BAB 5

1307 Words
Ratna masih agak bingung, berpikir, dan menganalisa, sedetik setelah itu, warna pipinya memerah, matanya berbinar bercampur haru dan tekad yang baru saja tumbuh. Dia menatapku lekat-lekat, napasnya sedikit tertahan sebelum akhirnya mengangguk mantap. "Ya, Pak Dika," jawabnya tegas, tak ada keraguan sedikit pun di nada suaranya. "Saya mau. Terima kasih sudah memberi kesempatan ini. Saya tidak akan mengecewakan Bapak." "Bagus," jawabku sambil tersenyum pelan. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Langsung ke kantor pusat TechNova Solutions." Ratna mengangguk, segera merapikan barang-barangnya dengan cepat. Tak sampai lima menit kami sudah berjalan keluar gedung bursa saham, menuju mobil yang kusewa sejenak — kendaraan sederhana dulu, nanti bisa diganti. Sepanjang perjalanan, Ratna duduk di sebelah kananku, sesekali melirik ke arahku seakan masih tak percaya semuanya nyata. Dia bertanya sedikit soal rencana awal, tapi aku lebih banyak menjawab dengan senyum dan kalimat singkat. Biarkan keadaan yang bicara nanti. Lokasi TechNova Solutions ada di gedung perkantoran bertingkat tengah di kawasan bisnis kota. Bangunannya cukup rapi, kaca depannya besar memantulkan tulisan nama perusahaan di lantai lima. Kami naik lift, dan saat pintu terbuka di lantai itu, lorong yang luas dengan meja resepsionis menyambut kami. Belum sempat kami melangkah jauh, seorang wanita dengan rambut dikuncir kuda, pakaian seragam kantor yang rapi tapi sikapnya kasar, berjalan mendekat sambil menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. Dia adalah staf administrasi yang kebetulan lewat membawa tumpukan map. "Hei, tunggu dulu," tegurnya tajam, menunjuk-nunjuk ke arahku dengan ujung map. "Kamu siapa? Ini kantor perusahaan teknologi, bukan tempat nongkrong sembarangan. Lihat deh, pakai baju kayak gini berani masuk sini. Mau melamar jadi petugas kebersihan ya? Kalau iya, daftar di lantai dasar, bukan di lantai manajemen." Beberapa orang yang lewat berhenti, ikut menatap dan menyembunyikan senyum meremehkan. Ratna yang berjalan di sebelahku langsung berhenti, wajahnya memerah menahan marah. "Kamu bicara apa sih?" tegur Ratna tajam, melangkah maju mendahuluiku. "Jaga mulutmu. Ini adalah pemilik baru perusahaan ini, Dika." Wanita itu tertawa sinis, menutup mulutnya seakan mendengar lelucon paling konyol. "Pemilik? Kamu bercanda ya? Pemilik perusahaan 500 juta dolar pakai baju kain biasa kayak gitu? Kalau dia bos, saya presiden negara! Mendingan pulang sana, jangan bikin malu di sini." Belum sempat wanita itu menutup kalimatnya, suara tamparan keras terdengar memecah keheningan. Prak! Wanita itu memegangi pipinya yang merah, matanya membelalak tak percaya menatap Ratna. "Kamu... kamu berani menampar saya?!" "Menampar kamu itu belum sebanding dengan kata-kata kotor yang baru saja kamu ucapkan," kata Ratna dingin, tangannya masih sedikit gemetar karena marah. "Minta maaf sekarang juga, atau kamu akan menyesal lebih dari sekadar pipi merah." Suara keributan itu menarik perhatian orang-orang di ruangan. Tak lama, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berjalan cepat mendekat, wajahnya terlihat angkuh dengan kemeja bermerek dan jam tangan berlian. Itu Pak Haris, manajer operasional. "Ada apa ini? Berisik sekali!" bentaknya, lalu menatap Ratna. "Kamu siapa? Berani-beraninya bawa orang asing ke sini dan bikin keributan? Dan kamu..." Dia menunjuk ke arahku dengan dagu, menatapku dengan tatapan merendahkan. "...keluar sekarang sebelum saya panggil satpam. Kami tidak melayani pengemis atau orang yang tidak tahu tata krama." "Pak Haris, berhenti!" seru Ratna. "Ini Bapak Dika, pemilik baru TechNova Solutions! Beliau membeli 100% saham perusahaan ini pagi tadi!" Haris tertawa keras, menepuk pahanya seakan mendengar hal paling lucu seumur hidup. "Pemilik baru? Hahaha! Kamu mau menipu sih cari tempat yang benar dong! Lihat dia, pakaian lusuh, penampilan biasa saja. Pemilik miliaran dolar? Jangan bikin malu orang kaya!" Wanita yang tadi di tampar ikut tertawa sambil menahan pipinya yang merah. "Bener kata Pak Haris! Mendingan pulang sana, jangan malu-maluin di sini!" Suasana makin ramai, orang-orang keluar dari ruangan mereka untuk melihat keributan, sebagian ikut tertawa, sebagian lagi berbisik-bisik. Tak ada yang membela, tak ada yang percaya. Sampai suara langkah kaki berat terdengar mendekat dari arah lorong dalam. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, memakai setelan jas rapi, wajahnya terlihat tegang dan berkeringat dingin berjalan cepat ke arah kami. Itu Pak Darma, direktur utama TechNova Solutions. Dia menatapku lekat-lekat, lalu melirik ponsel di tangannya yang masih menampilkan foto yang dikirim pesan dari pemilik lama perusahaan — foto yang dikirim sejam lalu dengan pesan singkat: Pemilik baru Dika. Segera sambut dan patuhi perintahnya. Wajah Pak Darma seketika pucat pasi. Dia langsung berjalan mendekat, lalu membungkuk dalam di hadapanku di depan semua orang yang masih tertawa. "Selamat datang, Pak Dika," suaranya gemetar, penuh hormat sekaligus ketakutan. "Maafkan kelalaian kami. Saya tidak menyangka Bapak akan datang secepat ini." Tawa di ruangan itu seketika terhenti sepenuhnya. Seperti dipotong dengan pisau tajam. Mulut Pak Haris masih terbuka, tapi tak ada suara yang keluar. Wanita staf itu menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tak percaya. Semua orang yang tadi menertawakan kini menunduk, tak berani menatap mataku. Aku menatap mereka satu per satu dengan tenang, lalu menatap Pak Darma. "Mereka berdua," ucapku pelan tapi tegas, menunjuk ke arah wanita staf dan Pak Haris dengan gerakan kepala. "Dipecat..!." Satu kata itu terasa meledak di ruangan yang seketika hening total. "Pak Dika! Jangan, saya mohon!" Wanita itu langsung berlutut di lantai, matanya berkaca-kaca ketakutan. "Saya salah! Saya tidak tahu Bapak bos! Maafkan saya sekali saja, jangan pecat saya, saya punya ibu yang harus dibiayai!" Pak Haris juga langsung mengubah sikap, wajahnya pucat dan memohon sambil melipat tangan di d**a. "Pak Dika, saya minta maaf! Saya salah menilai! Jangan pecat saya, saya sudah bekerja di sini sepuluh tahun! Saya janji tidak akan mengulanginya lagi!" Aku tidak menatap mereka. Bahkan tidak menoleh sedikit pun. "Ratna, berikan formulir pemutusan hubungan kerja. Efektif hari ini," kataku datar, lalu melangkah melewati mereka seakan mereka tidak ada di dunia ini. Langkahku mantap menuju lorong dalam, menuju ruang direktur yang sudah ditunjukkan Pak Darma dengan wajah ketakutan. Ratna berjalan di belakangku, menyuruh satpam mengantar mereka keluar dengan sopan namun tegas. Sesampainya di ruangan direktur yang luas dan rapi, Pak Darma menutup pintu dengan hati-hati, lalu berdiri di hadapanku dengan tangan terlipat di depan perut, menunduk sedikit. "Silakan duduk, Pak Dika," ucapnya sopan, suaranya masih terdengar tegang. "Saya akan jelaskan semua detail perusahaan yang Bapak butuhkan." Aku duduk di kursi besar di belakang meja yang lebar, menatapnya tenang. "Ceritakan. Secara singkat saja dulu." Pak Darma mengangguk, lalu mulai menjelaskan — sejarah perusahaan, jumlah karyawan, keuntungan tahun lalu, proyek yang sedang berjalan, kendala yang dihadapi, dan rencana pengembangan yang tertunda karena masalah modal. Dia berbicara jelas dan terstruktur, sepertinya memang kompeten di bidangnya, meski tadi sempat terlambat menindaklanjuti kelakuan bawahannya. Setelah selesai menjelaskan, dia menatapku menunggu arahan. "Baik," kataku setelah berpikir sejenak. "Besok pagi, jam enam. Rapat seluruh dewan direksi dan manajer departemen di ruang rapat utama. Semua harus sudah hadir tepat waktu." Pak Darma tertegun, matanya sedikit melotot. "Jam... jam enam pagi, Pak? Tapi kantor baru buka jam tujuh. Banyak yang tinggal jauh, belum macet di jalan..." "Jam enam," potongku tegas, tak memberi ruang untuk tawar-menawar. "Kalau belum bisa sampai jam enam, berarti mereka belum siap bekerja di sini. Saya tidak mau tahu alasan. Yang penting, jam enam pagi besok, semua sudah duduk di ruang rapat." Pak Darma menelan ludah, mengangguk pelan meski terlihat berat. "Baik, Pak. Saya sampaikan perintah Bapak." Aku berdiri, menandakan pertemuan sudah selesai. "Saya pulang dulu. Ratna ikut saya." Kami berjalan keluar ruangan, melewati lorong yang kini sepi — semua orang menunduk saat kami lewat, tak ada yang berani menatap mata, apalagi tersenyum. Di lift, Ratna menekan tombol lobi, lalu menatapku dengan tatapan penuh tanda tanya. "Pak Dika..." tanyanya pelan saat pintu lift tertutup. "Boleh saya tahu kenapa harus jam enam pagi? Biasanya rapat jam sembilan saja sudah dianggap terlalu pagi." Aku tersenyum tipis, menatap pantulan kami berdua di cermin pintu lift. "Besok pagi kamu akan tahu jawabannya, Ratna," jawabku misterius. "Dan percayalah... itu baru permulaan." Lift berhenti di lantai dasar, pintu terbuka. Kami melangkah keluar menuju pintu depan, dan di luar sana, hari masih panjang, menanti langkah-langkah selanjutnya yang akan mengubah segalanya. DING..! Pemberitahuan Sistem.. [Misi Sementara: Menetapkan Standar Baru — Dimulai. Ikatan Ratna: 97%.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD