BAB 3

1483 Words
Aku berdiri di depan cermin besar yang terpasang di dinding kamar rawat inap yang kini terasa begitu sempit. Jari-jariku menyentuh pelan permukaan kaca, seakan memastikan bayangan yang menatap balik itu bukan mimpi yang akan lenyap kalau aku berkedip. Wajah yang dulu penuh kawah bekas jerawat kini halus dan bersih, seakan tak pernah terluka sedikit pun. Garis rahang yang dulu nyaris tak terlihat kini terdefinisi tegas namun tetap lembut, memberi kesan kekuatan yang terkendali. Hidung yang dulu terlihat biasa saja kini proporsional, menyempurnakan keseimbangan wajah. Sepasang mataku yang dulu selalu terlihat mengantuk dan lesu, kini tajam dan jernih, seolah ada bintang yang tertanam di baliknya — memancarkan keyakinan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Kulit yang dulu kusam dan pucat kini bercahaya segar, seolah selalu mandi cahaya matahari. Aku membuka kancing baju pasien perlahan, jari-jariku sedikit gemetar. d**a yang dulu rata dan kurus, terlihat seperti tak pernah mendapat gizi cukup, kini terisi otot padat yang membentuk garis tegas di bawah kulit. Bahu lebih lebar, memberi kesan tubuh yang kokoh dan berwibawa. Lengan yang dulu kurus dan lemah kini terlihat kekar, dengan urat halus yang terlihat samar saat aku mengepal tangan dengan lemah. Bukan tubuh yang berlebihan atau berotot secara berlebihan, melainkan sempurna — proporsional, seimbang, memancarkan kekuatan yang terkendali dan siap digunakan. Aku menggerakkan lengan ke atas dan ke bawah, merasakan kekuatan yang mengalir tanpa henti di setiap gerakannya. Langkahku di lantai keramik yang dingin terasa mantap, seolah bumi sendiri memberi dukungan di bawah kakiku. Namun mataku tak lepas dari pantulan diriku di cermin. Aku masih tak percaya. Setiap kali mengedip, ada rasa takut kalau bayangan itu akan berubah kembali menjadi wajah yang penuh bopeng dan tubuh yang kurus kering. "Ini... aku?" gumamku pelan, suaraku memantul di ruangan yang sepi, hanya terdengar oleh diriku sendiri. "Atau aku bermimpi yang tak akan pernah berakhir kalau aku tidak bangun?" Aku memejamkan mata erat-erat, menghitung sampai tiga dalam hati, lalu membukanya lagi dengan cepat. Bayangan itu tak berubah. Masih sama — pria tampan dengan tubuh yang bisa diidamkan siapa saja. "Sistem..." panggilku dalam hati, seakan berbicara ke ruang kosong di udara. "Kau di sana? Jangan diam saja. Jawab aku." [Sistem Terhubung. Silakan bertanya. Waktu respons: instan.] Suara itu terdengar jelas di dalam kepalaku, jernih dan tanpa nada emosi sama sekali. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menyusun pertanyaan yang sedari tadi berantakan di kepalaku. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memilihku dari sekian banyak orang di dunia ini?" [Sistem adalah alat bantu yang dirancang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Pengguna dipilih berdasarkan indeks penderitaan maksimal yang tercatat + potensi yang belum terwujud sepenuhnya. Tidak ada alasan lain yang perlu diketahui saat ini.] "Tujuan itu hanya soal jadi orang terkaya dalam waktu 5 tahun? Harta, tahta, wanita? Itu saja tugasnya?" [Itu adalah kerangka kerja yang saling terhubung. Harta = fondasi kekuasaan & sumber daya. Tahta = pengaruh, jaringan & kendali atas keadaan. Wanita = ikatan hati & sumber kekuatan tambahan. Ketiga elemen saling menguatkan. Misi gagal = penghentian fungsi kehidupan.] "Penghentian kehidupan... berarti mati, begitu?" [Benar. Tidak ada perpanjangan waktu. Tidak ada ampunan. Tidak ada pengulangan. Batas waktu 5 tahun tetap berlaku.] Aku mengepal tangan di sisi tubuh, kuku menekan telapak sampai terasa sedikit sakit. "Kalau aku sudah punya kekayaan yang tak terbayangkan, kenapa harus repot-repot mendekati wanita? Bisa saja aku berdiri sendiri dan menguasai segalanya." [Ikatan hati adalah sumber kekuatan tambahan yang tak bisa dibeli dengan uang. Semakin dalam ikatan yang terbangun, semakin besar pengaruh & kemampuan khusus yang terbuka. Penguasa sejati tidak berdiri sendiri — ia didukung oleh hati-hati yang memilih bersamanya dengan sukarela.] Aku mengangguk pelan, mulai memahami pola yang tersembunyi di balik instruksi yang terdengar sederhana. Bukan sekadar mengejar wanita demi kesenangan, tapi membangun jembatan kekuatan lewat hubungan yang tulus. Meski tujuan terdengar kejam dan batasannya tak bisa ditawar, jalannya tak bisa sembarangan dilangkah. "Baik. Aku paham aturannya. Aku paham risikonya. Aku akan laksanakan tugas ini sampai selesai." [Diterima. Semoga sukses, Don Juan.] Suara itu menghilang seketika, seakan tak pernah ada. Aku kembali menatap pantulan diriku di cermin, kali ini bukan dengan keraguan atau ketakutan, melainkan dengan tekad yang perlahan mengeras menjadi batu. Aku memakai pakaian yang dibawakan Ibu tadi pagi — kemeja dan celana kain yang dulu terlihat lusuh dan tak layak dipakai ke mana-mana, kini justru terlihat rapi dan elegan di tubuh yang sudah berubah total. Aku menyelipkan kartu Naga Emas ke saku dalam celana, merasakan permukaannya yang halus dan dingin, lalu berjalan keluar kamar dengan langkah yang tak lagi ragu-ragu. Di lobi rumah sakit yang sibuk, aku berjalan menuju mesin ATM yang tersedia di sudut ruangan dekat pintu keluar. Jantungku berdebar tak karuan saat jari gemetar memasukkan kartu ke dalam lubang mesin. Layar menyala terang, meminta kode akses. Aku belum sempat bertanya, tapi seketika muncul tulisan samar di sudut pandangku: Kode default: 0000 — silakan ubah segera demi keamanan. Aku menekan tombol pelan, jari masih sedikit kaku. Lalu memilih menu penarikan tunai. Jantung makin berpacu saat mengetik angka: Rp 1.000.000. Angka yang dulu bagiku adalah uang jajan berbulan-bulan. Mesin berdengung pelan, memproses permintaan. Tak lama, uang kertas berwarna merah keluar dengan rapi, diikuti struk kertas yang mencantumkan saldo tersedia — angka yang tak bisa k****a sepenuhnya karena terlalu panjang, tapi deretan angka nol di belakangnya cukup untuk membuatku menelan ludah berkali-kali. Uang itu terasa nyata di tanganku. Tekstur kertasnya, beratnya, bunyi saat aku mengipasnya sedikit. Bukan mimpi. Bukan khayalan. Semua ini benar-benar terjadi di dunia nyata. Aku memegang uang itu erat-erat di kedua tangan, lalu membiarkan pandangan melayang ke lantai keramik yang mengilap. Ingatan kembali melayang ke malam pesta kelulusan. Tatapan jijik Rian yang tajam. Tawa tajam Sari dan Maya yang seakan tak ada habisnya. Sikap Pak Budi yang memalingkan wajah seakan melihatku saja sudah mengotori pandangannya. Kata-kata yang menghantam hatiku seperti palu besi berat, berulang-ulang tanpa henti. Sampah. Lebih rendah dari sampah. Tidak ada yang mau menyentuhmu. Mending ngilang dari dunia ini. Dada bergemuruh, bukan lagi karena sedih atau terluka, tapi karena amarah yang perlahan membeku menjadi tekad yang keras dan tajam seperti belati. "Kalian semua..." bisikku, suaraku rendah namun penuh ketegasan, tak ada lagi getaran di dalamnya. "Kalian yang pernah memandangku rendah, yang pernah meludahi harga diriku tanpa rasa bersalah... tunggu saja. Aku tidak akan memaafkan. Aku tidak akan lupa. Aku akan menghancurkan kalian sampai tak tersisa sedikit pun. Kalian akan merasakan setiap kata hinaan yang pernah kalian ucapkan, kembali ke hati kalian sendiri dengan kekuatan berlipat ganda. Kalian akan tahu persis apa itu penghinaan yang sesungguhnya, keputusasaan yang nyata, dan penderitaan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata." Aku melipat uang itu dengan rapi dan menyimpannya di saku, lalu melangkah keluar rumah sakit dengan langkah yang mantap dan berarah. Tujuanku sudah jelas dan tak bisa diganggu gugat: Pasar Saham Pusat Kota. Di sanalah aku akan mulai membangun kerajaan dari nol, dengan kekuatan yang tak dimiliki siapa pun di sana. Dan di sanalah aku akan melangkah menuju puncak yang akan membuat mereka semua menengadah, memohon, dan menyesal seumur hidup. Gedung bursa saham berdiri megah di tengah kota, kaca-kaca pantulannya memantulkan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Di dalamnya suasana sangat sibuk dan berisik — orang-orang berjas rapi berjalan cepat dengan wajah serius, layar-layar besar di dinding menampilkan angka yang naik turun tiap detik, suara telepon yang berbunyi dan teriakan laporan berpadu menjadi irama dunia uang yang tak pernah berhenti berdetak. Aku berjalan masuk perlahan, mengamati sekeliling dengan tenang. Banyak wajah serius, semua mata fokus pada keuntungan dan kerugian yang berubah tiap detik. Dan di dekat meja informasi yang terbuat dari marmer mengilap, tepat di sudut yang terang cahaya lampu... aku melihatnya. Seorang wanita berdiri memegang tablet tipis di tangan, menatap layar dengan ekspresi yang serius namun memancarkan keanggunan alami. Rambut hitam panjang terurai lembut di bahu, memantulkan kilau halus saat ia sedikit menunduk. Dia mengenakan kemeja putih yang pas di badan — bentuk tubuhnya terlihat jelas, terutama bagian d**a yang menonjol seakan ingin lepas dari kancing kemejanya yang terpasang rapi. Rok hitam pendek memperlihatkan kaki jenjang yang dibalut stoking hitam sampai ke paha, berkilau halus di bawah cahaya lampu. Sepatu hak tinggi membuatnya tampak anggun dan berwibawa sekaligus memikat siapa pun yang melihatnya. Dia berbalik sedikit, seakan merasakan ada yang berdiri tak jauh darinya. Wajahnya cantik, terawat sempurna, tatapan matanya tajam dan cerdas — bukan sekadar cantik, tapi terlihat berpendidikan, cerdas, dan berkelas. Bibirnya sedikit terbuka seolah sedang memikirkan strategi atau menganalisis grafik yang rumit di layar tabletnya. Nametag kecil yang terpasang di sisi kiri kemejanya bertuliskan: Ratna — Analis Keuangan Senior. Dia menatap ke arahku, sejenak tertegun seakan tak menyangka ada yang berdiri diam di sana. Matanya menyapu penampilanku dari atas ke bawah dengan cepat, lalu kembali menatap mataku dengan pandangan yang tak bisa k****a sepenuhnya — kaget, penasaran, atau mungkin sedikit kagum. Aku pun berhenti di tempat, tak melangkah maju maupun mundur. Hanya berdiri, menatapnya, dan merasakan getaran halus yang entah dari mana datangnya, menyebar perlahan ke seluruh tubuh. DING..! Pemberitahuan Sistem.. [Ikatan Potensial Terdeteksi — Ratna. Kesesuaian: 90%. Rekomendasi: Mulai interaksi.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD