BAB 4 — PELATIHAN DAN UJIAN PERTAMA

1566 Words
Langkah kaki Hazel berayun pelan di koridor batu yang panjang. Pagi itu seorang pelayan mengetuk pintunya lebih awal dari biasanya, menyampaikan pesan singkat: “Tuan Falcone memanggilmu ke aula.” Tidak ada penjelasan. Tidak ada waktu untuk menolak. Hazel menarik napas panjang. Di dalam hatinya, ketegangan sudah memuncak bahkan sebelum ia tiba. Ia masih bisa mengingat mimpi buruk semalam—bayangan cambuk Hia, suara tawa Bagaskara, dan tubuhnya yang ringkih dipaksa tunduk. Apa yang akan mereka lakukan padaku sekarang? Ketika pintu besar aula terbuka, Hazel hampir terhenti di ambang. Ruangan itu luas, dengan langit-langit tinggi bertabur lampu gantung. Lantai marmer berkilau, namun di tengahnya ada lingkaran kosong, seolah memang disediakan untuk pertarungan atau ujian. Beberapa pria berseragam hitam berdiri di tepi ruangan. Mata mereka tajam, penuh penghakiman. Dan di antara mereka, Marco sudah menunggu dengan ekspresi puas, seperti pemangsa yang baru mencium bau ketakutan. “Kau benar-benar datang,” ujarnya, menyeringai. “Aku kira b***k Alagar lebih suka bersembunyi di balik tirai kamar.” Hazel menahan diri. Tangannya dingin, tapi ia mencoba melangkah maju tanpa goyah. Aginos duduk di kursi besar di ujung ruangan, tubuhnya santai tapi matanya mengunci Hazel. Tatapan itu menusuk, tak memberi celah untuk berpaling. “Dekat kemari,” katanya pelan, namun gaungnya memenuhi aula. Hazel menuruti, langkahnya terdengar jelas. Setiap detik terasa lama, seolah jarak antara mereka tak pernah habis. Saat ia berhenti, Aginos berdiri, lalu turun dari kursinya. “Mulai hari ini,” katanya, berjalan mengitari Hazel seperti seorang penguji, “kau tidak hanya akan makan dan tidur di rumah ini. Kau akan belajar. Bertahan hidup di mansion Falcone artinya kau harus bisa berdiri, bahkan ketika semua orang ingin menjatuhkanmu.” Hazel menelan ludah, tubuhnya menegang. Aginos menoleh ke Marco. “Kau.” Marco segera maju, berdiri di lingkaran kosong. Senyumnya melebar, seolah sudah menebak perintah berikutnya. “Coba jatuhkan dia,” ujar Aginos datar. Hazel sontak menoleh, matanya membesar. “Apa—?” Marco terkekeh rendah, melangkah maju. “Dengan senang hati.” Hazel mundur selangkah, jantungnya berdentum kencang. Tubuhnya mengingat terlalu jelas bagaimana rasanya ketika seseorang lebih kuat menindihnya. Semua teror itu menyeruak kembali. Marco meluncur cepat, tangannya terulur hendak meraih lengan Hazel. Refleks Hazel menjerit kecil, mencoba menepis. Gerakannya canggung, tapi cukup membuat Marco tak langsung berhasil. “Lemah,” ejek Marco, menyerang lagi. Hazel berusaha menghindar, namun ujung bahunya terseret keras hingga ia terjatuh di lantai marmer. Nafasnya memburu, pandangannya berkunang. Aginos bersuara. “Bangun.” Hazel mendongak, matanya berkaca-kaca. “Aku—” “Bangun,” ulang Aginos, nadanya dingin. Dengan gemetar, Hazel menopang tubuhnya dan berdiri. Lututnya lemah, tapi ia tak ingin kembali dipanggil pecundang. Marco kembali menyerang, kali ini lebih cepat. Hazel hampir tak sempat berpikir. Ia hanya ingat pernah dipukul cambuk, pernah ditendang tanpa ampun. Jangan biarkan mereka mengulanginya…! Tangannya terangkat, menepis sekuat tenaga. Bukan teknik, hanya naluri. Tapi untuk pertama kalinya, Marco terdorong selangkah mundur. Suasana aula hening sejenak. Para pria lain saling pandang, lalu mendengus kecil. Hazel terengah, matanya tak lepas dari Marco. Untuk sesaat, ketakutannya berubah menjadi api kecil. Aginos mendekat, suaranya rendah namun tegas. “Itu baru langkah