Jeritan di kamar

1055 Words

“Maaf!” lirih Ziva menundukkan wajah saat Ammar akhirnya menoleh ke arahnya. Ziva tidak mengerti kenapa bisa seberani itu menghentikan proses akad nikah. Talita yang sudah ngebet pingin nikah pun menatap tajam pada Ziva, dia merasa tidak mengenal sosok berkaca mata yang memiliki tahi lalat itu, namun ia sangat kesal atas kehadiran Ziva. “Kenapa kau menghentikan pernikahan ini?” Tanya Ammar dengan sorot marah. “Maafkan saya, Tuan. Saya bersalah. Saya bersedia menerima hukuman apa pun itu. Saya bersedia menikah dengan Tuan Muda,” jawab Ziva yang memaksakan diri untuk mengatakan hal itu meski sebenarnya gemetaran di hadapan umum. Pernyataan Ziva membuat Sulaiman setidaknya merasa lega. Dia tahu siapa pemilik wajah di balik kaca mata dengan lingkar hitam itu, tentu putrinya. Dia dan Ziva s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD