BAB 6

1679 Words
Langkah kami berdua terhenti di halaman depan gedung perkantoran. Angin sore bertiup lembut, menerbangkan debu di aspal yang mulai mengilap terkena sinar matahari yang condong ke barat. Ratna berdiri di sampingku, menatapku seakan menunggu instruksi selanjutnya, atau setidaknya tumpangan pulang. Tapi aku tahu, kalau aku membawanya lebih jauh, dia akan mulai bertanya hal-hal yang belum siap aku ceritakan. "Ratna, kamu pulang dulu ya," kataku pelan, menoleh ke arahnya. "Besok pagi langsung ke kantor, jam enam seperti yang sudah disampaikan. Kalau butuh biaya transportasi, nanti aku suruh Pak Darma siapkan. Sekarang istirahat dulu." Ratna mengangguk, meski sedikit ragu. "Baik, Pak Dika. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok pagi." Dia melambaikan tangan pelan, lalu berjalan menuju halte bus yang tak jauh dari sana. Aku memperhatikannya sampai punggungnya menghilang di kerumunan orang yang pulang kerja, baru kemudian berbalik menuju kedai roti yang sudah kulihat dari tadi. Di etalase kaca, tertata rapi kue bolu pisang — kue kesukaan Ibu. Kue yang dulu kami hanya bisa lihat dari luar etalase, karena harganya setengah dari uang belanja sehari. Sekarang aku bisa membelinya, dan itu baru permulaan. Aku memesan satu utuh, masih hangat, dibungkus rapi dengan kertas cokelat yang diikat pita merah. Tangan kananku memegang bungkusan itu erat, seakan memegang sesuatu yang paling berharga di dunia. Perjalanan pulang memakan waktu hampir satu jam. Bus kota penuh sesak, badan berguncang mengikuti jalan yang berlubang. Dulu aku selalu merasa malu, terlihat lusuh dan tak berharga di antara orang-orang yang terlihat lebih baik. Tapi hari ini, aku berdiri tegak, memegang tiang dengan tangan yang terasa kuat, dan memeluk bungkusan kue di sisi tubuhku. Penampilanku memang sudah berubah, tapi perjalanan ini, bus ini, lingkungan ini — semuanya tetap sama. Yang berubah cuma aku. Dan aku berjanji, tidak akan membiarkan Ibu tetap terjebak di sini lebih lama lagi. Rumah kami berdiri di gang sempit, di antara rumah-rumah kayu yang berdempetan. Dindingnya sudah kusam, cat mengelupas di beberapa bagian, atap sengnya kadang berbunyi kalau hujan deras. Lantai semen yang sudah retak di sudut-sudutnya. Saat aku mendekat, aku melihat Ibu sedang duduk di depan pintu, di kursi rotan yang sudah longgar kakinya. Dia sedang memilah sayuran, rambutnya yang sudah bercampur uban terlihat terurai di bawah sinar matahari sore yang mulai meredup. Punggungnya terlihat lebih bungkuk dari yang kuingat. Tangan yang dulu halus kini kasar, penuh guratan dan bintik hitam dari cucian dan sayur mayur. Hatiku terasa seperti diremas. Langkahku melambat, seakan ada beban berat di setiap langkah. "Dika?" Ibu mengangkat wajah, matanya menyipit melihatku, lalu tersenyum lebar begitu melihatku mendekat. "Kamu sudah pulang, Nak? Kok lama sekali? ke mana saja tadi?" Aku berhenti di depan pintu, menurunkan tas di lantai, lalu menyodorkan bungkusan kue yang masih hangat ke arahnya. "Bu... ini untuk Ibu," kataku lembut. Ibu menatap bungkusan itu, lalu menatapku, matanya membelalak sedikit. "Ya ampun, kue? Buat apa beli kue, Nak? Kan mahal. Uangnya lebih baik ditabung saja." Meski begitu, tangannya menyambut bungkusan itu dengan hati-hati, seakan takut merusaknya. Dia membuka pita merahnya pelan, lalu tersenyum melihat isi di dalamnya. "Bolu pisang... kesukaan Ibu. Kamu ingat ya?" "Ingat selalu, Bu," jawabku sambil duduk di bangku kayu di sebelahnya. "Maaf baru bisa beli sekarang." "Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak," ucapnya lembut, menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Kamu kerja keras ya? Dapat uang dari mana?" Aku menarik napas dalam, menatap lurus ke arah sayuran yang sedang dipilah di baskom. "Ibu... aku mau bicara sesuatu. Boleh?" "Tentu saja, Nak. Bicara saja." Ibu menaruh kue di meja kecil di sampingnya, lalu menatapku penuh perhatian, kedua tangannya bertumpu di lutut. "Aku sudah dapat kerja, Bu," ucapku pelan, berusaha menatap matanya. "Di sebuah perusahaan. Kantornya lumayan besar. Aku... aku jadi karyawan di sana." Aku menunduk sedikit. Kalau aku bilang aku pemilik perusahaan, bos dari ratusan orang, pemilik kekayaan yang tak terbayangkan... Ibu pasti tidak akan percaya. Atau malah khawatir, takut aku terlibat hal yang tidak benar. Dan itu belum waktunya. Biarkan aku buktikan dulu lewat tindakan, bukan kata-kata. Ibu tersenyum lega, tangannya menyentuh punggung tanganku. "Wah, syukurlah, Nak. Ibu senang sekali. Kamu kan rajin dan pintar, pasti bisa. Kerja apa saja yang penting halal dan berkah." "Iya, Bu. Kerjanya halal kok. Tenang saja," jawabku lembut. "Dan... mulai bulan depan, aku mau kita pindah rumah, Bu." Ibu tertegun. "Pindah? Ke mana, Nak? Rumah yang mana?" "Rumah yang lebih bagus. Rumah yang layak untuk Ibu. Rumah yang tidak bocor kalau hujan, lantainya keramik, ada halaman depan, ada kamar mandi yang bersih. Rumah yang nyaman," jelasku perlahan. Wajah Ibu terlihat bingung sekaligus terharu. "Tapi... harganya pasti mahal sekali, Dika. Kita punya uang berapa?" "Tenang dulu, Bu. Bisa dicicil kok," kataku dengan nada yang meyakinkan. "Dipotong dari gajiku selama tiga tahun. Setelah itu, rumah milik kita sepenuhnya. Tidak perlu sewa lagi, tidak perlu takut diusir, tidak perlu takut atap bocor." Ibu menatapku lama, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu serius, Nak?" "Serius, Bu. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Aku mau Ibu hidup tenang. Tidak perlu lagi bangun jam empat pagi untuk pergi ke pasar. Tidak perlu lagi mencuci pakaian orang lain sampai tangan kapalan. Tidak perlu lagi makan seadanya kalau aku tidak ada di rumah." Suaraku sedikit pecah di akhir kalimat. Aku menelan ludah, menahan agar tidak menangis di depannya. Ibu menunduk, air mata mulai jatuh di pipinya yang keriput. Dia mengusap dengan punggung tangan, lalu tersenyum sedih. "Ibu tidak minta banyak, Dika. Yang penting kamu sehat, kamu punya kerjaan yang jujur, dan kita bisa makan bersama. Itu sudah cukup untuk Ibu. Rumah besar atau kecil, yang penting di dalamnya ada kebahagiaan." "Aku tahu, Bu. Tapi Ibu berhak dapat yang lebih baik dari ini," kataku lembut namun tegas. "Selama ini Ibu sendirian membesarkan aku, sejak Ayah pergi. Ibu kerja keras siang malam. Tidak pernah ada hari libur. Tidak pernah ada waktu untuk istirahat. Aku tahu betapa lelahnya Ibu. Aku tahu betapa beratnya menjalani semua ini sendirian." Ingatan kembali melayang ke masa-masa sulit. Saat aku masih kecil, melihat Ibu pulang dengan wajah lelah, kakinya bengkak seharian berdiri di pasar. Saat aku sakit dan tidak ada uang untuk ke dokter, Ibu menangis di samping tempat tidurku sambil memelukku erat-erat. Saat aku dihina dan pulang dengan perasaan hancur, Ibu selalu ada di sana, menyiapkan teh hangat dan berkata bahwa aku berharga, tidak peduli apa kata orang lain. Dan aku juga ingat, betapa sering Ibu menahan lapar sendiri, menyisakan porsi makan untukku. Betapa sering dia memakai baju yang sama bertahun-tahun, membiarkannya pudar dan tipis, demi aku bisa punya seragam sekolah dan buku tulis. Betapa sering dia pulang dengan wajah lelah tapi tetap tersenyum saat melihatku, seakan tidak ada beban di dunia ini. Air mata akhirnya jatuh juga di pipiku. Aku mengusapnya cepat, tapi Ibu sudah melihatnya. Dia meraih tanganku, memegangnya erat di kedua tangannya yang kasar namun hangat. "Jangan menangis, Nak," ucapnya lembut, suaranya bergetar. "Ibu tidak pernah menyesal. Ibu tidak pernah mengeluh. Karena Ibu punya kamu. Itu sudah cukup. Kalau Ayah masih ada, pasti dia juga bangga sekali punya anak sebaik kamu." "Aku tahu, Bu..." suaraku tercekik. "Tapi aku tidak mau Ibu terus menderita. Aku mau Ibu bisa tenang. Bisa beli apa saja yang Ibu mau. Bisa pergi ke mana saja yang Ibu mau. Bisa istirahat sepuasnya. Aku mau Ibu jadi ratu, Bu. Ratu di rumah kita yang baru. Ratu di hatiku. Aku akan berikan semua kemewahan yang dunia punya, asal Ibu bahagia." Ibu tersenyum, air mata mengalir deras di pipinya. Dia mendekat, memelukku erat-erat, menekan kepalaku ke dadanya seperti saat aku masih kecil. "Kamu sudah membuat Ibu bahagia, Nak. Lebih dari apa pun di dunia ini. Cuma dengan mendengar kamu bilang begitu, Ibu sudah merasa seperti ratu. Tidak perlu rumah mewah, tidak perlu harta berlimpah. Selama kita bersama, itu sudah surga untuk Ibu." Kata-katanya menyayat hati lebih dalam dari apa pun. Pelukan itu terasa begitu hangat, begitu menenangkan, dan sekaligus begitu menyedihkan. Karena aku tahu, dia berhak mendapatkan lebih dari sekadar kata-kata. Dia berhak mendapatkan kebahagiaan yang nyata, yang bisa disentuh dan dirasakan setiap hari. "Mari kita makan, Bu," kataku pelan sambil melepaskan pelukan, mengusap air mata di pipinya dengan lembut. "Aku bantu siapkan makanannya." Kami makan bersama di meja kayu kecil yang sudah kusam. Menu kami sederhana — sayur bening bayam, tempe goreng, dan sambal terasi buatan Ibu. Tapi rasanya lebih lezat dari hidangan termahal di restoran mana pun. Kami makan perlahan, sesekali menyodorkan lauk ke piring masing-masing. Ibu terus memuji kue yang kubawa, bilang enak sekali, bilang kapan-kapan beli yang murah saja tidak perlu beli yang mahal. Sambil makan, Ibu bercerita tentang tetangga, tentang sayur yang murah di pasar pagi ini, tentang hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Aku mendengarkan, sesekali menyahut, tapi pikiranku melayang jauh ke depan. Ke rumah yang akan kubeli. Ke kehidupan yang akan kami jalani. Ke semua hal yang akan kuberikan pada Ibu sebagai balasan atas pengorbanannya yang tak ternilai harganya. Saat makan selesai, aku membantu Ibu mencuci piring. Air di keran mengalir dingin ke tangan, tapi hatiku terasa hangat. "Terima kasih untuk makanannya, Bu," kataku setelah selesai. "Enak sekali, seperti biasa." "Sama-sama, Nak. Makan yang banyak ya, biar kuat kerjanya," jawabnya sambil tersenyum, lalu menyeka meja dengan kain lap. Aku berdiri di ambang pintu sebentar, melihat ke luar ke arah gang yang sempit dan gelap. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, cahayanya remang-remang menerangi jalan tanah yang berdebu. Tunggu sebentar lagi, Bu, batinku berjanji dalam diam, mataku berkaca-kaca menatap kegelapan di ujung gang. Tunggu sebentar lagi. Tidak lama lagi kita akan pergi dari sini. Tidak lama lagi Ibu tidak perlu lagi lelah. Tidak lama lagi Ibu akan tahu, bahwa semua pengorbanan Ibu tidak sia-sia. Bahwa Ibu membesarkan anak yang akan memberikan Ibu dunia. Aku berbalik, menatap punggung Ibu yang sedang merapikan peralatan masak di dapur kecil. "Ibu..." panggilku pelan. Ibu menoleh, menatapku dengan senyum lembut yang tak pernah berubah. "Ya, Nak? Mau apa lagi?" "Tidak ada. Cuma... aku sayang Ibu," ucapku tulus, dari paling dalam hati. Wajah Ibu melembut, matanya kembali berkaca-kaca. Dia tersenyum lebar, menampakkan kerutan di sudut matanya yang tanda kebahagiaan yang lama terpendam. "Ibu juga sayang kamu, Dika. Lebih dari nyawa Ibu sendiri." DING..! Pemberitahuan Sistem... [Ikatan Hati — Ibu: 100%. Ikatan Paling Murni. Kekuatan Pasif Terbuka: Ketahanan Hidup Maksimal + Keberuntungan Maksimal. Sumber Kekuatan Utama.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD