Bab 3. Melamar pekerjaan

1448 Words
Acara pertemuan untuk perjodohan Belinda dan Arka berjalan dengan baik. Mereka berdua dan melakukan pendekatan lebih dulu sebelum pertunangan mereka di laksanakan. Sebagai anak yang baik, Arka dan Belinda tak menentang sama sekali tindakan Orang tua mereka karena telah melakukan perjodohan. Hingga sampai di fase Arka mengantar Belinda pulang, semuanya berjalan sesuai dengan keinginan para Orang tua. Namun dalam perjalanan, tiba-tiba Arka mendapat panggilan mendesak, entah dari mana, Belinda pun tidak tau. "Baik, aku segera kesana!" Ucap-nya, dengan buru-buru. Setelah memutuskan panggilan, tiba-tiba Arka menatap ke arah Belinda. Wanita itupun langsung paham maksud-nya, sehingga memasang wajah tak ramah. "Apa terjadi sesuatu?" Tanya Belinda, seolah sudah tau apa yang terjadi. "Iya, aku minta maaf, Bel. Aku beneran minta maaf sama kamu, apa kamu bisa pulang sendiri?" Katanya, memasang wajah memelas. "Maksudmu, kamu mau menurunkan ku disini?" Ucap Belinda, dengan suara tenang namun juga kesal. "Maaf banget, Bel. Ini mendesak, aku akan memberimu kompensasi waktu setelah semuanya beres!" Pinta Arka, memohon. "Sudahlah, hentikan mobilnya!" Tutur Belinda, tak mau berdebat lebih lama lagi. Ia segera melepas seat belt-nya begitu Arka menepikan mobilnya. Belinda turun dari mobil, kemudian Arka langsung melajukan mobilnya lagi. tanpa basa-basi. Kesan pertamanya di mata Belinda sangatlah buruk, Belinda kesal bukan main dengan perlakuan semena-mena Arka. "Sialan! Dari awal emang udah nggak beres! Gimana caranya aku bilang sama Papa, Mama kalo Arka nyebelin!!!" Belinda merutuki Arka meski mobilnya sudah tak terlihat. Wanita itu berjalan pelan bersama gaun dan heels-nya. Belinda terlihat kesulitan, namun tetap berjalan menuju ke halte terdekat. Setelah lima menit berlalu, Belinda akhirnya tiba di halte. Perlahan ia menapakkan satu kakinya, untuk duduk di sebuah halte. Namun baru saja selangkah maju, tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkan Belinda. Wanita itu menoleh ke arah mobil maybach Exelero hitam yang menepi tepat di samping-nya. Belinda terdiam sebelum akhirnya kaca mobil itu turun dan memperlihatkan pemilik mobil tersebut. "Naiklah, aku akan mengantarmu!" Ucap-nya, membuat Belinda mematung. "Mau masuk sendiri atau ku gendong masuk, IBEL? "Ucap-nya, terdengar mengintimidasi. Belinda tak berkutik, ia seolah terhipnotis dan masuk ke dalam mobil tersebut. Meski canggung, namun pada akhirnya Belinda menurut. "Anak baik!" Tutur-nya, tersenyum smrik menatap Belinda. Siapa lagi dia kalau bukan Arga Baskara. Melihat Belinda berjalan sendirian di tepi jalan, Arga paham dengan apa yang dilakukan oleh Adiknya__Arka. "Kenapa kamu nggak tanya apa-apa?" Ucap Belinda, membuka suara. Diantara semua keluarganya Atmaja, hanya Arga yang sudah melihat sifat asli Belinda. Sehingga tak ada lagi alasan untuk Belinda berpura-pura menjadi Gadis penurut. Arga menggeleng dengan tatapan lurus kedepan, fokus mengemudi. "Buat apa?" Sahutnya, sejenak melirik ke arah Belinda. Membuat Belinda merasa heran. "Orang aneh!" Batin Belinda, mendengus tanpa mengatakan apapun. "Kamu sendiri, kenapa mau naik ke mobilku? Gimana kalo orang lain berpikir aneh-aneh?" Kini bergantian, Arga menggoda Belinda. "Bukannya kamu yang menyuruh? Kalo begitu turunkan aku sekarang!" Cetus Belinda, menatap tajam Arga. Melihat itu membuat Arga semakin ingin terus menggodanya. Seolah sikap arogannya terlihat lucu dan menggemaskan. "Diam-lah, ini sudah larut. Sebaiknya kamu menurut saja!" Sahut Arga, tak mau menggoda Belinda lebih lama lagi. Apa lagi waktu sudah hampir menunjukkan pukul 12 malam, Arga tak mau berdebat dengan Wanita itu. Baginya masih ada hari lain, untuk terus mendebat dan menggoda Belinda. Arga melirik sejenak ke arah Belinda yang masih mendengus kesal. "Dimana rumahmu?" Tanya Arga, kali ini terdengar lembut. Suaranya membuat Belinda sedikit lebih tenang dari pada sebelumnya. Sudah cukup ia dibuat kesal oleh Arka, kini di lunakkan oleh Arga. "Perumahan Savana no. 8, " Sahut-nya, pelan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak ada obrolan lagi setelah itu berlalu, hingga tak terasa tibalah mereka di Perumahan Savana. Sejenak Arga melepas seat belt-nya, kemudian menoleh ke arah Belinda. Namun tak disangka, Arga tertegun melihat Belinda ketiduran di mobilnya saat dalam perjalanan pulang. Arga menatap lekat Belinda diam-diam, tanpa sadar tangannya membenarkan anak rambut Belinda yang menjuntai ke wajahnya. Tak bisa disangkal, jika Pria itu terpesona pada Perempuan yang merupakan calon Adik Ipar-nya. "Nggak boleh ada yang mempermainkan-mu sekalipun itu Adikku sendiri!" Batin Arga, merasa jengkel dengan apa yang Arka lakukan pada Belinda malam ini. Menurunkannya di tengah jalan bukanlah sikap gentle laki-laki, dan Arga benci hal itu dilakukan pada Belinda. Mau tidak mau Arga membiarkan Belinda tidur sampai terbangun dengan sendirinya. Sambil menunggunya bangun, Arga membuka ponselnya mencari tau tentang sesuatu. Hingga tak terasa 20 menit berlalu, Belinda akhirnya terbangun dan membuka matanya. "Kamu udah bangun?" Ujar Arga, dengan suaranya yang rendah. Belinda cukup kaget, namun ia pandai mengatur ekspresinya menjadi tenang. "Sial, udah jam 12 lebih. Apa aku ketiduran dari tadi?" Batinnya, merutuki diri sendiri. "Kamu tidur lebih dari 20 menit!" Ucap Arga, seolah mendengar isi hati Belinda. "Ehem, makasih sudah mengantarku pulang. Aku turun dulu," Belinda perlahan melepas seat belt-nya, dan turun dari mobil. Tanpa menoleh ke belakang, Belinda berjalan pelan sambil berdebat dengan isi pikirannya sendiri. "Kenapa dia nggak pergi-pergi sih?" Batinnya, tak mendengar pergerakan Arga. Setelah Belinda masuk ke dalam pintu gerbang dan tak terlihat dari pandangan Arga, barulah Pria itu melajukan mobilnya. Belinda bernapas lega, berdiri di balik pintu gerbangnya. Rupanya Arga hanya memastikan Belinda benar-benar sampai rumah dengan selamat. "Ternyata dia lebih baik dari Arka!" Gumam-nya, membandingkan sikap Arka dan Arga. Baru pertama kali bertemu, namun Belinda sudah bisa membedakan sikap Arga maupun Arka. Setibanya dirumah, Belinda segera masuk ke kamar. Ia mengganti gaunnya dengan piyama sebelum pergi tidur. ***** Pada keesokan harinya, Belinda terbangun. Seperti biasa, setelah bangun tidur dan mandi, Belinda sarapan bersama keluarganya. Mereka tentu membahasa masa pendekatan Belinda dengan Arka sudah sejauh mana berjalan. "Bel, gimana pendapatmu soal Arka? Kamu cocok kan sama dia?" Tanya Shinta, Ibu-nya Belinda. Belinda tak membahas kejadian semalam, ia tetap menyantap makanan-nya dengan nikmat. "Biasa aja, Ma." Sahut-nya, singkat. "Dua minggu lagi, kita akan bertemu lagi sama keluarga Atmaja. Kami akan mengatur tanggal Pertunangan kalian, dan juga Pernikahan kalian." Ujar Liam, Ayah Belinda. "Pa, apa harus dengan keluarga Atmaja?" tiba-tiba, Belinda menghentikan gerakan tangannya. "Tentu saja. Memang keluarga mana lagi yang sebanding dengan keluarga kita? Lagi pula pernikahan ini sudah di atur oleh Kakekmu dan Kakek-nya Arka sejak dulu, jadi kamu nggak bisa menghindarinya." Sahut Liam, menekan-kan bahwa perjodohan harus tetap berjalan. Teddy Chandra dan Wiliam atmaja adalah sesepuh yang bersahabat sejak dulu. Mereka bercita-cita untuk menjodohkan cucu-cucu mereka kelak setelah dewasa. Namun sayangnya Wiliam atmaja sudah meninggal, sedangkan Teddy Chandra, kini sudah sakit-sakitan dan harus menjalani perawatan yang lebih intensif di kediamannya. Teddy di rawat oleh Dokter dan perawat khusus yang selalu stay bersamanya. Sehingga Liam dan Shinta tak perlu khawatir lagi, selai menjaga amanat untuk menjodohkan cucu-cucu Teddy dan juga Wiliam. "Sayang, apa kamu nggak suka sama Arka?" Tanya Shinta, seolah merasakan ikatan batin dengan Putrinya. "Bukan begitu, Mah. Aku cuma takut dia bukan orang baik," Tutur Belinda, sama sekali tak mengatakan jika semalam dirinya di turunkan di tengah jalan. Shinta lalu mengusap punggung Belinda dengan lembut guna untuk menenangkannya. "Nggak papa, sayang. Wajar kalau kamu berpikiran negatif karena kalian belum kenal. Itulah alasan Papa sama Mama agar kalian bertunangan dulu, sekalian kamu dan Arka mengenal satu sama lain. Kamu mengerti kan maksud Papa dan Mama?" Ucap Shinta, dengan lembut. Tentu Belinda sangat paham maksud baik kedua Orang tua-nya. Mereka hampir tidak pernah berbuat kasar dengan Belinda, sehingga Belinda tau betul seperti apa keluarganya. "Aku ngerti, Mah, Pah." Ucap-nya, sambil menganggukkan kepalanya. Meskipun ia cukup benci dengan sikap Arka semalam, namun tidak ada salahnya mencoba. "Mah, Pah, kapan aku boleh bekerja?" Tanya Belinda, ia sudah cukup jenuh dengan kesehariannya di Rumah. "Padahal Papah sama Mamah mampu menghidupi mu, tapi kamu selalu kekeh ingin bekerja." Sahut Liam, sejenak menghela napas. "Begini saja, karena kamu sudah mau menerima perjodohan ini, Papah akan mengizinkanmu bekerja. Tapi jangan ambil pekerjaan yang berat, setidaknya carilah pekerjaan sebagai sekertaris! Kamu mengerti?" Sambung Liam, memberi kesempatan pada Belinda untuk bekerja. Mendengar itu, Belinda sangat antusias. Ia tersenyum senang sambil menganggukkan kepalanya. "Aku ngerti, Pah!" Katanya, kini mengubah ekspresinya menjadi sangat ceria. Gadis 24 tahun itu segera pergi ke kamarnya setelah mendapat izin untuk bekerja. Ia menghubungi teman dekatnya, yang selama ini menjadi sahabatnya. Belinda sibuk mengirim surat lamaran dan mengirimnya ke beberapa Perusahaan. Kini hanya tinggal menunggu kabar dari Perusahaan tempat dirinya melamar pekerjaan. ***** Tak terasa hari telah berganti, Belinda melakukan aktifitas seperti biasanya. Kadang ia melukis maupun memainkan alat musik di rumahnya. Hal itu pula yang membuat dirinya jenuh berada di rumah, sehingga memilih untuk bekerja saja. Saat sedang mengusap kuas di kanvas, tiba-tiba ponselnya berdering. Belinda yang merasa sedang melamar pekerjaan pun terlihat semangat ketika ada nomor baru menghubunginya. Ia segera menerima panggilan telfon tersebut dengan antusias, dan melupakan kuas lukisannya. "Hallo?" Ucap Belinda, terdengar semangat namun juga berusaha tenang. "Belinda, apa maksudmu melamar sebagai Sekretaris?" Katanya, membuat ekspresi Belinda yang awalnya semangat, kini menjadi datar. ****** Next....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD