“Aku tidak melakukan apa pun terhadapmu dan kau berteriak,” kesal Ammar pada Ziva. “Maaf, saya kaget, Tuan Muda.” Ziva gugup. “Kenapa kaget? Apa karena hampir melihatku buka-bukaan, hm?” Ammar menyentuh dagu Ziva dan memaksa wajah di hadapannya untuk terangkat. Terpaksa pandangan mata Ziva bertemu dnegan mata biru Ammar. “Kau sekarang istriku, Zira. Kau tidak perlu kaget saat melihat apa pun dalam diriku,” ucap Ammar sambil mempererat pegangannya di dagu Ziva. “Sakit, Tuan Muda.” Ziva merintih merasakan sakit di dagunya. Ziva semakin heran dengan sikap Ammar, kenapa pria itu ngotot ingin menikahinya jika akhirnya dirinya diperlakukan seperti ini? “Zira, aku sudah memberikan uang banyak pada ayahmu, anggap itu adalah bakti menantu pada mertuanya. Kujamin ayahmu akan hidup dengan baik