pertama. Kau tidak perlu menang. Cukup jangan pernah menyerah.” Hazel menoleh, terpaku pada kata-kata itu. Ada sesuatu yang menusuk dalam hatinya—sebuah tantangan sekaligus dorongan. Marco, dengan rahang mengeras, kembali bersiap. Tapi kali ini Hazel menegakkan tubuhnya, menatap langsung mata lawannya. Ia masih gemetar, namun tidak lagi sepenuhnya sebagai korban. Dan Aginos, berdiri di sisi lingkaran, memperhatikan tanpa ekspresi, meski matanya memantulkan sinar berbeda—sinar yang Hazel belum bisa mengerti. *** Marco kembali melangkah maju, langkah kakinya berat dan mantap. Tatapan penuh ejekan menusuk Hazel, seolah mengatakan bahwa keberaniannya tadi hanyalah kebetulan kecil. “Kau pikir bisa melawan dengan itu?” Marco mendengus, lalu berlari kecil ke arahnya. Hazel menahan napas. Tangannya otomatis terangkat, mencoba bertahan. Tapi Marco terlalu kuat; sekali sentakan, tubuh Hazel kembali terhempas ke lantai. Suara benturan keras menggema, rasa perih menjalar dari pinggulnya. Gelak tawa kecil terdengar dari beberapa pria yang menonton. Hazel memejamkan mata sesaat, air matanya hampir tumpah. Namun suara dingin Aginos memotong. “Bangun.” Hazel menggertakkan gigi. Tubuhnya sakit, lututnya gemetar, tapi ia merangkak dan berdiri lagi. Ia menatap lantai, takut menatap wajah siapa pun, tapi suaranya bergetar ketika berkata, “Aku belum kalah.” Marco mendengus kasar. Ia kembali menyerang, lebih keras. Hazel mencoba menghindar, tubuhnya goyah, tapi kali ini ia tidak langsung jatuh. Ia terhuyung, namun segera menyeimbangkan diri. Sekali lagi Marco mengulurkan tangannya, berniat menyeret Hazel jatuh. Hazel menjerit, tapi tangan kirinya terangkat spontan, menampar keras wajah Marco. Semua orang terdiam. Marco terkejut, rahangnya terputar ke samping. Tatapannya seketika membara penuh amarah. “Berani kau—!” Namun sebelum ia bisa melanjutkan, suara berat Aginos memotong. “Cukup.” Marco menoleh, napasnya kasar. “Tuan, dia—” “Sudah cukup.” Aginos berjalan mendekat, berdiri di antara Marco dan Hazel. “Aku memintamu untuk menguji, bukan membantai. Kalau dia jatuh dan bangkit tiga kali, itu sudah cukup untuk hari ini.” Hazel terhuyung, tubuhnya lemah. Keringat bercucuran, wajahnya memucat. Namun di balik ketakutannya, ada secuil rasa bangga—ia berhasil berdiri, meski tubuhnya hampir remuk. Aginos menatapnya. “Kau payah. Gerakanmu kacau. Tapi setidaknya kau tidak berhenti.” Hazel menelan ludah, menunduk. Kata-kata itu dingin, tapi di telinganya terdengar lebih seperti pengakuan pertama bahwa ia bukan sepenuhnya sampah. “Bawa dia kembali ke kamarnya,” perintah Aginos pada salah satu pelayan. “Besok kita ulangi lagi.” --- Malam Hari Hazel tergeletak di ranjangnya, tubuh penuh memar. Pelayan telah memberinya salep, tapi rasa sakitnya masih menyiksa. Ia menatap langit-langit kamar, air mata pelan mengalir ke pelipis. Apakah aku benar-benar bisa bertahan di sini? Atau hanya menunda kehancuran? Matanya akhirnya terpejam, meski tubuhnya masih nyeri. Dan seperti biasa, mimpi buruk datang menjemput. Ia kembali berada di ruangan gelap, bau besi dan darah menusuk hidungnya. Sosok Bagaskara muncul, wajahnya bengis. “b***k. Tunjukkan kepatuhanmu!” Cambuk terangkat tinggi. Hazel gemetar, tapi kali ini ada sesuatu yang berbeda. Di dalam mimpinya, ia melihat tangannya—tidak lagi diikat. Kakinya masih lemah, namun ia bisa bergerak. Ketika cambuk melayang, Hazel berteriak, tapi bukan jeritan ketakutan. Tangan kirinya terangkat, mencoba menahan pukulan. Rasa sakit tetap menghantam tubuhnya, tapi ia tidak runtuh. “Tidak lagi!” teriaknya dalam mimpi. “Aku bukan milikmu!” Bagaskara tertawa, tapi tawanya terdengar semakin jauh, semakin kabur. Gelap gulita menelan sosoknya, hingga Hazel berdiri sendiri di ruangan kosong. Nafasnya memburu, tapi untuk pertama kali, ia tidak berlutut. --- Hazel terbangun dengan keringat membanjiri wajah. Nafasnya berat, matanya mencari kepastian. Ruangan yang ia lihat adalah kamar di mansion Falcone, bukan ruang penyiksaan Alagar. Tangannya menggenggam selimut erat-erat. Air mata jatuh, tapi kali ini bercampur dengan sesuatu yang lain—kelegaan. Ia berbisik pada dirinya sendiri. “Kalau aku bisa melawan di dalam mimpi… mungkin aku bisa melawan di dunia nyata.” *** Malam itu, mansion Falcone sunyi. Hanya suara jam antik di lorong yang berdentang pelan, menandai lewatnya detik demi detik. Aginos berdiri di balkon lantai atas, memandang ke arah taman yang diterangi cahaya bulan. Namun pikirannya tidak benar-benar ada di sana. Tatapannya melayang ke arah jendela kamar Hazel yang remang. Dari balik kaca, ia sempat melihat gerakan tubuh kecil itu—gelisah, seperti seseorang yang dihantui mimpi buruk. Ia menghela napas berat, meneguk segelas bourbon di tangannya. “Dia bertahan lebih lama dari yang kuduga,” gumamnya rendah. Marco muncul dari balik bayangan, wajahnya masih menyimpan amarah karena tamparan Hazel siang tadi. Ia berdiri tegak, tapi suaranya kasar. “Dengan izin Tuan, sebaiknya gadis itu diberi pelajaran lebih keras. Dia terlalu berani.” Aginos menoleh perlahan, sorot matanya dingin. “Apakah keberanianmu juga sebesar itu, Marco? Kau marah hanya karena tamparan seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara bertahan hidup.” Marco terdiam, rahangnya mengeras. “Tapi, Tuan—” “Diam.” Aginos memotong, nada suaranya tajam bagai pisau. “Tugasmu menguji, bukan melampiaskan seolah kau memiliki dendam pribadi. Ingat tempatmu.” Marco menunduk, menahan kesal. “Baik, Tuan.” Lalu ia beranjak pergi, meninggalkan Aginos sendiri dengan pikirannya. Aginos kembali menatap jendela Hazel. Hening sejenak, sebelum ia berbisik seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Api itu… kalau tidak dipadamkan, bisa membakar siapa saja. Bahkan aku.” --- Dalam kamar Hazel Hazel terduduk di tepi ranjang, tubuhnya masih gemetar setelah mimpi buruk tadi. Ia menatap kedua tangannya yang mengepal, masih merasakan sisa rasa sakit dari bayangan cambuk dalam mimpinya. Namun kali ini berbeda. Ada secuil kekuatan yang tumbuh. Aku melawan… walaupun hanya di mimpi. Ia menarik napas dalam-dalam. “Besok, aku akan berdiri lagi. Meskipun jatuh seratus kali.” Kata-kata itu lirih, tapi tekadnya nyata. Hazel merebahkan diri, memejamkan mata. Tubuhnya butuh istirahat, meski pikirannya masih berkecamuk. --- Beberapa jam kemudian Aginos berjalan masuk ke kamarnya sendiri. Namun langkahnya terhenti di depan pintu Hazel. Ia tidak membuka, hanya berdiri di sana, mendengarkan napas teratur gadis itu dari balik pintu. Wajahnya tanpa ekspresi, namun pikirannya bergejolak. Dia masih rapuh. Tapi jika rapuh seperti itu saja sudah bisa menampar Marco… bayangkan jika dia tumbuh lebih kuat. Ia tersenyum tipis, dingin. “Mungkin aku sedang menciptakan musuh yang akan membunuhku sendiri.” Tapi alih-alih takut, ada nada tantangan dalam suaranya. Seperti seseorang yang menanti permainan baru dimulai. Aginos akhirnya melangkah pergi, meninggalkan lorong. Dan malam itu berakhir dengan dua jiwa yang sama-sama terjaga—satu dalam tekad yang mulai menyala, satu lagi dalam kewaspadaan dingin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD