adam yang masih terdiam di tempat.
"Dasar anak itu," ucap Darisa mendengus geli. "Damar kalo kayak gitu bawaannya pengen ditonjok. Nempel mulu kayak perangko sama Kalila."
Adam menggeleng ringan. "Ya namanya juga pengantin baru. Maklum."
***
"Mau ngapain?" Damar menatap sang adik dengan nyalang. Ditatap seperti itu, membuat Dara memberengutkan bibirnya lucu. Ia seperti orang jahat yang dicurigai, padahal niatnya hanya ingin mengajak Kalila bermain dengan dirinya. Abangnya itu memang ngeselin kalo udah over possesive.
"Ish, Dara mau ngajak Kak Lil main!"
"Main apaan?"
"Main masak-masakan!" ketus Dara. "Ya enggaklah. Cuman mau ngobrol sama Kak Lil. Trus mau cerita juga sama Kak Lil. Kak Lil 'kan officially Kakak aku!"
"Officially mine," ucap Damar seolah meralat. Tampak angkuh wajah yang ditunjukkan pria itu. Membuat Dara geram dan ingin rasanya mencakar-cakar wajah rupawan itu.
Sementara itu, Kalila yang tengah "diperebutkan" hanya bisa mengembuskan napas kasar. Gadis itu menyentuh bahu Damar, seketika membuat pria itu menoleh dan memasang ekspresi tanya.
"Udah. Nggak pa-pa," ucap Kalila dengan lembut. Tangannya yang masih bertengger di bahu itu, langsung digenggam erat oleh Damar dan diremasnya pelan. Seolah tidak ingin melepaskan.
"Astagaaaa, Abang! Cuma bentaran doang, Ya Allah!" Dara geram. Gadis remaja itu berpeluk tubuh dengan wajahnya yang sudah bertekuk. Asli, abangnya itu benar-benar mengesalkan. Menurutnya, terlalu posesif itu tidaklah baik. Terlebih posesif di situasi yang tidak seharusnya bersikap demikian.
"Ya udah." Dengan berat hati, Damar membiarkan Kalila lepas dari genggamannya.
Langsung saja Dara membawa Kalila duduk di salah satu gazebo. Ternyata, di sana sudah tersedia berbagai macam cemilan. Entah hal apa yang sedang remaja itu rencanakan saat ini.
"Ada apa ini?" tanya Kalila mulai duduk di alas gazebo yang berlapiskan karpet. Matanya menyorot ke arah Dara yang tampak semringah wajahnya.
"Dara cuma mau berbagi cerita sama Kak Lil," balas Dara bersemangat.
"Cerita? Cerita apa? Bakal Kak Lil dengerin kok."
"Asik! Nah, jadi gini Kak. Aku suka sama temen sekelasku. Trus tu kan Kak, dia ...." Dan mengalirlah cerita klise problematika remaja pada umumnya. Kalila diam mendengarkan dan sesekali ia tersenyum tipis. Menyadari raut wajah malu-malu Dara, membuat Kalila jadi teringat dengan masa pubertasnya. Emosi yang tidak stabil dan terlalu gampang menaruh rasa kepada orang lain. Ya, begitulah remaja. Masih disibukkan oleh percintaan monyetnya.
Di sisi lain, Damar duduk diam di tempat dengan mata memusat ke gazebo yang tak jauh dari pandangannya. Pria itu tidak sendiri. Ada Adnan dan kedua orang tuanya di sana.
"Ngeselin banget lo, Bang!" Tiba-tiba, Adnan berceletuk. Spontan membuat Damar menoleh ke samping. Satu alisnya terangkat, bertanya-tanya atas sikap adiknya itu.
"Dari tadi Bunda sama Ayah ngajak lo ngomong."
"Hm?" Damar beralih menatap Adam dan Darisa. Sekali lihat pun ia bisa merasakan kekesalan orang tuanya. Sungguh, ia tidak sadar kalau sedari tadi ia diajak bicara oleh kedua orang tuanya. "Maaf," gumam Damar merasa sedikit bersalah.
"Untung pengantin baru. Masih bisa dimaklumin," ucap Adam.
"Tadi ngomongin apa emang?" tanya Damar santai.
"Ada rencana bulan madu nggak? Kalau ada, Bunda sama Ayah mau rekomendasiin tempat terbaik," ucap Darisa. "Sebuah kediaman sederhana yang di kelilingi danau, dan tentunya ada jaringan internet di sana. Luas, asri, bebas dari polusi. Tempatnya seperti desa, tapi sebenarnya bukan desa. Dulu, Bunda sama Ayah pernah tinggal di sana waktu kamu kecil. Sampai kamu umur tujuh tahun, baru pindah ke kota dan menetap sampai sekarang."
Damar tampak mencoba mengingat sesuatu. Sampai, ia pun teringat tentang sebuah rumah sederhana berbahan dasar kayu yang pernah orang tuanya ceritakan padanya. Rumah pribadi di luar kota kepemilikan orang tua Adam, yang kepemilikannya diserahkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. "Oh, yang pernah Ayah sama Bunda ceritain itu?" Dan dibalas anggukan oleh Adam dan Darisa. "Bukannya udah dijual ya?"
"Iya, rencana. Tapi Bunda kamu larang," jawab Adam sembari melirik Darisa. "Katanya sayang, trus banyak kenangan. Bahkan ada rencana mau dijadiin bisnis di sana, tapi tetap aja Bunda kamu larang." Adam mendengus. Lain hal dengan Darisa yang terkekeh geli.
"Banyak banget kenangan di sana. Jadi sayang aja kalo dijadiin bisnis, apalagi dijual."
"Trus rumah itu nggak dihuni siapa-siapa?" tanya Damar yang langsung dijawab anggukan serempak kedua orang tuanya.
"Paling cuma ada penjaga sama perawat rumah di sana."
Damar mengangguk kecil. Bulan madu di kediaman itu boleh juga, pikirnya. Ya meski ia awalnya sudah berniat ingin bulan madu ke luar negeri. Namun, tiba-tiba berubah pikiran untuk berbulan madu di dalam negeri, di rumah pribadi keluarganya di luar kota. Kalau diingat-ingat, tempatnya itu seperti sebuah desa. Pun, yang terpenting adalah sederhana. Sebab Kalila menyukai kesederhanaan. Maka dari itu, Damar berpikir bahwa Kalila pasti akan senang berbulan madu di sana.
"Mungkin pekan depan kami bulan madu ke sana," ucap Damar yang langsung ditanggapi heboh oleh sang ibunda.
"Alhamdulillah! Berapa lama?" tanya Darisa yang tidak mampu membohongi perasaan gembiranya. Yang dipikiran wanita itu adalah cucu, cucu, dan cucu. Keinginannya untuk memiliki cucu memang sudah berada di puncak ternyata.
"Dua pekan sepertinya." Damar tersenyum tipis.
"Hm. Tapi jangan lupakan pekerjaan kantormu, Damar," ucap Adam sembari menyesap secangkir kopi. Hingga tiba-tiba, pria itu tersedak sebab Darisa tiba-tiba menyikutnya. "Kamu kenapa senggol-senggol sih?" Adam memasang ekspresi kesal seiring dengan tisu yang ia usapkan ke sudut bibirnya.
Darisa gemas. Wanita itu langsung berbisik ke telinga Adam. "Harusnya kamu jangan bilang gitu ih. Biar mereka fokus bulan madu. Biar cepet-cepet dapat momongan!"
Damar tahu apa yang bundanya bisikkan pada sang ayah. Pria itu mendengus, lalu berucap, "tenang. Sepekan ini aku bakal nyelesaikan apa yang harus aku selesaikan. Biar tenang saat bulan madu nanti."
"Kerja bagus," gumam Adam tampak senang. Pria itu lalu beralih menatap sang anak kedua, yang tampak cuek memainkan gawai. "Ekhm! Selama dua pekan Damar bulan madu, kamu yang bakal ganti posisi di perusahaan, Adnan."
"Loh? Kok aku?" Adnan tampak tidak terima. Pasalnya, bermain saham atau apa pun itu yang berhubungan dengan perusahaan, bukanlah keahlian Adnan sama sekali. Pemuda itu hanya ahlinya dalam mempermainkan perasaan seorang gadis—ups, canda. Akan tetapi, ada benarnya juga sih. Adnan saja yang tidak menyadari itu semua.
"Lo bakal dibimbing sama Rudi. Tenang saja," timpal Damar santai. Tak berapa lama, Adnan melayangkan pria itu dengan sebiji permen. Tepat mengenai kepala. "Akhlakless banget jadi adek," ucap Damar meringis sembari mengusap kepalanya yang sedikit berdenyut itu.
"Nggak. Gue sibuk. Banyak kerjaan. Tugas kuliah, tugas organisasi. Banyak."
"Bo'ong banget!" celetuk seseorang. Ialah Dara yang berjalan bersama Kalila. Melihat Kalila, sontak membuat Damar tampak senang. Pria itu langsung menyuruh sang istri untuk duduk di sampingnya. Sementara Dara, gadis itu duduk di samping Adnan yang masih memasang ekspresi kesal.
"Bang, ini semua demi permintaan Bunda," bisik Dara kepada Adnan. "Bang Damar bulan madu itu biar fokus bikin anak, bukan?" ucap Dara dengan polosnya. Syukurnya hanya ia dan Adnan yang mendengar. Kalau tidak, bisa dibayangkan betapa memerahnya wajah kakak iparnya sekarang. Lain hal dengan Damar yang akan tampak biasa saja.
Pada akhirnya, Adnan pun mengembuskan napas kasar seiring dengan anggukan setuju atas menggantikan kekosongan kursi perusahaan. Membuat senyum lebar tercetak begitu rupa pada sang ayah.
"Itu baru anak Ayah," ucap Adam bangga.
Adnan memasang wajah datar. "Dahlah. Mau tidur," ucapnya cuek lalu melangkah pergi memasuki rumah.
"Sepekan ini Damar bakal sibuk-sibuknya kerja. Nah, karena itu, kalian tinggal aja dulu di rumah, ya?" Darisa tersenyum lebar. "Biar Kalila ada temennya. Damar pasti banyak lembur selama sepekan itu."
Kalila yang tidak tahu apa-apa perkara rencana bulan madu itu hanya bisa memasang wajah bingung. Ia melirik Damar yang tampak tidak setuju dari ekspresinya.
"Nggak. Lusa kami bakal pindah ke penthouse."
"Kamu nggak pengen habisin waktu sama Bunda dan Ayah? Sama adik-adik kamu juga?" Darisa memasang ekspresi sedihnya. Membuat Damar mendengus dan mengusap wajahnya pelan.
"Aku udah beli penthouse dan harus segera didiami, Bun. Mungkin kapan-kapan kami bakal nginap lama di rumah."
Tak ingin memaksa, Darisa pun mengangguk kecil. "Oke. Bunda pegang ucapan kamu itu. Awas aja kalo nggak ditepatin."
Damar hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia melirik Kalila yang tampak bingung. Membuat Damar tersenyum tipis lalu berbisik pelan. "Nanti bakal kuceritain semuanya." Dan Kalila balas dengan anggukan.
***
Damar dan Kalila berjalan beriringan menuju kamar mereka. Dengan tangan saling bertautan, seolah tidak ingin dilepaskan. Sebenarnya, hanya Damar yang berpikiran demikian. Tak rela ia melepaskan genggamannya pada Kalila barang sedetik saja. Biar sedetik—dibayangan seorang Damar—waktu tersebut akan membuat Kalila pergi tinggalkan dirinya. Tentu, Damar tidak ingin hal itu terjadi. Makanya, genggaman itu sebisa mungkin tak akan ia lepaskan.
"Jangan coba-coba pergi dariku," ucap Damar setibanya di kamar. Pria itu menatap Kalila tajam, tetapi tetap tak ia hilangkan sorot lembut dan cintanya pada Kalila-nya.
Kalila akan menjawab. Hanya saja terurung ketika Damar tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Pria itu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Kalila. Sesekali ia berikan kecupan demi kecupan di sana.
"Kamu officially mine. Nggak akan aku biarkan kamu lepas begitu saja. Nggak akan aku biarkan kamu diambil siapa pun yang coba-coba merebutmu dariku. Jika itu terjadi, akan kubiarkan orang itu remuk di genggamanku sendiri."
Kalila tak bisa berkutik. Gadis itu hanya bisa membalas pelukan Damar dan mengusap rambut bagian belakang pria itu. Sebenarnya, ia ingin ungkapkan bahwa semua yang Damar katakan baru saja itu tidak akan terjadi. Ia yang berstatus sebagai istri, tentu akan melakukan berbagai macam hak dan kewajibannya sebagai seorang istri. Namun, lama kelamaan, Kalila merasa ganjil. Mengapa Damar tiba-tiba ungkapkan demikian? Apa yang sebenarnya terjadi pada suaminya itu? Padahal tidak ada hal yang salah pada diri Kalila, yang menunjukkan bahwa ia akan pergi dari Damar. Tidak sama sekali.
"You're officially mine. Officially mine. You're mine. Definitely mine. Absolutely mine," gumam Damar.
Entah karena apa, tiba-tiba saja Kalila merasa merinding. Oh, God. Apa yang terjadi? Jujur, Damar membuatnya takut. Sangat.
Bersambung ...