BAB 4

1829 Words
Suasana di ruang transaksi bursa saham tetap riuh, seakan tak ada yang menyadari bahwa di sudut ini, sebuah keputusan bernilai miliaran baru saja dimulai. Ratna masih berdiri di hadapanku, tablet di tangannya sedikit terangkat, seakan menunggu aku berbicara lebih dulu. Cahaya lampu gantung memantul di layar kaca tablet itu, memantulkan juga bayangannya yang cantik dan penuh keanggunan profesional. Aku melangkah maju perlahan, berhenti di hadapannya. Meski dia memakai sepatu hak tinggi yang cukup tinggi, tinggi badanku kini seimbang dengannya — seolah dunia sendiri sudah menyesuaikan proporsi agar aku tak lagi terlihat kecil di hadapan siapa pun. Tatapanku tenang, menatap lurus ke matanya tanpa keraguan sedikit pun. "Maaf mengganggu waktu Anda," kataku dengan nada yang tenang, rendah, namun penuh kepastian yang tak bisa diganggu gugat. "Saya Dika. Saya sedang mencari perusahaan yang tepat untuk diakuisisi sepenuhnya — seratus persen saham, tanpa sisa. Bisa Anda bantu menyarankan mana yang paling cocok untuk investasi jangka panjang dengan potensi pertumbuhan maksimal?" Ratna mengerjap sejenak, seakan sedikit terkejut dengan permintaan yang begitu langsung dan besar. Dia menarik napas halus, lalu dengan gerakan yang terlatih menata kembali ekspresi profesionalnya yang tenang dan cerdas. Dia menunduk sejenak ke layar tablet, menekan beberapa tombol dengan jari lentik yang terawat, lalu mengangkat wajah kembali menatapku. "Tentu saja, Pak Dika. Saya Ratna, analis keuangan senior di sini," ucapnya sopan, nada suaranya lembut namun tegas. Meski begitu, aku masih bisa menangkap sedikit keraguan di matanya — mungkin karena penampilanku yang sederhana, kemeja dan celana kain biasa yang meski terlihat rapi di tubuh baruku, tetap terlihat tak sebanding dengan ruangan penuh orang-orang berjas bermerek di sekeliling kami. "Kalau tujuan Bapak adalah pertumbuhan jangka panjang yang stabil dan berkelanjutan dengan potensi keuntungan yang terus naik, saya sangat menyarankan Bapak melihat sektor teknologi dan informatika." Dia memutar layar tablet ke arahku, memperlihatkan deretan grafik berwarna-warni yang tersusun rapi di atas latar belakang putih bersih. Jari telunjuknya yang lentik menunjuk garis melengkung yang menanjak tajam dari kiri ke kanan, seolah tangga menuju langit. "Lihat grafik ini, Pak," jelasnya sambil menelusuri jalur garis itu dengan ujung jarinya yang halus. "Sudah satu tahun terakhir, sektor ini terus naik tanpa henti. Hampir tidak ada penurunan yang signifikan. Permintaan teknologi canggih, sistem manajemen data, keamanan siber, dan layanan digital untuk perusahaan makin melonjak setiap bulan. Proyeksi untuk dua tahun ke depan juga masih sangat positif. Para analis memprediksi pertumbuhan dua kali lipat dari angka sekarang." Dia berhenti sejenak, menatapku dengan tatapan yang serius dan jujur — tatapan yang seakan ingin memastikan aku mengerti seberapa besar angka yang sedang kita bicarakan ini. "Tapi..." lanjutnya pelan, seakan memilih kata dengan hati-hati agar tidak terdengar meremehkan, "...untuk mengambil alih saham seratus persen dari perusahaan yang sudah stabil, punya pasar yang luas, dan punya prospek cerah seperti yang saya maksud, Bapak butuh dana minimal 500 juta dolar AS." Angka itu melayang di udara, terasa berat dan nyata. Di sekeliling kami, orang-orang berjalan cepat, berbicara di telepon, menatap layar — seakan 500 juta dolar hanyalah angka di atas kertas yang biasa mereka lihat setiap hari. Tapi bagi kebanyakan orang di dunia ini, termasuk diriku yang dulu, itu adalah angka yang tak akan bisa dibayangkan, apalagi dikumpulkan, dalam sepuluh generasi. Aku tersenyum tipis di sudut bibir. Bukan kesombongan, hanya kepastian yang tenang. "Uang bukan masalah," kataku pelan namun tegas, kata-kataku jatuh satu per satu dengan jelas di ruang di antara kami. "Beli." Ratna tertegun. Jari-jarinya yang tadi menunjuk grafik berhenti di udara, matanya membelalak sedikit, bibirnya sedikit terbuka seakan lupa cara menutupnya. Dia menatapku lekat-lekat, seakan baru saja mendengar hal yang paling mustahil di dunia ini. "Maaf... Bapak yakin?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, seakan takut salah dengar. "Itu bukan 500 ribu, Pak. Bukan 5 juta. Itu 500 juta dolar. Sekitar lebih dari tujuh triliun rupiah. Bapak..." Dia menelan ludah, berusaha menahan diri agar tetap terlihat profesional meski kaget luar biasa. "...Bapak sudah memastikan ketersediaan dananya? Karena kalau transaksi gagal, ada biaya penalti yang tidak sedikit juga." Aku mengangguk perlahan, tenang seolah dia baru saja menanyakan apakah aku sudah membawa uang untuk membeli koran di pinggir jalan. "Sudah dipastikan," jawabku lembut namun tak terbantahkan. "Silakan proses. Saya mau transaksi ini selesai hari ini. Sekarang juga kalau bisa." Ratna masih menatapku tak percaya, tapi dia tidak menolak. Dia menghela napas panjang, menatap layar tablet sejenak seakan memastikan dia tidak sedang bermimpi, lalu mengangguk pelan dengan gerakan yang agak kaku. "Baik... kalau Bapak sudah yakin sepenuhnya. Saya akan siapkan dokumen dan prosedurnya. Tapi mohon tunggu sebentar, saya harus konfirmasi dulu dengan bagian keuangan dan verifikasi sumber dana sesuai prosedur yang berlaku." Dia berjalan cepat ke meja di belakangnya, meletakkan tablet sebentar, lalu mengangkat telepon di meja sambil sesekali melirik ke arahku. Wajahnya masih tampak bingung dan tak yakin, tapi dia tetap bekerja dengan cekatan — mengetik sesuatu di komputer, membalik halaman berkas, berbicara singkat dengan rekan yang lewat. Aku berdiri menunggu di tempat, memandangi layar-layar besar di dinding yang menampilkan angka-angka yang berubah tiap detik, naik turun seakan bernapas. Dunia ini memang berjalan di atas uang — dan sekarang, aku yang memegang kendali atas sumbernya. Tak lama kemudian, Ratna kembali berjalan mendekat, membawa selembar formulir transaksi dan tablet yang masih menyala. Wajahnya masih tampak tak percaya, tapi ada perubahan di matanya — secercah rasa hormat yang mulai tumbuh, bercampur dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Pak Dika," sapanya pelan, suaranya lebih lembut tapi mantap. "Saya sudah berkoordinasi dengan tim verifikasi. Karena nilainya sangat besar, sistem meminta kartu identitas rekening utama untuk verifikasi awal sebelum proses pemindahan dana bisa dilanjutkan." Dia menatapku, sedikit ragu. "Bisa saya minta kartu yang terhubung dengan rekening Bapak? Kami akan memindai dan memverifikasinya di sistem pusat." Aku mengangguk, lalu merogoh saku celana pelan-pelan. Jari-jariku menyentuh permukaan yang dingin dan halus — kartu yang tak terbuat dari plastik biasa, melainkan dari logam yang terasa berat dan padat di tangan. Aku mengeluarkannya perlahan, memegangnya di antara jempol dan telunjuk, lalu menyodorkannya ke arah Ratna. Kartu itu memantulkan cahaya lampu di ruangan itu, memancarkan kilau keemasan yang lembut namun mewah. Di permukaannya terukir gambar naga yang melilit bola dunia, detailnya begitu halus seakan hidup. Tidak ada nama yang tercetak, tidak ada nomor rekening yang terlihat, tidak ada logo bank yang dikenal siapa pun — hanya simbol naga itu yang berdiri sendiri, memancarkan kemewahan yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata. "Ini kartu rekening saya," kataku tenang. "Silakan verifikasi." Ratna menerima kartu itu dengan kedua tangan secara refleks, seakan benda itu terlalu berharga untuk dipegang satu tangan. Dia menatapnya lekat-lekat, memutarnya perlahan untuk melihat sisi depan dan belakang. Kerutan halus muncul di antara alisnya. "Ini... kartu apa, Pak Dika?" tanyanya bingung, membalikkan kartu sekali lagi seakan nomor atau nama akan tiba-tiba muncul kalau dia melihat cukup lama. "Saya sudah bekerja di bidang keuangan hampir lima tahun, menangani banyak klien besar, bank swasta nasional maupun internasional... tapi saya belum pernah melihat kartu seperti ini sebelumnya. Tidak ada nama, tidak ada nomor, tidak ada logo bank mana pun." Dia menatapku dengan tatapan yang bercampur bingung dan khawatir. "Maaf kalau saya terdengar meragukan, tapi tanpa informasi bank penerbit, saya tidak bisa memverifikasinya. Sistem kami tidak akan mengenali kartu ini." "Silakan coba saja dulu," jawabku santai, tanpa sedikit pun merasa terganggu. "Mungkin sistem Anda lebih tahu daripada Anda." Ratna menatapku sejenak, lalu mengangguk pelan. Dia membawa kartu itu ke meja layanan, memasukkannya ke dalam alat pemindai yang terhubung ke komputer pusat. Kami berdua menunggu. Detik terasa berjalan lambat. Tiba-tiba layar komputer di meja itu berkedip, menampilkan latar belakang berwarna emas dengan lambang naga yang sama persis dengan yang ada di kartu. Muncul tulisan besar di tengah layar: VERIFIKASI BERHASIL — KARTU NAGA EMAS Bank Sentral Internasional Swiss — Kategori Prioritas Tertinggi Akses: Tanpa Batas Ratna membelalakkan matanya. Dia mundur selangkah seakan tersengat listrik, tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar. Wajahnya pucat seketika, lalu memerah perlahan karena kaget yang luar biasa. Dia menatap layar, lalu menatap kartu yang masih terjepit di alat pemindai, lalu kembali menatap layar — seakan tak percaya pada mata sendiri. "Ini... ini tidak mungkin..." bisiknya parau, suaranya nyaris tak terdengar. "Kartu Naga Emas... itu cuma legenda. Saya pernah baca sekilas di jurnal keuangan internasional, tapi tidak ada yang tahu siapa pemiliknya atau bagaimana cara mendapatkannya. Dikatakan hanya diberikan kepada individu dengan kekayaan yang melebihi cadangan devisa negara-negara besar. Dan jumlahnya di seluruh dunia bisa dihitung dengan jari..." Dia berbalik menatapku, matanya memancarkan keterkejutan yang murni, bercampur dengan rasa hormat yang mendalam. Keraguan yang tadi masih tersisa sedikit, kini sudah lenyap sepenuhnya. "Maafkan saya, Pak Dika," katanya dengan tulus, sedikit membungkuk sopan. "Saya tidak bermaksud meragukan Bapak. Saya hanya... saya tidak pernah menyangka akan melihat kartu ini secara langsung, apalagi memegangnya." Dia mengambil kartu itu dengan hati-hati, seakan benda itu terbuat dari emas murni yang bisa meleleh kalau dipegang terlalu lama, lalu berjalan kembali ke hadapanku dan menyodorkannya dengan kedua tangan. "Verifikasi sudah selesai," lanjutnya, suaranya kini lebih lembut dan penuh rasa hormat. "Sistem sudah mengonfirmasi ketersediaan dana. Bapak benar... uang sama sekali bukan masalah. Dana sebesar 500 juta dolar sudah tersedia dan siap dipindahkan kapan saja." Dia menarik napas dalam, berusaha menenangkan diri. "Perusahaan yang kami pilih — TechNova Solutions — memang salah satu yang paling menjanjikan di sektornya. Dengan akuisisi seratus persen saham, Bapak secara resmi menjadi pemilik tunggal. Semua aset, paten, dan kendali manajemen sepenuhnya di tangan Bapak." Aku menerima kartu itu kembali, menyimpannya pelan ke saku dalam celana. Kilau emasnya masih terbayang di matanya. "Terima kasih, Ratna," kataku tulus. "Kerja bagus. Cepat, teliti, dan jujur." Wajahnya memerah halus, senyum tipis terukir di bibirnya. "Itu tugas saya, Pak. Tapi jujur saja... saya sudah bekerja di sini bertahun-tahun, tapi jarang sekali melihat transaksi sebesar ini diselesaikan secepat ini, tanpa ragu, tanpa ribet. Apalagi dengan kartu yang..." Dia berhenti sejenak, menunduk sedikit, lalu menatapku kembali dengan pandangan yang berubah sepenuhnya. "...sangat istimewa." Aku tersenyum pelan, lalu melangkah selangkah lebih dekat. "Karena perusahaan ini sekarang milik saya sepenuhnya," kataku dengan nada yang lebih serius namun tetap lembut, "Saya butuh orang yang cerdas, teliti, memahami seluk-beluk keuangan dan pasar saham, dan yang paling penting — punya integritas. Saya butuh orang yang bisa saya percaya untuk membangun ini bersama dari awal lagi." Ratna menatapku, matanya sedikit membelalak seakan mulai menyadari ke mana arah pembicaraan ini. "Dan dari semua orang yang ada di ruangan ini," lanjutku, menatap lurus ke matanya dengan tulus, "Saya melihat kualitas itu pada Anda. Kalau Anda bersedia, saya mengundang Anda untuk bergabung langsung dengan saya. Bukan sebagai analis di sini, tapi sebagai penasihat keuangan utama saya di perusahaan yang baru saja saya beli." Dia terdiam, menatapku dengan campuran kaget, harapan, dan ketidakpercayaan. Jari-jarinya meremas ujung berkas di tangannya pelan-pelan. "Maksud Bapak...?" suaranya bergetar pelan. "Mulai dari nol bersama saya," jawabku tegas. "Kita kembangkan perusahaan ini jadi yang terbesar di bidangnya. Gaji, posisi, tunjangan, semuanya bisa kita bicarakan — sesuai kemampuan dan keahlian Anda, bahkan melebihi standar yang ada. Tapi saya butuh jawaban yang jujur. Mau ikut?" Ratna menatapku dalam, seakan mencari sesuatu di mataku. DING..! Pemberitahuan Sistem.. [Ikatan Potensial — Ratna: Kesesuaian naik menjadi 95%. Keterbukaan: Meningkat. Menunggu respons.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD