Suara itu tak berasal dari ruangan, melainkan dari dalam kepalaku sendiri. Jernih, berdentang seperti lonceng perak yang memecah keheningan.
Di hadapan mataku yang masih berat terbuka, muncul selembar cahaya berwarna keemasan. Bukan proyeksi dari dinding, bukan bayangan dari lampu — melainkan tulisan yang melayang di udara, bercahaya lembut namun tak bisa diabaikan. Huruf-hurufnya berdenyut, seolah bernapas sendiri.
[SISTEM TERINSTAL 100%]
INI HADIAH PENYAMBUTAN DARI SISTEM:
✅ REVISI BENTUK TUBUH: 99%
✅ KETAMPANAN: 99%
✅ KEKUATAN FISIK & VITALITAS: 99%
✅ KESEMPURAAAN FISIK & PENYEMBUHAN: 99%
✅ SALDO BANK SWISS: 99 miliar USD
✅ KARTU ATM NAGA EMAS — DITERIMA DI SELURUH DUNIA, TANPA BATAS TRANSAKSI
TUGAS UTAMA SISTEM:
Jadilah Don Juan — Penguasa Dunia. Kuasai harta, tahta, dan hati wanita.
Capai status orang terkaya di dunia dalam 5 tahun.
⚠️ MISI GAGAL = KEMATIAN.
Silakan klik ✅ PERSETUJUAN untuk konfirmasi dan aktivasi penuh.
Aku terpaku. Mata yang tadi berat tertutup kini terbuka lebar, menatap deretan tulisan bercahaya itu. Angka-angka yang tak masuk akal melayang di hadapanku. 99 miliar dolar. Bank Swiss. Kartu Naga Emas. Revisi tubuh hampir sempurna.
Jari tanganku yang terpasang infus bergerak pelan, seolah punya kehendak sendiri. Ujung jariku menyentuh permukaan cahaya itu. Tidak ada yang terasa padat, tapi saat ujung jari menyentuh tombol keemasan bertuliskan "PERSETUJUAN", ada getaran halus yang menjalar dari ujung jari, naik ke lengan, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
[DITERIMA — AKTIVASI PENUH DIMULAI]
Rasanya seperti disiram air hangat yang mengalir dari ubun-ubun sampai ke ujung kaki. Setiap inci tubuh yang tadi terasa remuk, kaku, dan nyeri, kini mulai terasa hangat. Luka yang tertutup perban seolah dipijat oleh kekuatan tak kasat mata — menyusut, menutup, sembuh. Tulang yang retak menyatu kembali dengan kekuatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Aku merasakan wajahku terasa geli sedikit. Bopeng-bopeng bekas jerawat yang dulu menjadi sumber penghinaan seumur hidup, kini perlahan mendatar, menipis, lalu lenyap seolah tak pernah ada. Kulit yang kusam mulai memantulkan cahaya, halus dan segar. Rahang yang dulu tak terlihat, kini terdefinisi tegas namun lembut. Mata yang selalu terlihat mengantuk, kini tajam, jernih, seolah ada bintang yang tertanam di baliknya.
Kekuatan baru mengalir di urat-uratku. Bukan sekadar tidak sakit — rasanya sekuat baja, seberat gunung, secepat kilat. Napasku yang tadi dibantu mesin, kini teratur, dalam, dan penuh energi yang tak bisa dihabiskan.
5 tahun menjadi orang terkaya di dunia. Misi gagal = mati.
Kalimat itu terngiang di benakku, bukan sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan sebagai janji. Janji bahwa aku tidak akan pernah lagi menjadi Dika yang dulu.
Aku membuka mata sepenuhnya. Cahaya hologram itu perlahan memudar, lenyap seakan tak pernah ada. Ruangan rumah sakit yang remang-remang kembali terlihat, tapi pandanganku kini lebih tajam, lebih jernih. Aku bisa melihat serat kain di gorden jendela, debu yang menari di sorotan cahaya, bahkan denyut nadi di tangan Ibu yang masih memeluk tanganku di sisi tempat tidur.
"Dika..." suara Ibu terdengar serak, penuh kecemasan. Dia mengangkat wajah yang bengkak dan basah oleh air mata. "Kamu... kamu sudah sadar? Nak, Ibu panggilkan dokter dulu ya!"
Dia hendak berdiri, tapi tanganku yang kini terasa jauh lebih kuat menahan pelan lengan Ibu.
"Ibu..." suaraku sendiri terdengar berbeda. Lebih dalam, lebih tenang, lebih berwibawa, meski masih lembut. "Aku sudah baik-baik saja. Jangan khawatir."
Ibu tertegun sejenak, menatapku seolah tak percaya mendengar suaraku yang sudah berbeda. Lalu dia berlari ke pintu ruangan, memanggil dengan suara yang masih bergetar campuran harap dan takut. "Dokter! Suster! Cepat ke sini! Anakku sadar!"
Tak lama kemudian, langkah kaki cepat terdengar mendekat. Dokter Andri — dokter yang menangani aku sejak dilarikan masuk — masuk lebih dulu, diikuti dua suster dengan catatan medis dan alat pemeriksaan. Wajah dokter tampak tergesa-gesa, kacamata bertengger di ujung hidung.
"Pasien sudah sadar?" tanyanya sambil berjalan mendekati tempat tidur, tangannya sudah siap memeriksa perban dan alat bantu. "Tadi tanda-tanda vital sempat turun drastis, kami pikir—"
Dia berhenti di tepi kasur. Kata-katanya terhenti di tenggorokan. Matanya membelalak, menatapku lekat-lekat seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Dokter?" panggilku pelan, sedikit mengangkat kepala. "Bolehkah perban ini dilepas? Rasanya sudah tidak perlu lagi."
Dokter Andri mengerjap beberapa kali, seolah baru tersadar dari lamunan. Dia mengangguk perlahan, masih dengan tatapan heran. "I... iya. Tentu saja. Suster, bantu saya melepas perban pasien."
Suster yang berdiri di samping masih memegang alat tulis dan buku catatan, juga menatapku dengan pandangan bingung. Dia melangkah maju dengan gerakan yang agak kaku, lalu mulai membantu dokter melepas lapisan perban yang membungkus wajah, leher, tangan, dan kakiku.
Setiap lapis kain putih yang terbuka, semakin lebar mata mereka berdua. Ibu berdiri di sisi lain, tangannya menekan bibir, menahan napas.
Perban di wajah dilepas terakhir kali. Saat kain itu ditarik perlahan ke bawah, Dokter Andri mundur selangkah. Mulutnya sedikit terbuka. Kedua suster menahan napas, mata mereka membelalak tak percaya.
"Mustahil..." bisik dokter itu, tangannya gemetar sedikit memegang perban yang baru saja dilepas. "Cedera yang kami temukan saat kedatangan sangat parah. Luka di wajah, luka di tubuh... seharusnya ada bekas luka permanen, bahkan mungkin cacat seumur hidup. Tapi ini..."
Dia menatap wajahku lekat-lekat, lalu menunduk melihat tangan dan kakiku yang kini terlihat mulus, tanpa satu goresan pun. Kulit bersih, segar, bercahaya seolah tak pernah tertimpa kecelakaan. Bopeng-bopeng yang dulu menghiasi wajahku sudah tak ada lagi. Tergantikan oleh kulit halus, rahang tegas, hidung yang proporsional, dan sepasang mata yang menatap tenang ke arah mereka.
"Tidak ada bekas luka sama sekali?" gumam salah satu suster, menutup mulutnya dengan tangan. "Bahkan tidak ada noda merah atau bekas jahitan. Ini sungguh luar biasa, Dokter."
Ibu melangkah maju perlahan, seolah takut kalau dia bergerak terlalu cepat aku akan lenyap. Dia menatap wajahku dari dekat, matanya berkaca-kaca lagi — tapi kali ini bukan karena sedih.
"Dika..." suaranya bergetar, jari-jarinya menyentuh pipiku dengan sangat hati-hati, seolah memastikan ini nyata. "Ini... ini kamu, Nak? Wajahmu..."
Dia tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata mengalir kembali, tapi kali ini dia tersenyum — senyum yang penuh kelegaan, penuh kebanggaan, dan penuh rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Aku Ibu," jawabku lembut, meraih tangannya dan menekannya di pipiku. "Aku masih Dika. Tapi aku sudah tidak lemah lagi. Tidak akan ada yang bisa menyakiti kita lagi."
Dokter Andri menggelengkan kepala pelan, masih tidak percaya. Dia meraba pergelangan tanganku, memeriksa denyut nadi. Lalu mengambil lampu kecil dari saku jasnya, menyinari mataku satu per satu.
"Denyut nadi sangat kuat. Tekanan darah sempurna. Refleks luar biasa," gumamnya sambil mencatat dengan tangan yang masih sedikit tergesa. "Secara medis, ini tidak masuk akal. Dengan kondisi yang masuk kemarin sore, seharusnya kamu butuh berbulan-bulan perawatan, bahkan mungkin operasi plastik bertahap. Tapi sekarang... kamu terlihat lebih sehat daripada saya sendiri."
Dia menatapku lekat-lekat, matanya penuh rasa ingin tahu yang bercampur kekaguman. "Boleh saya tahu... bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah ada rasa sakit? Pusing? Mual?"
"Aku merasa sangat sehat, Dokter," jawabku tenang, menatap lurus ke matanya. "Bahkan merasa bisa bangun dan berjalan keluar rumah sakit sekarang juga."
"Tidak, tidak!" Dokter mengangkat tangan dengan cepat, meski senyum tipis mulai terlihat di bibirnya. "Kamu tetap harus diobservasi dulu. Meski secara fisik terlihat sehat, kita harus pastikan tidak ada cedera dalam yang terlewat. Tapi... jujur saja, ini adalah keajaiban medis yang belum pernah saya lihat sepanjang karier saya."
Suster yang berdiri di belakang sedikit berbisik ke temannya, tapi suaranya cukup terdengar. "Dia... dia terlihat sangat tampan, ya? Seperti aktor film yang baru selesai di-makeover. Siapa yang menyangka anak yang masuk kemarin dalam kondisi begitu..."
Aku pura-pura tidak mendengar. Tatapanku kembali ke arah Ibu yang masih menatapku tanpa berkedip, seolah takut kalau dia berkedip aku akan berubah kembali menjadi anak yang penuh luka dan miskin.
"Ibu," panggilku lembut, meraih kedua tangannya. "Kita akan baik-baik saja. Mulai sekarang, semuanya akan berubah. Aku janji."
Ibu mengangguk, air matanya jatuh lagi, tapi kali ini dia tersenyum lebar. "Ibu percaya, Nak. Ibu selalu percaya pada kamu. Tidak peduli bagaimana wajahmu, kamu tetap anak Ibu."
Aku tersenyum mendengar itu. Wajah baru, tubuh baru, kekuatan baru, dan kekayaan yang tak terbayangkan — semuanya sudah ada di tanganku. Tapi satu hal yang tidak berubah: Ibu. Dia satu-satunya orang yang tak pernah melihatku sebagai sampah, satu-satunya yang menangis untukku, satu-satunya yang tak pernah memandang rupa atau harta.
Dan karena itulah, dia akan menjadi orang pertama yang kubuktikan bahwa hidup kita sudah berubah selamanya.
Dokter Andri menutup buku catatannya, lalu menatapku dengan tatapan yang lebih serius. "Saya akan meminta tim dokter lain untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Hasil ini terlalu luar biasa untuk hanya saya simpan sendiri. Tapi untuk saat ini... istirahatlah. Kamu sudah melewati hal yang luar biasa."
Dia mengangguk hormat, lalu berjalan keluar ruangan bersama kedua suster itu. Sesaat sebelum pintu tertutup, aku melihat mereka berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke arahku, ekspresi wajah mereka masih bercampur bingung dan kagum.
Ruangan kembali sepi. Hanya ada aku dan Ibu.
Aku meraba saku celana pasien yang tergantung di tepi kasur. Di sana, terasa benda keras yang tidak ada sebelumnya. Aku merogoh pelan, dan di antara jari-jariku muncul selembar kartu berwarna emas yang memancarkan kilau halus. Di permukaannya terukir gambar naga yang melilit bola dunia, tanpa nama, tanpa nomor rekening — hanya simbol yang sangat indah dan terlihat sangat mahal.
Kartu Naga Emas.
Aku mengepal tangan, kartu itu tersembunyi di telapak tanganku. 99 miliar dolar di bank Swiss. Uang yang cukup untuk mengubah seluruh hidup kita, cukup untuk membeli rumah, membayar utang, memberikan Ibu kehidupan yang layak, bahkan mungkin mengubah nasib banyak orang.
Tapi itu baru permulaan.
Tugas sistem terngiang kembali di kepalaku. 5 tahun menjadi orang terkaya di dunia. Misi gagal = mati.
Dan di samping itu, ada satu hal lain. Harta, tahta, wanita — itulah yang ditugaskan padaku. Bukan sekadar kaya, tapi menjadi penguasa. Penguasa hati, penguasa kekayaan, penguasa dunia.
Aku menatap pantulan diriku di cermin kecil yang tergantung di dinding seberang ruangan. Wajah yang menatap balik bukan lagi wajah anak yang dihina, direndahkan, dan dianggap sampah. Ini wajah seseorang yang baru saja diberi kesempatan kedua — dan satu kesempatan ini saja, karena kalau gagal, tidak ada kesempatan ketiga.
"Dika?" Ibu menyentuh lenganku pelan, memecah lamunanku. "Kamu... kamu sedang memikirkan sesuatu? Wajahmu terlihat serius sekali."
Aku menoleh, senyum lembut kembali terukir di bibirku. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Bu. Aku cuma sedang merencanakan masa depan kita."
"Masa depan..." Ibu menghela napas pelan, menatap ke luar jendela di mana langit sudah mulai cerah sepenuhnya. "Yang penting kamu sehat, Nak. Itu sudah cukup untuk Ibu."
"Itu baru awal, Bu," jawabku pelan, tapi tegas. "Kita akan punya lebih dari sekadar kesehatan. Mulai hari ini, tidak ada lagi yang berani meremehkan kita. Tidak ada yang berani menghina kita. Tidak ada yang berani membuat Ibu menangis lagi."
Ibu tersenyum, meski matanya masih menyimpan kekhawatiran. "Ibu tidak menuntut banyak, Dika. Asal kamu baik-baik saja, itu sudah kebahagiaan terbesar."
Aku mengangguk, tapi di dalam hati aku tahu — aku tidak akan berhenti di situ. Ibu berhak mendapatkan yang terbaik di dunia ini, dan aku akan memberikannya. Tak peduli seberapa keras jalannya, seberapa banyak rintangan yang datang, seberapa banyak orang yang harus kuhadapi.
Aku kembali menatap ke arah pintu ruangan. Di luar sana ada dunia yang dulu pernah menginjakku, membuangku, dan melupakanku. Dan sekarang, aku akan kembali — bukan sebagai orang yang mereka kenal dan hina, melainkan sebagai seseorang yang akan mengubah aturan main sepenuhnya.
Tangan kananku meremas pelan kartu emas di dalam saku.
Permainan baru saja dimulai. Dan aturannya sudah ditentukan.
Aku akan menjadi Don Juan. Penguasa hati, penguasa harta, penguasa dunia.
Dan tak ada satu pun yang bisa menghentikanku.