12. | The Hater of Tears

2141 Words
Perlahan, mata itu mulai terbuka. Tersuguhi oleh keadaan kamar yang temaram, sebab hanya diterangi oleh lampu hias di sudut kamar. Seiring dengan itu, ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ada beban berat yang menindih perutnya dan juga ada sesuatu yang membatasi pergerakannya. Perlahan, gadis itu mulai menyibak selimut. Langsunglah ia terkejut dengan sebuah lengan yang terlingkar erat di perutnya. Dan jangan lupakan dengan kaki dalam balutan celana training abu yang memonopoli kakinya sendiri. Kalila mendelik. Ia menoleh ke samping dan langsunglah tersuguhi oleh wajah tampan seorang Damar. Begitu dekat dengan dirinya. Terpaut beberapa senti saja. Dan yang membuat ia terkejut adalah keadaan Damar yang shirtless. Oh, Allah, jantungnya berdetak gila-gilaan di dalam sana. "Aku hampir lupa kalo udah menikah," gumam Kalila mengusap kasar wajahnya yang memerah. Berusaha ia melepaskan diri dari kungkungan Damar. Namun, yang ada malahan tubuhnya semakin ditarik erat oleh Damar. "Jangan pergi," bisik Damar dengan suaranya yang serak. Entah sadar atau tidak. Pria itu semakin menarik erat tubuh Kalila, sampai-sampai sekarang Kalila layaknya benda kecil yang terlingkupi oleh seluruh badan besar Damar. Kedua tangan Kalila terlipat di depan d**a Damar. Berusaha ia mendorong tubuh Damar agar ia bisa sedikit leluasa untuk bergerak. Namun, semua itu sia-sia. Ia tetap tak bisa terlepas dari kungkungan erat seorang Damar. Pada akhirnya, Kalila menyerah. Meski masih dalam keadaan yang mungkin setengah sadar, Damar tetap mempunyai power atas tubuhnya sendiri. Apalah daya seorang Kalila. Si gadis berperawakan mungil, yang tentu, kekuatannya tidak seberapa dengan Damar. Maka dari itu, menyerah adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Ia urungkan niatnya itu untuk ke kamar mandi. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Agaknya Kalila terkejut menyadari itu. Menurut perhitungan, Kalila hanya tertidur sekitar dua jam saja. Sungguh, hal ini di luar dari kebiasaannya. Tidak pernah ia terbangun dalam jarak tidur yang begitu dekat. Mungkinkah ini karena statusnya yang berubah menjadi istri orang? Membuat kebiasannya pun ikut berubah. Atau, apa karena Damar yang terlalu memonopolinya ini? Aduhai, kalau dipikir-pikir, pusing juga memikirkan semua ini. Kalila merasa aneh di usia statusnya sebagai seorang istri yang menginjak umur dua hari itu. Aneh tersebab belum bisa mengerti sang suami seutuhnya. Pandangannya terhadap Damar masihlah abu-abu. Begitu pula perasaannya pada sosok itu. Di saat orang berbahagia karena pernikahannya, lain hal dengan Kalila. Gadis itu justru merasa sengsara. Sengsara sebab pikirannya sendiri atas keabuan perasaan dan segala perangai tidak terduga seorang Damar. "I love you so much." Damar tiba-tiba bergumam serak. Membuat Kalila tersentak kaget. Terlebih dirasakan badannya sedikit terangkat. Posisinya saat ini adalah berada di atas tubuh Damar dengan kedua lengan pria itu yang melingkari pinggangnya posesif. Kalila hanya bisa pasrah. Gadis itu memilih untuk menyandarkan kepala di d**a bidang Damar dan berusaha untuk terlelap kembali. Tanpa menyadari bahwa Damar sedari awal tidak pernah tertidur. Hanya demi memastikan Kalila selalu ada di sisinya. *** Damar tersenyum tipis. Memperhatikan raut serius Kalila yang tengah sibuk memasang dasi di kemejanya. Kedua tangannya yang bebas mulai melingkari pinggang Kalila. Kemudian, ia tarik perlahan. Membuat jarak terpangkas ekstrim di antara mereka. "Hari ini kita pindah ke penthouse. Kemungkinan aku bakal pulang sekitar sore. Jadi, kamu siap-siap aja, oke?" Damar mengusap puncak kepala Kalila lalu dikecupnya perlahan. Tampak mengganjal raut Kalila saat ini. Gadis itu mendongak, kemudian mulai mengungkapkan gagasannya. "Harus banget hari ini ya? Kamu habis kerja. Pasti capek banget. Kenapa nggak besok aja? Besok 'kan bertepatan hari libur." "Lebih cepat lebih baik, Sayang," bisik Damar seduktif. Tak ayal membuat Kalila langsung bergeming. Tak tahu harus bersikap apa lagi. Damar melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang Kalila. Membiarkan Kalila berlalu hanya untuk mengambilkannya jas yang tergantung di lemari. Di sela itu, Damar menyempatkan diri untuk memperbaiki letak jam di pergelangan tangan kirinya. Tak berapa lama, Kalila pun sudah berdiri di depannya. Membantunya untuk memasangkan jas sewarna arang itu. "Ternyata kamu cuma sedaguku saja ya," ucap Damar lembut. Menumpukan dagunya tepat di puncak kepala Kalila seiring dengan sang istri yang tampak sibuk memperbaiki letak jasnya. "Cute," gumam Damar kemudian. Tersenyum tipis ia. Merasa bahwa ia merupakan sosok paling beruntung sebab telah memiliki Kalila seutuhnya. Kalila yang telah berhasil merebut hatinya dan mencipta senyum yang terkenal jarang terlihat pada seorang Damar. Kalila mendengus. Ia menangkup kedua pipi Damar lalu ia jauhkan kepala itu dari puncak kepalanya. Asal kalian tahu, kepalanya cukup berat karena beban pada kepala Damar. Kalila akan melepaskan tangkupan tangannya pada pipi itu, tetapi ditahan oleh genggaman erat Damar pada kedua tangannya itu. Membuat Kalila hanya bisa diam memaku. "Aku suka semua sentuhanmu." Damar berujar pelan. Matanya mulai memejam. "Aku merasa tenang dan hangat secara bersamaan," timpalnya dengan kedua tangan yang mulai menuntun tangan Kalila agar melingkari lehernya. "Kamu tahu? Aku benar-benar terobsesi segala hal tentangmu." "Very very obsessed," bisik Damar kemudian. Goseboombs. Kalila merasa kedua tungkainya seolah tidak bertulang. Ia pasti akan limbung jika sedai awal tidak berpegangan erat pada leher Damar. Aku rasa ini terlalu berbahaya, batin Kalila cemas. Kemudian timbul berbagai macam pikiran untuk menjaga jarak dengan Damar. Pria itu benar-benar membuatnya takut. Damar memberikan kecupan ringan pada kening Kalila, kemudian mulai memperlebar jaraknya. Tanpa berkata-kata, pria itu menarik Kalila untuk bersama-sama keluar dari kamar. Yang ditarik hanya bisa pasrah dan mati-matian menekan rasa gugup dan takutnya terhadap sosok itu. Kalila merasa bahwa apa yang Damar ucapkan itu benar-benar menghantui pikirannya. Kalila tahu bahwa pria yang terobsesi segala hal tentangnya itu merupakan konsepsi subjektif seorang Damar semata. Hal yang belum terbukti secara medis, seharusnya tidak perlu dikhawatirkan, tidak perlu ditakutkan. Namun, entah karena apa, Kalila tidak mampu mendustai dirinya sendiri atas ketakutannya pada Damar. Ditambah dengan ia yang masih belum mengenal dalam sosok itu. Kalau diibaratkan, Damar itu seperti puzzle yang kepingannya itu tersembunyi di pelosok hutan. Demi mendapatkan kepingan itu, Kalila harus rela menyisiri hutan yang terdapat banyak ancaman di sana. Tentu, Kalila tidak seberani itu. Mungkin sebagian orang menganggap ucapan Damar merupakan ungkapan kecintaannya. Hal yang patut dibahagiakan sebab kau merasa dicintai begitu hebatnya. Namun, Kalila malah menganggapnya berlainan. Gadis itu merasa bahwa yang diucapkan Damar itu sesuatu yang ganjil, sesuatu yang bisa menimbulkan penyakit jika dipelihara. Kalila hanya tidak ingin jika hal tersebut berdampak bahaya, yang bisa mencelakai banyak orang. Oh, sungguh, apakah Kalila terlalu berpikir jauh tentang itu? "Kalila, kamu pucat." Ucapan bernada khawatir dari Darisa membuat Kalila tersentak. Matanya berkedip-kedip dan agaknya terkejut sebab saat ini ia telah duduk manis di depan meja makan. Ternyata, melamun membuatnya tidak sadar situasi. "A-apa?" Kalila menggumam. Tampak sedikit linglung. "Damar! Apa yang kamu lakuin sama istri sendiri?" Darisa menatap tajam Damar yang berada di seberangnya. Pria itu tampak santai pembawaannya. Membuat Darisa merasa gemas pada sosok itu. "Damar!" seru Darisa kemudian. Membuat Damar mengembuskan napas kasar. "Istriku baik-baik aja," ucap Damar tersenyum tipis dengan tangan menggenggam erat tangan Kalila, lalu dikecupnya pelan. Damar menoleh ke samping dan matanya langsung bertubrukan dengan kedua bola mata favoritnya itu. Langsung saja senyumnya pudar saat menyadari arti dari sorot mata itu. Seperti orang yang ketakutan. "Are you okay?" Damar menangkup sebelah pipi Kalila. Khawatir langsung menelusup begitu hebatnya. "Kamu kenapa? Kamu sakit? Oh, God, kenapa nggak bilang? Sebaiknya kita harus ke rumah sakit sekarang." Kalila yang mulai bisa mengendalikan diri itu pun menggeleng cepat. Senyum coba ia ulas, meski terlihat terlalu dipaksakan. "Aku baik-baik aja kok. Mungkin pikiranku yang terlalu membebani." "Kamu mikirin apa, hm? Jangan dipikirin sendiri. Ada aku di sini." "Nggak. Bukan hal yang besar kok," jawab Kalila berusaha meyakinkan. Namun, bukan Damar namanya kalau gampang percaya. "Aku rasa kamu butuh ketenangan," ucap Damar berspekulasi. Dan, hati kecil Kalila langsung membenarkan spekulasi itu. Maka dari itu, Kalila hanya diam, tak lagi ia menyangkal. Damar berdiri dari duduknya. Secara mengejutkan, pria itu langsung membawa Kalila ke dalam gendongannya. Membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Kalila sendiri. "Bi, tolong bawain makanan ke kamar ya." Setelah mengucapkan itu, Damar pun berlalu pergi menuju kamar. Membawa Kalila yang tidak bisa melakukan apa-apa selain menyandarkan kepalanya di bahu seorang Damar. Sementara itu, Darisa tampak tersenyum tipis kala menyadari sesuatu. Semenjak menikah, Damar jauh lebih berubah sikapnya. Baru dua hari, sudah ada perubahan positif pada anak sulungnya. Tak heran jika Darisa merasa sangat bahagia. Tiba-tiba, perhatian Darisa teralih pada sosok Adnan. Pemuda itu agak ganjil sikapnya. Membuat Darisa tidak tahan untuk tidak bertanya pada anak keduanya itu. "Kamu kenapa, Ad?" Adnan mendongak, menampilkan ekspresi datarnya. "Aku? Cuma mual aja." "Mual? Kamu sakit?" "Nggak. Gara-gara adegan romansa itu yang buat aku mau muntah, Bun." Langsung saja Dara menyemburkan tawanya. Lain hal dengan Darisa dan Adam yang secara bersamaan menggeleng heran. "Kamu belum pernah ngerasain aja," ucap Adam menimpali. *** "Aku nggak kerja hari ini. Kamu jauh lebih membutuhkanku." Kalila tidak menjawab. Justru batinnya yang menjawab ucapan itu, yang ada aku harus jauh-jauh dari kamu. Biar jauh lebih tenang. Gadis itu kemudian memijit-mijit pangkal hidungnya. Mencoba meringankan rasa pusingnya. Sementara itu, Damar yang sekarang hanya memakai kemeja itu mulai mendudukan diri di pinggiran ranjang. Satu tangannya mulai melonggarkan dasinya, yang satu lagi tidak lepas dari menggenggam tangan Kalila. "Kamu kerja aja," ucap Kalila pada akhirnya. "Aku baik-baik aja kok. Lagian ada Bunda sama Ayah, trus Dara sama Adnan juga yang bakal jagain aku. Aku nggak sendiri." "Nggak," ucap Damar cepat. Pria itu beranjak menaiki ranjang. Ia sandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang dan ia tarik tubuh Kalila agar mendekat padanya. "Kamu harus sama aku. Nggak boleh sama yang lain." Kalila tidak menjawab. Terlalu lelah ia jika menanggapi kekeraskepalaan seorang Damar. Ia hanya mencoba untuk terlelap. Berusaha menuju alam mimpi yang menurutnya terkadang jauh lebih baik dari realitas yang ada. "Gimana perasaanmu?" Damar tiba-tiba bertanya. Kalila yang masih terjaga itu langsung menjawab pertanyaan Damar dengan singkat. "Baik." "Bukan itu. Tapi perasaanmu padaku." Sontak kedua mata Kalila terbuka. Terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu. Gadis itu mendongak dan mendapati wajah serius empunya Damar. Mata sehitam arang itu tampak datar, menatap lurus ke depan. Membuat Kalila berpikir keras untuk tidak ungkapkan sesuatu yang mungkin saja membuat seorang Damar marah. "Aku nggak bakal marah," ucap Damar seolah bisa membaca pikiran Kalila. "A-aku, nggak tahu," jawab Kalila jujur. "Bagaimana mungkin kamu nggak tahu perasaanmu sendiri?" "Bagaimana mungkin? Ck!" Kalila mengubah posisinya menjadi duduk. Wajahnya menyiratkan kekesalan yang begitu membuncah. Seperti kausudah lama memendam kekesalan dan inilah saatnya untuk menyemburkan segala kekesalan itu. Tidak mampu lagi ia tahan. Persetan dengan bagaimana marahnya Damar terhadapnya nanti. "Kamu datang tiba-tiba, Mas! Dengan kekuasaanmu, kamu buat aku nggak punya pilihan lain selain nikah sama kamu. Sebenarnya apa yang kamu pikirin, hah?" Kalila menjeda ucapannya beberapa saat hanya untuk mengambil napas. "Aku mikirin yayasan, aku mikirin semuanya, dan ngorbanin diri sendiri buat nikah sama kamu. Aku bingung, Mas. Aku bingung! Bahkan sama perasaanku sendiri aku bingung. Semua ini terlalu tiba-tiba. Aku nggak siap, tapi mau nggak mau harus siap!" Kalila tak kuasa menahan air matanya. Air mata mengalir membasahi kedua pipi. Representasi atas apa yang tengah gadis itu rasakan saat ini. Rasanya sesak, tetapi juga terasa leganya. Mengingat bahwa sejauh ini ia memendam semuanya sendiri. "Kamu tahu? Aku nggak merasa bahagia atas semua ini. Namun, melihat semua orang tersenyum, melihat semua orang bahagia, sedikit buat aku merasa senang. Perasaan sedihku sedikit terobati dengan itu. Aku berusaha buat percaya dan yakin sama kamu, Mas. Tapi, ada saja yang buat aku ragu. Terlebih sikap kamu padaku. Aku. Takut." Kalila menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Berusaha menahan segala isakan. Sementara Damar, pria itu diam memaku. Tidak disangka jika Kalila-nya secara tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. Bahkan dengan tangisan pedih yang membuat hatinya sangat teriris. Melihat sosok itu menangis merupakan hal yang paling dibenci seorang Damar. Dipikirannya, ia hanya ingin melihat sosok itu tersenyum dan tertawa. Kalaupun menangis, ia hanya ingin tangisan itu adalah tangis kebahagiaan. "Aku benci melihatmu menangis," ucap Damar dengan intonasinya yang datar. Tangannya terulur hanya untuk meraih kedua tangan Kalila yang tertangkup di wajah. Namun, Kalila tiba-tiba berbalik memunggunginya. Menghindar. "Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Itulah yang aku rasakan sama kamu, Kalila. Aku cinta kamu di pandangan pertama, kamu merupakan cinta pertama, segala hal yang berkaitan sama kamu itu selalu yang pertama." Damar menggeser tubuhnya untuk lebih dekat pada Kalila. Setelahnya, Damar memeluk Kalila dari belakang dengan begitu eratnya. Seolah jika tidak begitu, Kalila akan hilang dalam sekejap mata. "Aku minta maaf atas segala salah yang aku perbuat sama kamu. Tapi, kumohon, jangan sekali-kali berniat untuk pergi dariku." Secara perlahan, Damar mulai membalik tubuh Kalila agar berhadapan dengannya. Kemudian, pria itu menempelkan keningnya pada kening Kalila. Matanya tak lepas dari mata yang tampak berair itu. "Aku benar-benar benci liat kamu mengeluarkan air mata s****n ini," ucap Damar dengan penekanan pada frasa air mata. Tangannya mulai menghapus jejak air mata pada kedua pipi Kalila. "Perlu kamu ingat. Aku benci dengan air mata. Jadi, jangan sekali-kali kamu menangis di hadapanku lagi." Setelahnya, Damar pun mulai memangkas jarak wajahnya pada Kalila. "You're mine." Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD