Pertemuan dua keluarga terus berlanjut hingga Belinda dan Arka bertemu. Namun di tengah-tengah obrolan keluarga yang serius, Belinda hanya terdiam syok memikirkan siapa Pria yang tadi menciumnya dengan panas
"Bel, ada apa?" Tanya Shinta, merasa ada yang janggal pada Putrinya.
"Aku nggak papa, Mah, cuma sedikit pusing. Mungkin karena capek nyari jalan," Jawab-nya, menahan canggung.
"Apa kamu mau istirahat di kamar? Disini ada banyak kamar, pakailah sampai kamu merasa baikan, Nak." Ujar Wendy, Calon mertuanya.
"Terimakasih Tante, Aku baik-baik saja." Sahut-nya, berusaha menyembunyikan rasa gelisah-nya.
"Bel, apa kamu mau ke tempat lain bersamaku? Siapa tau itu membuatmu lebih baik?" Ujar Arka, menawarkan diri.
Belinda menatap Arka yang pembawaannya sangat berbeda dengan Arga__Kakak-nya. "Pergilah, anggap saja untuk mengenal lebih dekat satu sama lain." Tutur Atmaja, membiarkan mereka berdua ke ruangan lain.
Belinda menurut, ia dibawa ke ruang lain oleh Arka Nagara. Dalam perjalanan, Belinda hanya terdiam. Sementara Arka, ia berusaha mencari topik pembicaraan yang nggak canggung untuk pertemuan pertama mereka.
Tak terasa, tibalah mereka di sebuah gazebo taman belakang kediaman keluarga atmaja. Di dekatnya ada kolam renang, yang biasa digunakan oleh anggota keluarga.
"Bel, berapa usiamu?" Tanya Arka, duduk di samping Belinda.
"24 tahun. Kalau kamu?" Tanpa menoleh kearah Arka, Wanita itu bertanya kembali pada Arka.
"Selisih setahun, 25." Jawab-nya, dengan senang hati. "Kegiatanmu sehari-hari apa?" Seolah ingin mengenal lebih jauh, Arka menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Untuk sekarang, aku nggak ada kegiatan khusus. Papa melarang aku bekerja meskipun aku ingin bekerja. Entahlah, mereka malah ingin aku menikah," Jawab Belinda, kali ini menoleh menatap Arka.
Pria itu sejenak terdiam, menatap wajah cantik Belinda. Namun segera tersadar ketika Belinda kembali melontarkan pertanyaan. "Ku dengar kamu punya saudara, apa dia tinggal bersama kalian di rumah ini?" Tiba-tiba saja, Belinda menanyakan hal yang di luar prediksi Arka.
"Benar. Aku punya Kakak, tapi dia nggak tinggal bersama kami. Dia punya rumah pribadi tapi nggak di daerah sini. Kenapa, Bel? Apa kamu tertarik sama Kakak-ku?" Tanya Arka, membuat Belinda menjadi panik. Namun sikap tenangnya berhasil menyembunyikan ekspresinya dari Arka.
"Ngaco! Aku bahkan belum pernah melihat Kakakmu, aku saja baru bertemu kamu hari ini." Sahut-nya, memalingkan wajah. Hal itu justru membuat Arka gemas melihatnya.
"Jadi kenapa kamu malah bertanya tentang Kakak-ku padahal aku di sampingmu?!" Tiba-tiba Arka mendekatkan dirinya pada Belinda. Mendesaknya sampai membuat Belinda tersudut.
Namun Belinda dengan mudah membalikkan keadaan. Ia mendorong d**a Arka menggunakan jari-nya dengan mudah, "Itu aku lakukan karena aku bingung harus ngobrol apa sama kamu? Gitu aja nggak ngerti!" Wanita itu lagi-lagi pandai menutupi perasaan panik-nya. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, bahwa dirinya bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Arka.
Kini Arka mengelakkan tawa-nya mendengar pengakuan Belinda. "Aneh, kenapa aku bisa mendorongnya? Sedangkan sama Orang itu, aku sama sekali nggak bisa berkutik!" Monolog Belinda dalam hati.
"Sepertinya sampai disini saja pertemuan hari ini, aku pulang dulu Tuan Arka." Kata Belinda, beranjak dari duduk-nya.
"Aku akan mengantarmu!" Sebagai Pria yang tak menolak perjodohan, Arka tentu dengan senang hati mengantar pulang Belinda__Calon Istrinya.
Kedua-nya terlihat sama-sama tidak menolak. Apa lagi Belinda yang masih bingung, sekaligus syok karena telah salah paham terhadap seseorang.
Dalam perjalanan menuju ke mobil, mereka berdua berpapasan dengan seseorang yang juga akan menuju ke mobilnya juga.
"Kak?" Ucap Arka, menyapa Kakak-nya yang tak sengaja berpapasan.
Dia tentu Arga Baskara, Pria itu menoleh dan membalas sapaan Adik-nya. Namun di antara keduanya, ada seseorang yang seketika menjadi gugup. Bagaimana tidak? Belum lama ini Belinda salah mengira bahwa Arga adalah Pria yang akan dijodohkan dengannya.
"Kenapa Kakak nggak menghubungiku kalau mau pulang? Apa Kakak ketemu sama Papa, Mama?" Tanya Arka, selayaknya seorang Adik pada Kakak-nya.
Arga sejenak terdiam, dan hanya menatap lurus ke arah Belinda yang berusaha menahan gugup. "Tidak. Aku cuma datang mengambil anggur!" Sahut-nya, sambil tetap menatap lekat Belinda. Tatapannya seolah mengatakan sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh Belinda.
Menyadari Kakak-nya terus menatap Belinda, Arka pun segera mengenalkan Calon Istrinya pada Arga. "Kak, kenalin, dia Belinda. Putri keluarga Chandra, juga Calon tunanganku." Ujar Arka terlihat bangga memperkenalkan Belinda pada Arga__Kakak-nya.
Kemudian Arka bergantian menatap Belinda, mengenalkan Kakak-nya " Bel, dia Kakak-ku, Arga Baskara." Ucap-nya, membuat Belinda semakin tak bisa menahan gugup.
Arga terlihat tersenyum tengil menatap Belinda, " Hey, kenapa diam? Cepat sapa Kakakku? Bukannya kamu tadi menanyakan Kakaku?" Ucap-nya, semakin membuat Belinda ingin menghilang dari pandangan mereka.
"Bodoh! Kenapa kamu bilang begitu segala?" Batinnya, merutuki Arka.
"Oh, jadi kamu mencari tau tentangku lewat Calon tunanganmu sendiri? Menarik!" Batin Arga, tersenyum smrik.
"Ha-halo Kak, aku Belinda." Ucap Belinda, berusaha agar tidak canggung. Ia juga menyodorkan tangannya kepada Arga.
Tak butuh waktu lama, Arga pun menjabat erat tangan Belinda. "Senang bertemu denganmu, IBELL" Tutur Arga, menatap intens Belinda.
"Ibel?" Arka mengernyitkan dahi. Bertanya-tanya tentang Arga, mengapa dia memanggil Ibell pada Belinda?
Wanita 24 tahun itu semakin panik dibuat-nya. "Dasar gila! Apa yang dia lakukan?" Batin Belinda, rasanya ingin memaki Arga. Bahkan tatapan tajamnya dapat dirasakan oleh Arga.
"Ah, aku hanya nggak suka berbicara terlalu panjang jadi sepertinya Ibel sama saja dengan Belinda," sahut Arga, berhasil mengelabuhi Adik-nya dengan sikap dingin yang di milikinya.
"Emh, benar juga. Kalau begitu kami duluan ya, Kak. Aku akan mengantar Belinda pulang dulu," Ucap Arka, mengakhiri obrolan singkatnya dengan Arga.
Arga hanya bisa menganggukkan kepalanya, sembari melihat Belinda bersama Adik-nya. Sesekali Belinda menoleh ke arah Arga dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Akhirnya aku berhasil pergi dari hadapan dia!" Batin Belinda, kini berada di dalam mobil.
"Maafin Kakak ya, biasanya dia memang nggak suka bicara panjang lebar, jadi dia sesuka hati memanggil namamu," Tutur Arka, membahas panggilan singkat Arga pada Belinda.
"Kamu nggak perlu minta maaf, itu bukan hal yang perlu di permasalahkan." Sahut-nya, tak ingin lagi membahas soal Arga.
Sebelum mengantar Belinda pulang, Arka lebih dulu pamit dengan para Orang tua, sehingga mereka sangat senang melihat perkembangan kedekatan Arka dan juga Belinda.
****
Di sudut lain, Arga terlihat tengah menyetir mobilnya menuju ke Rumah. Rasanya sedikit tidak nyaman, ketika melihat Belinda pergi bersama Arka__Adik-nya.
Arga sejak kecil sudah tumbuh menjadi sosok yang mandiri. Ia kuat dan terbiasa menghadapi semuanya sendiri, karena sejak kecil hanya Arka yang sering mendapat perlakuan baik dari Orang tuanya. Entah itu hanya perasaan Arga saja, namun untuk berada di titik ini, Arga di tunjuk langsung oleh Kakek-nya untuk memimpin keluarga dan juga Perusahaan keluarga.
Dari kejauhan, Arga menyipitkan matanya ketika melihat perempuan yang tidak asing baginya. "Kenapa dia disini?" Batinnya, berusaha menepikan mobilnya.
Perlahan kaca mobilnya terbuka, lalu melihat sosok Wanita yang berhasil menarik perhatiannya. "Hey, kemana calon tunanganmu? Kenapa kamu malah jalan kaki begini?" Tanya Arga, ketika melihat Belinda tiba-tiba berjalan di tepi jalan.
"Akuu...."
Apa yang terjadi dengannya???
*****
Next....