Bab 4. Mempersulit hidup

1103 Words
Setelah mendapat izin Ayah-nya untuk bekerja, Belinda langsung mengirim beberapa surat lamaran yang sudah lama ia siapkan, ke beberapa Perusahaan. Termasuk juga ke Perusahaan Arka__Calon tunangannya. Tak butuh waktu lama, Arka menghubungi Belinda. "Apa maksudmu melamar pekerjaan sebagai sekertaris?" Ucap-nya tanpa basa-basi. Mendengar suaranya saja Belinda tahu, bahwa dia adalah Arka. Belinda seketika mengingat kejadian saat dirinya di turunkan di tengah jalan. Emosinya kembali meluap, meski saat ini ia sedang berdiam belum memberikan jawaban. "Bel, jawab aku?!" Sergah Arka, kedengarannya sangat arogan. "Memangnya kenapa? Ayah-ku sudah mengizinkan," Sahutnya, dengan santai. Terdengar dari balik telfon suara tawa sinis Arka, "Bel, Bel... Kamu itu Calon tunangan Arka Nagara, kamu nggak perlu bekerja. Apa kata orang kalau Calon Istri Arka negara bekerja? Orang bakal mengira kalau aku nggak bisa menafkahi mu, tau!" Katanya, terdengar begitu menyebalkan. Mendengarnya saja membuat Belinda mual, "Kenapa ada orang sepede ini sih?" Batinnya, menjauhkan sejenak ponsel dari telinganya. "Kalau begitu tolak saja, aku bisa kok melamar di Perusahaan lain." Ucap Belinda, dengan tenang. Baru beberapa hari saja mereka saling mengenal, namun Belinda sudah mampu membaca karakter Arka. Meski tampan dan bekerja keras, Arka juga tidak suka melihat Pasangannya bersusah payah bekerja. "Jangan keras kepala, Bel. Kamu lupa siapa aku? Aku bisa pastikan kamu nggak di terima dimanapun! Jadi, menurut saja, Calon Istriku!" Tutur Arka, tersenyum miring. Kemudian ia memutuskan panggilannya dengan Belinda. Atas ucapan Arka, Belinda pun kesal. "Dasar gila! Belum apa-apa udah banyak aturan!" Umpat Belinda, membanting ponselnya di atas tempat tidur. Mengetahui Calon istrinya melamar pekerjaan di Perusahaannya, Arka segera menegur Belinda dan melarangnya untuk bekerja. Mungkin itu salah satu impian para Wanita, berada di Rumah dan mempunyai Suami kaya raya. Namun berbeda dengan Belinda, yang ingin memiliki pengalaman dengan usahanya sendiri. Unik memang, tapi itulah kenyataannya. Arka lalu membatasi dan menghalangi Belinda agar tidak di terima di Perusahaan mana pun, meski dirinya belum resmi menjadi Tunangan ataupun Suami-nya. Hari-hari berlalu seperti biasa, Belinda benar-benar tak mendapat panggilan dari perusahaan manapun untuk mengkonfirmasi surat lamarannya. Hingga kini, tibalah Pertemuan dua keluarga kembali di laksanakan. Kali ini mereka akan bertemu di Hotel King, salah satu hotel milik keluarga Atmaja yang di kelola oleh Putra sulung mereka. Hotel bintang lima, yang juga terdapat kelab dan karaoke di lantai atas. Seperti biasa, Belinda berpenampilan cantik dan juga elegan. Ia mengenakan gaun berwarna hitam, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seperti gitar spanyol. Arka tentu tak menyangkal kecantikan Calon Istrinya. Mereka berenam kini membahas sejauh mana Anak-anak mereka sudah saling mengenal. "Kami sudah cukup mengenal satu sama lain kok, aku rasa, aku dan Belinda memang Cocok, Mah, Pah." Ucap Arka, sambil menatap simpul Belinda. Berbeda dengan Belinda yang tampak ilfeel dengan Arka. Mendengar itu, para Orang tua pun merasa senang. "Syukurlah, Kami senang mendengarnya." Tutur Wendi, merasakan bagaimana Putranya jatuh cinta terhadap Belinda. Disisi lain, Shinta menyadari sikap Putrinya yang nampak tidak sreg dengan Arka. Sehingga ia memberi kesempatan untuk Belinda agar bisa lebih yakin dengan perjodohan tersebut. "Kapan sebaiknya kita melangsungkan Pernikahan mereka?" Ujar Wira, yang juga merasa bahagia atas Putranya. "Emh, begini Tuan, Nyonya... Belinda kan belum cukup berpengalaman, gimana kalau biarkan mereka bertunangan dulu. Emh, supaya memperkuat perasaan mereka juga." Ucap Shinta, bersuara. Ia merasa agar tak buru-buru untuk mengambil jalan Pernikahan. Walau bagaimanapun Pernikahan adalah kehidupan yang sesungguhnya. Ia harus benar-benar melihat Putrinya bahagia dengan Suaminya di masa depan. "Haha, baiklah. Besanku memang bijak, kebetulan kami juga sudah membawa cincin dan kalung untuk Belinda. Anggap saja malam ini malam pertunangan anak-anak kita, bagaimana?" Wira sumringah, menyerahkan sebuah kotak perhiasan berisi cincin dan kalung berlian. Liam dan Shinta saling menatap, kemudian menerima pemberian mereka. "Terima kasih, Tuan." Ucap Liam, menerima kotak perhiasan tersebut. "Apa ini? Bahkan perhiasan saja Orang tua yang menyediakan. Arka ini bahkan nggak ada inisiatif memakaikan cincin di jari Belinda. Apa dia benar-benar pantas untuk Putriku?" Batin Shinta, merasa ragu tiba-tiba. Dalam diam, Wendi memberi isyarat pada Arka agar mengenakan cincin berlian itu ke jari manis Belinda. "Bel," Arka menyodorkan cincin tersebut, dan Belinda tampak pasrah ketika Arka melingkarkan di jarinya. Pria itu tersenyum senang, namun tidak dengan Belinda yang tersenyum karena terpaksa. "Kalau begitu, mari kita rayakan Pertunangan anak-anak kita!" Ujar Wira, mengangkat gelasnya untuk bersulang. Mereka bersulang merayakan Pertunangan Putra Putri mereka, meski belum di publikasikan. Di tengah-tengah acara, Arka membawa Belinda ke tempat lain yang hanya ada mereka berdua. Disana, Arka membahas kejadian sebelumnya saat dirinya menurunkan Belinda di tengah jalan. Belinda tak peduli, dan tak mau memikirkan soal itu lagi. "Selain cantik, ternyata kamu baik juga, Bel. Nggak salah Kakek memilih jodoh untukku," Ucap Arka, penuh percaya diri. "Jangan berlebihan memujiku, aku nggak sebaik yang kamu pikir!" Kata Belinda, dingin. "Apa kamu masih marah soal kemarin?" Arka memegang tangan Belinda, membujuknya agar lebih ramah padanya. "Kenapa bahas itu terus sih?" Semakin kehilangan mood saja, Belinda di buatnya. "Oke-oke, sekarang gimana kalau aku ajak kamu jalan-jalan? Aku akan membawamu ke suatu tempat," Tutur Arka, beranjak dari tempat duduknya. Ketika Arka menarik tangan Belinda, Gadis itu justru mematung dan tetap di tempat duduknya. Sontak hal itu membuat Arka menoleh padanya, "Aku akan lupain kejadian kemarin, asal kamu mau dengerin aku," Ucap Belinda, menatap Arka dengan serius. "Apa itu?" Arka siap mendengar apa yang diinginkan oleh Tunangannya. "Jangan halangi buat kerja. Aku ingin ngerasain gimana rasanya cari uang sendiri!" Pinta Belinda, berharap. Mendengar itu, sejenak Arka memalingkan wajahnya. Ia pikir setelah beberapa saat hening, Belinda akan menuruti perkataannya, namun rupanya tidak. Belinda tetap gigih, ingin mencari pengalaman bekerja. "Baiklah, tapi jangan sampai kamu masuk ke Perusahaan ku. Aku nggak mau orang lain tau, kalau Calon Istriku bersusah payah bekerja!" Setelah sejenak terdiam, Akhirnya Arka membiarkan Belinda melakukan keinginannya. Belinda tersenyum simpul, sekaligus merasa senang. "Kamu itu aneh, Bel. Perempuan lain pasti nggak akan susah-susah kerja kalau punya suami sepertiku. Tapi kamu malah mempersulit hidupmu sendiri," Arka menggelengkan kepalanya, merasa heran. "Aku janji nggak akan masuk ke Perusahaanmu!" Ucap Belinda, tersenyum sumringah. "Terserah kamu saja!" Arka pasrah, sambil meneguk wine-nya. Saat mereka sedang berdua, tiba-tiba ponsel Arka kembali berdering. Namun Arka tak menerima telfon tersebut, berbeda dengan sebelumnya. "Kenapa nggak di angkat?" Tanya Belinda, penasaran. Apalagi ia melihat Arka menolak panggilan tersebut. "Nggak apa-apa, ini nggak penting." Katanya, mengantongi kembali ponselnya. Belinda tentu teringat dengan kejadian sebelumnya, "Apa dia mau pergi lagi? Tck, bodo amat. Lebih baik aku pikirin kemana lagi aku harus kirim surat lamaran!" Batinnya, tak mau mempedulikan Arka terlalu dalam. Dalam beberapa menit saja, ponsel Arka berdering sebanyak tiga kali. Membuat Belinda menaruh penasaran tentang Arka, "Ka, apa aku boleh tanya sesuatu?" Belinda menatap Arka, yang saat ini tampak gelisah. "Ada apa?" "Karena kita di jodohkan, jadi aku ingin tau, apa kamu punya pacar?" ****** Next....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD