BAB 3 — ATURAN RUMAH FALCONE

2306 Words
Pagi itu, Hazel menatap keluar jendela besar yang terbuka ke taman luas milik keluarga Falcone. Matahari bersinar lembut, tapi bagi Hazel cahaya itu terasa asing. Semuanya terlalu indah, terlalu berbeda dengan tempat asalnya. Mansion Falcone tidak seperti neraka Alagar. Di sini, lantai marmer berkilau, langit-langit dihiasi lampu kristal, dan aroma kopi segar menyebar di udara setiap pagi. Tapi Hazel tahu, di balik kemewahan itu, ada jeruji tak kasat mata yang lebih kuat dari rantai besi. Seorang pelayan mengetuk pintu. “Nona, Tuan Falcone memanggil Anda ke ruang makan.” Hazel menegakkan tubuhnya. Ia tahu, tidak datang bukan pilihan. Dengan langkah hati-hati, ia menuruni tangga megah, pandangannya menyapu ruangan yang penuh dengan lukisan keluarga Falcone. Setiap potret menatap tajam, seakan menilai siapa saja yang berani melintas di bawahnya. Di ruang makan panjang itu, Aginos duduk di kursi utama. Di hadapannya, sarapan tersusun rapi: roti panggang, omelet, dan segelas anggur merah—pagi hari, tapi pria itu tetap minum anggur. “Kau lambat,” ucapnya datar tanpa menoleh. Hazel menahan napas. “Maafkan saya.” Aginos menatapnya sekilas, matanya tajam. “Duduk.” Hazel menuruti. Kursi kayu itu terasa dingin, membuatnya kaku. Ia meraih sendok, tapi tangan Aginos tiba-tiba menahan gerakannya. “Bukan begitu caranya.” Ia meletakkan sendok Hazel kembali, lalu memberi isyarat pada salah satu pelayan. Pelayan itu maju, meletakkan selembar kertas di meja. “Ini aturan rumah Falcone,” kata Aginos. “Bacalah.” Hazel menatap kertas itu. Tulisan tegas, rapi, dan jelas: 1. Semua penghuni tunduk pada perintah Tuan Falcone. 2. Tidak ada pertanyaan pada keputusan Tuan. 3. Tidak ada kebohongan di dalam mansion. 4. Siapa pun yang melanggar, akan dihukum. Hazel menggenggam kertas itu erat. Ia bisa merasakan dinginnya setiap kata, seolah huruf-huruf itu bukan tinta melainkan belati. “Kau mengerti?” tanya Aginos. Hazel meneguk ludah. “Ya.” “Bagus.” Aginos kembali memotong roti, menyantapnya dengan tenang. “Ingat, mansion ini bukan tempat berlindung. Jika kau berpikir bisa bersembunyi dari masa lalumu di sini, kau salah.” Hazel menunduk. Kata-katanya ingin keluar, ingin membantah, tapi ia menahan diri. Namun ketika ia hendak mulai makan, sebuah suara dingin memotong. “Jadi ini… b***k baru itu?” Hazel mendongak. Seorang pria berdiri di pintu ruang makan—tinggi, berotot, dengan mata setajam serigala. Wajahnya memiliki bekas luka panjang di pipi, menambah kesan menyeramkan. Hazel bisa merasakan udara berubah. Pelayan menunduk, seolah kehadiran pria itu membawa tekanan tersendiri. Aginos menoleh santai. “Nona Zielle, kenalkan. Ini Marco, tangan kananku.” Marco melangkah mendekat, menatap Hazel dari atas hingga bawah dengan tatapan yang membuatnya ingin bersembunyi. “Dia terlihat rapuh,” ucap Marco datar. “Kenapa kau repot-repot membawanya ke sini, Tuan?” Hazel menegang, darahnya berdesir. Ia terbiasa dengan tatapan merendahkan, tapi kali ini berbeda. Marco bukan keluarga Alagar, tapi tetap saja, tatapannya membuatnya merasa seperti barang tak berharga. Aginos menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Karena aku ingin tahu… seberapa lama dia bisa bertahan di rumah ini.” Marco tertawa kecil, suaranya dingin. “Kalau begitu, kita lihat saja seberapa cepat ia hancur.” Hazel mengepalkan tangan di bawah meja. Ia ingin berteriak, ingin membalas, tapi suaranya terkunci. Ia tahu, satu kata salah bisa jadi awal hukuman. Aginos meliriknya sekali lagi, seolah menunggu reaksi. Tapi Hazel memilih diam, menundukkan wajahnya pada piring. Dalam diam itu, ia membuat janji pada dirinya sendiri, meski seluruh rumah ini menantang, ia tidak akan memberi mereka kepuasan melihatnya runtuh. *** Setelah sarapan pagi itu, Hazel berjalan mengikuti pelayan yang ditugaskan mengantarnya berkeliling mansion. Langkahnya ringan, tapi jantungnya berdegup cepat. Ia bisa merasakan tatapan Aginos dari belakang tadi masih menusuk, seakan menguji apakah ia benar-benar mengerti arti “aturan” yang diberikan. Lorong demi lorong terbentang. Lukisan-lukisan tua menghiasi dinding, sebagian besar menggambarkan adegan pertempuran atau potret keluarga Falcone terdahulu. Aroma kayu tua bercampur dengan wangi bunga segar yang diletakkan di vas-vas kristal. Semua terasa indah, tapi bagi Hazel, ada sesuatu yang mencekam. Pelayan perempuan yang menuntunnya berhenti di sebuah pintu besar berukir. “Ini kamar Anda, Nona Hazel. Mulai hari ini, Anda tinggal di sini. Jika membutuhkan sesuatu, tekan bel di sisi meja, akan ada pelayan yang datang.” Hazel mengangguk, berusaha menahan kegugupan. “Terima kasih.” Begitu pintu ditutup, ia berdiri sendiri di dalam kamar itu. Ruangan luas dengan ranjang canopy putih, lemari kayu mahoni, dan jendela besar yang menampakkan taman belakang. Semua tampak sempurna—kecuali di dalam dirinya, tidak ada sedikit pun rasa aman. Ia menelusuri ranjang itu dengan jemari. Terlalu lembut, terlalu berbeda. Ingatannya berlari kembali pada malam-malam ketika ia dipaksa tidur di lantai dingin mansion Alagar, hanya beralaskan tikar tipis. Tiba-tiba— suara cambuk terngiang di kepalanya. “Jangan menangis, Hazel! Kau bukan apa-apa di rumah ini!” suara Saphira menggema. Tubuh Hazel bergetar. Ia buru-buru menutup telinganya dengan kedua tangan. Nafasnya terengah, jantungnya seolah diremas. Kau sudah di sini sekarang… ini bukan rumah Alagar… ini berbeda… ia mencoba menenangkan diri, tapi ingatan itu begitu kuat. --- Siang harinya, Hazel memberanikan diri keluar kamar. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa beradaptasi, sekaligus mengusir rasa sesak yang terus menekannya. Di dapur, ia menemukan beberapa pelayan tengah menyiapkan hidangan untuk makan siang. Begitu ia masuk, suasana langsung hening. “Itu dia… b***k yang dibawa Tuan,” bisik salah satu pelayan pria dengan nada rendah tapi cukup terdengar. Hazel merasakan panas merambat ke wajahnya. Mereka menatapnya seakan ia penyakit. Seorang pelayan wanita paruh baya maju mendekat. Tatapannya tajam, suaranya sinis. “Di sini, semua orang punya tugas. Apa tugasmu? Kau pikir hanya duduk cantik di samping Tuan?” Hazel terdiam. Lidahnya kelu. Ia tidak tahu apa yang boleh atau tidak boleh ia jawab. Wanita itu mendengus, lalu menyodorkan seember air. “Kalau mau tinggal di sini, buktikan dirimu. Bersihkan lantai dapur. Atau… mungkin kau terlalu halus untuk pekerjaan kotor?” Hazel menatap ember itu. Tangannya bergetar, tapi ia meraihnya tanpa berkata apa-apa. Ia berlutut, mulai membersihkan lantai dengan kain lap. Bisikan-bisikan sinis terdengar di sekelilingnya. “Lihat, bahkan lebih buruk dari pelayan baru.” “Katanya dia simpanan Tuan, tapi Tuan memilih barang rusak.” “Haha, berapa lama kau pikir dia bertahan?” Hazel menunduk dalam-dalam. Setiap kata itu seperti pisau yang menorehkan luka lama. Ia bisa merasakan bayangan Hia Alagar mencuat—kakak tirinya yang sering memaksa Hazel mencuci lantai dengan darah segar dari luka cambukannya sendiri. Air matanya hampir jatuh. Tapi Hazel menggigit bibir, menahan diri. Tidak, aku tidak akan menangis di depan mereka. Aku tidak akan memberi mereka kepuasan. --- Beberapa jam kemudian, Hazel kembali ke kamar dengan tangan merah karena terlalu lama bersentuhan dengan sabun keras. Tubuhnya letih, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia merebahkan diri di ranjang. Cahaya senja masuk lewat jendela, menciptakan bayangan panjang di dinding. Hazel memejamkan mata, berharap bisa tidur sebentar. Namun begitu kelopak matanya menutup, bayangan itu datang lagi. Ia melihat dirinya terikat di tiang mansion Alagar. Hia berdiri di depannya dengan cambuk di tangan. “b***k hina! Kau tidak layak makan di meja kami!” cambuk itu menghantam punggungnya. Hazel terbangun dengan teriakan lirih. Tubuhnya basah oleh keringat dingin. Ia terengah, memegang lehernya sendiri seakan masih dicekik. Ketukan pelan terdengar di pintu. “Nona Zielle?” suara berat Aginos. Hazel membeku. Ia buru-buru mengusap wajahnya, menyembunyikan sisa air mata. “Ya, Tuan…” suaranya serak. Pintu terbuka. Aginos masuk, berdiri tegak dengan tatapan yang sulit dibaca. Matanya menyapu kamar, lalu berhenti pada Hazel. “Kau berteriak,” katanya singkat. Hazel menunduk. “Maaf… saya hanya bermimpi buruk.” Aginos mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. “Tentang Alagar?” Hazel terdiam. Kata-kata itu menusuk jantungnya. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Aginos dengan mata terbelalak. “Kau…” Aginos mengangkat alis, senyum dingin terulas di bibirnya. “Tidak perlu kaget seperti itu. Kalau kau benar-benar piagam kebanggaan keluarga Alagar, kau tidak mungkin berada di sini. Mereka menjualmu karena bagi mereka… kau hanyalah budak.” Hazel terdiam, nafasnya tercekat. Kata “b***k” meluncur dari bibir Aginos dengan begitu mudah, tapi justru menghantamnya seperti palu godam. Air matanya hampir pecah, tapi ia menahan. “Aku…” bibirnya bergetar. Aginos berdiri, menunduk mendekat. “Belajarlah satu hal, Hazel. Di rumah ini, kau tidak boleh terlihat lemah. Aku tidak menyukai barang rusak. Jadi, jika ingin bertahan, perbaiki dirimu. Mengerti?” kali ini Aginos tak lagi memanggilnya dengan sebutan ‘Nona Zielle’. Hazel menggenggam sprei erat, mencoba menyembunyikan gemetar tubuhnya. Ia mengangguk kecil. “Mengerti, Tuan.” Aginos berbalik, berjalan ke pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti sejenak, suaranya terdengar lebih dalam. “Kalau kau benar-benar ingin membalas dendam… berhentilah bersikap seperti korban.” Pintu tertutup. Hazel menatap kosong ke arah pintu itu. Kata-kata Aginos bergema di kepalanya—tajam, dingin, tapi entah kenapa ada sedikit kebenaran di dalamnya. Untuk pertama kalinya, Hazel merasakan sesuatu yang aneh, bukan hanya ketakutan, tapi juga dorongan untuk bangkit. *** Keesokan paginya, Hazel bangun lebih cepat dari biasanya. Matahari baru saja terbit, sinarnya menembus tirai tipis kamar. Malam tadi ia kembali bermimpi buruk, tapi kali ini ia menolak membiarkan tangisnya terdengar. Kata-kata Aginos masih terngiang. “Kalau kau benar-benar ingin membalas dendam, berhentilah bersikap seperti korban.” Ia bangkit, mencuci wajahnya dengan air dingin, lalu menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah pucat dengan mata sembab menatap balik. Hazel menggenggam pinggiran meja rias, menahan perasaan yang mendesak. Aku tidak akan terus terlihat rapuh. Tidak lagi. --- Saat ia keluar kamar, lorong mansion sudah ramai. Pelayan sibuk membersihkan lantai, menata vas bunga, dan menyalakan lampu gantung kristal. Hazel melangkah hati-hati, merasa setiap tatapan masih menilainya. Di ruang tengah, ia kembali bertemu Marco. Pria itu bersandar di dinding dengan tangan menyilang, seperti sengaja menunggunya. “Pagi yang indah untuk seorang b***k,” ujarnya dingin, sudut bibirnya terangkat sinis. Hazel menahan diri. Ia tahu, membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Ia menunduk, hendak berjalan melewati Marco, tapi pria itu menahan langkahnya dengan bahu kekarnya. “Jangan berpikir kau bisa bersembunyi di balik belas kasihan Tuan,” bisiknya dekat telinga Hazel. “Aku sudah melihat banyak wanita masuk mansion ini. Tak satu pun yang bertahan lama.” Hazel menatap lurus ke depan, mencoba tak bergeming. Tapi dalam hatinya, ia merasakan api kecil menyala—bukan ketakutan, melainkan kemarahan. “Kalau begitu,” ucapnya pelan namun jelas, “aku akan jadi yang pertama.” Marco mendengus kecil, seolah terkejut dengan keberanian itu, lalu melangkah pergi tanpa kata. Hazel berdiri sendiri di lorong, napasnya memburu. Tangannya sedikit gemetar, tapi untuk pertama kali sejak ia berada di rumah itu, ia merasa tidak sepenuhnya kalah. --- Siang harinya, Hazel mendapat tugas dari salah satu pelayan senior untuk membantu merapikan perpustakaan. Ruangan itu begitu luas, dengan rak-rak kayu menjulang penuh buku tua berbahasa Italia dan Latin. Aroma kertas kuno dan debu memenuhi udara. Hazel menelusuri rak, jemarinya menyapu judul-judul yang asing baginya. Ia berhenti pada sebuah buku bersampul hitam, tanpa judul. Rasa penasaran membuatnya menarik buku itu. Saat ia membuka halaman pertama, sebuah foto jatuh. Hazel menunduk mengambilnya—foto seorang wanita cantik dengan senyum lembut. Ada sesuatu yang menggetarkan hati Hazel. wajah itu mirip sekali dengan ibunya dalam samar ingatannya. “Kenapa kau memegang itu?” Hazel terlonjak. Aginos berdiri di pintu, tatapannya tajam menusuk. Ia berjalan mendekat, mengambil foto dari tangan Hazel. “Maaf… saya hanya…” Hazel tergagap, takut membuat kesalahan. Aginos menatap foto itu sejenak sebelum menyelipkannya kembali ke dalam buku. “Itu bukan untukmu.” Hazel menunduk, tapi dalam hatinya ia bertanya-tanya. Siapa wanita itu? Kenapa mirip sekali dengan Mama… Aginos menutup buku dengan keras, lalu menatap Hazel. “Jangan sentuh sesuatu yang bukan milikmu. Kau sudah cukup punya beban sendiri.” Namun, alih-alih marah, nada suaranya terdengar lebih berat, nyaris seperti seseorang yang menyembunyikan luka lama. Hazel merasakannya, tapi ia tahu tidak bijak bertanya lebih jauh. --- Malam itu, makan malam berlangsung dalam diam. Hazel duduk di ujung meja panjang, sementara Aginos di kursi utama. Marco dan beberapa pria lain berdiri di belakang, berjaga. Hazel memandangi piringnya, mencoba memotong daging dengan tenang. Tapi tatapan Marco yang terus menusuk membuat tangannya gemetar. Aginos meletakkan garpunya. “Marco.” Marco menegakkan tubuh. “Ya, Tuan?” “Jika kau punya waktu luang untuk mengawasi wanita yang bahkan belum bisa melindungi dirinya sendiri, berarti kau tidak cukup sibuk. Besok aku akan memberimu misi tambahan.” Ruangan seketika hening. Marco mengangguk, meski rahangnya mengeras. Hazel menunduk cepat, menyembunyikan keterkejutannya. Ia tahu, Aginos tidak melakukannya untuk membelanya. Tapi di balik sikap dinginnya, itu terasa seperti perlindungan tak langsung. --- Larut malam, Hazel kembali terjerat mimpi buruk. Ia berlari di lorong mansion Alagar, suara langkah Hia mengejarnya dengan cambuk di tangan. “b***k hina! Kau tidak bisa kabur!” Hazel berteriak, tubuhnya terbangun dengan keringat membanjiri wajah. Nafasnya berat, matanya liar mencari kenyataan. Pintu kamarnya terbuka—Aginos lagi-lagi berdiri di ambang. Kali ini, ia tidak langsung bicara. Ia hanya menatap Hazel, lalu melangkah masuk. “Berhenti memberi musuhmu kemenangan bahkan di dalam mimpimu,” katanya datar. Hazel memeluk lutut, bergetar. “Aku… aku tidak bisa menghentikannya…” Aginos berdiri lama, lalu menarik kursi mendekat ranjang. “Mereka sudah tidak ada di sini. Yang ada hanya aku. Dan aku lebih buruk dari mereka.” Hazel mengangkat wajah, menatap mata gelap itu. “Jika kau lebih buruk… kenapa kau masih di sini?” Pertanyaan itu menggantung. Aginos tidak segera menjawab. Tatapannya menajam, seolah ia sendiri tidak tahu kenapa ia masuk kamar Hazel lagi malam itu. Akhirnya ia berdiri. “Tidurlah. Besok kau harus belajar cara bertahan hidup di rumah ini, bukan hanya menangis.” Ia pergi, menutup pintu. Hazel menatap kosong ke arah pintu tertutup, hatinya bergetar. Di satu sisi, ia masih takut. Disisi lain, ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Retakan kecil pada dinding es yang mengelilingi Aginos. Dan dalam hati Hazel, sebuah tekad mulai tumbuh. Jika benar ia harus bertahan di mansion ini, maka ia akan melakukannya—bukan sebagai korban, melainkan sebagai seseorang yang perlahan menemukan kembali kekuatannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD