BAB 7

1732 Words
Jam menunjukkan pukul lima pagi saat aku terbangun. Ruangan masih remang-remang, cahaya matahari baru saja menyelinap di celah tirai jendela rumah kami yang sederhana. Aku duduk di tepi tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, merasakan kekuatan yang mengalir di setiap inci tubuhku. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi rasa lelah. Hanya energi yang tak habis-habis, seolah tubuh ini baru saja dilahirkan kembali dengan kekuatan yang tak terbayangkan. Aku meraih ponsel di meja kecil di samping tempat tidur. Jari-jariku berhenti sejenak di layar yang menyala, lalu menekan nomor Ratna. Panggilan tersambung setelah beberapa kali nada tunggu. "Halo? Pak Dika?" Suara Ratna terdengar masih sedikit serak, sepertinya baru saja terbangun. "Sudah pagi sekali, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" "Selamat pagi, Ratna," jawabku tenang, berusaha terdengar lembut. "Maaf mengganggu istirahatmu. Saya butuh teman untuk pergi ke toko pakaian sebelum ke kantor. Bisa kamu temani saya? Sekarang juga kalau tidak keberatan." Terdengar suara gesekan di seberang sana, lalu Ratna menjawab dengan nada yang sudah lebih segar. "Tentu saja, Pak. Saya bisa. Di mana kita bertemu? Jam berapa?" "Di gerbang kompleks perbelanjaan pusat. Sekitar tiga puluh menit lagi cukup," jawabku. "Jangan khawatir soal transportasi, nanti kita langsung ke tempat tujuan." "Baik, Pak. Saya segera berangkat. Sampai jumpa di sana." Panggilan berakhir. Aku berdiri, merapikan selimut perlahan agar tidak menimbulkan suara yang membangunkan Ibu. Berjalan ke pintu dapur, aku menuliskan pesan di selembar kertas — Bu, saya berangkat kerja dulu. Sarapannya sudah tersedia di meja. Jangan lupa makan. Saya pulang sore nanti. — lalu menempelkannya di kulkas dengan magnet yang sudah lama pudar warnanya. Aku berjalan keluar rumah, menutup pintu pelan-pelan. Udara pagi masih sejuk, menyentuh kulit dengan rasa dingin yang menyegarkan. Di gang sempit ini, belum banyak orang yang beraktivitas. Hanya suara ayam jantan di kejauhan dan langkah kakiku yang bergema di lantai semen yang retak. Aku berjalan menuju jalan raya, memanggil taksi online yang akan mengantarku ke kompleks perbelanjaan terbesar di kota. Ratna sudah menunggu di gerbang saat aku tiba. Dia mengenakan pakaian rapi namun sederhana — kemeja berwarna biru muda dan celana kain hitam, rambutnya tertata rapi di belakang. Dia melambaikan tangan saat melihatku turun dari mobil, lalu berjalan mendekat. "Selamat pagi, Pak Dika," sapanya sambil menunduk sopan. "Kita mau ke mana dulu, Pak?" "Selamat pagi, Ratna," jawabku sambil memberi isyarat agar berjalan di sampingku. "Ke toko pakaian dulu. Saya butuh pakaian yang layak untuk ke kantor, terlebih lagi untuk rapat dengan dewan direksi." Ratna mengangguk, lalu berjalan di sampingku sambil menunjuk ke arah gedung bertingkat di sebelah kiri. "Kalau begitu, Pak, saya sarankan ke lantai dua di sana. Toko pakaian pria yang koleksinya lengkap dan kualitasnya bagus. Modelnya juga cocok untuk posisi Bapak sekarang." Kami masuk ke toko itu. Ruangan ber-AC terasa sejuk, aroma parfum halus bercampur dengan bau kain baru menyambut kami. Rak-rak penuh dengan setelan jas, kemeja, celana, dan sepatu tertata rapi di sepanjang dinding. Ratna berjalan di depan, memilihkan beberapa model untukku. "Kalau Bapak tidak keberatan, saya sarankan mulai dengan setelan jas warna gelap," katanya sambil mengambil satu setelan berwarna biru tua yang terlihat elegan. "Warna ini memberi kesan tegas dan berwibawa, tapi tidak terlalu kaku. Bisa dipadukan dengan kemeja putih atau krem." Aku menerima setelan itu. "Baik. Saya coba dulu." Kamar ganti cukup luas dan bersih. Aku melepas pakaian yang kugunakan selama ini, lalu memakai setelan jas yang baru. Kainnya terasa halus dan nyaman di kulit, jahitannya rapi dan pas di tubuh seolah dibuat khusus untukku. Saat aku membuka pintu kamar ganti dan melangkah keluar, Ratna yang berdiri menunggu di dekat rak seketika terdiam. Matanya membelalak sedikit, mulutnya sedikit terbuka seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Bagaimana?" tanyaku sambil berdiri tegak, membiarkan dia melihat dari segala sisi. Ratna mengedip beberapa kali, baru menyadari dirinya sedang menatap terlalu lama. "Maaf... Bapak... terlihat sangat... sangat bagus, Pak. Setelannya pas sekali. Dan Bapak... terlihat sangat tampan." Wajahnya sedikit memerah, dia segera menunduk memeriksa daftar harga di label yang tergantung di leher jas. "Harganya lumayan, Pak, tapi kualitasnya memang sebanding." Aku tersenyum melihat reaksinya. "Terima kasih, Ratna. Saya coba yang lain dulu ya, untuk perbandingan." Aku kembali ke kamar ganti, dan kali ini mencoba setelan jas abu-abu dengan kemeja putih dan dasi bergaris halus. Saat keluar lagi, Ratna melongo lagi, bahkan lebih lama dari sebelumnya. Dia menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu, seakan melihat orang yang berbeda setiap kali aku keluar dari kamar ganti. "Ini... ini juga sangat cocok, Pak," katanya dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan. "Warna abu-abu ini memberi kesan bijaksana dan tenang. Bapak terlihat seperti... seperti pemimpin yang sudah berpengalaman bertahun-tahun." Aku melihat ke arah deretan setelan jas yang masih tersisa di rak, lalu ke arah tumpukan kemeja dan celana yang Ratna sudah siapkan untuk kucoba. "Ratna, daripada saya bolak-balik ganti pakaian sepanjang pagi, bagaimana kalau kita ambil saja semuanya yang sudah saya coba? Dan tambahkan beberapa model yang menurutmu cocok juga. Saya butuh pakaian untuk berbagai keperluan — rapat, kunjungan lapangan, pertemuan dengan mitra bisnis. Saya tidak mau repot memikirkan pakaian setiap hari." Ratna tertegun, matanya membelalak kaget. "Semua... semua yang Bapak coba? Tapi Pak, itu jumlahnya cukup banyak. Biayanya..." "Biaya tidak masalah," potongku tenang. "Saya butuh kualitas dan ketepatan waktu. Silakan pilihkan satu set untuk setiap kesempatan, lalu kita bawa semuanya." Ratna menelan ludah, melihat deretan pakaian yang sudah terpisah di meja hitung. "Baik, Pak. Kalau Bapak yakin. Saya pilihkan yang terbaik saja." Kurang lebih satu jam kemudian, kasir sudah membungkus semuanya ke dalam kantong-kantong belanjaan yang kokoh. Ratna berdiri di sampingku, sesekali melirik ke arah layar kasir yang menampilkan angka yang terus bertambah, lalu melirik ke arahku seakan tak percaya aku begitu saja membelinya semua tanpa menawar atau ragu sedikit pun. Saat aku mengeluarkan kartu Naga Emas dan menyerahkannya ke kasir, mata Ratna semakin membelalak, meski kali ini dia sudah tahu apa yang akan terjadi. Transaksi selesai dalam hitungan detik, tanpa hambatan. "Selanjutnya, kita cari mobil," kataku setelah semua kantong belanjaan terangkut ke mobil yang akan mengantar kami ke showroom. "Mobil?" tanya Ratna kaget. "Bapak belum punya kendaraan? Kita bisa sewa atau pesan taksi kalau perlu, Pak. Tidak perlu langsung beli, kan?" Aku tersenyum. "Saya butuh kendaraan sendiri, Ratna. Dan kalau bisa, yang paling bisa diandalkan. Saya tidak mau terlambat ke mana-mana." Showroom mobil mewah tempat yang kami tuju berdiri megah di pinggir jalan utama. Ruangannya luas, lantai marmer mengilap memantulkan kilau mobil-mobil yang dipajang. Ratna berjalan di sampingku, matanya tak lepas dari deretan mobil yang harganya bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah. "Kalau Bapak butuh mobil yang nyaman dan aman untuk perjalanan bisnis, saya sarankan sedan mewah ini," Ratna menunjuk ke arah satu mobil berwarna hitam mengilap. "Harganya sekitar dua miliar rupiah. Cukup mewah tapi tidak terlalu berlebihan." Aku melirik mobil itu sekilas, lalu menunjuk ke arah mobil yang berdiri di pojok ruangan — sedan mewah berkelas tertinggi, yang harganya hampir dua kali lipat dari yang ditunjuk Ratna. "Saya ambil yang itu." Ratna ternganga. "Yang... yang itu? Tapi Pak, itu mobil termahal di sini. Harganya hampir empat miliar rupiah. Apakah Bapak yakin?" "Pasti," jawabku singkat dan tegas. "Saya butuh yang paling handal, paling aman, dan paling nyaman. Itu saja." Ratna masih tertegun, tapi dia tidak lagi mencoba menawar atau menyarankan yang lain. Dia hanya menghela napas pelan, lalu berdiri di sampingku saat aku memproses pembelian. "Ratna," kataku saat sedang menunggu dokumen selesai diproses. "Bisakah kamu yang mengantar jemput saya ke kantor? kamu yang pegang kunci mobilnya." Ratna menatapku lekat-lekat, lalu mengangguk lembut. "Tentu saja, Pak. Saya mengerti. Bapak sangat menyayangi Ibu. Saya bantu semampu saya." Kami menghabiskan hampir empat jam hanya untuk urusan pakaian dan mobil. Ratna tak henti-hentinya melongo setiap kali aku memutuskan membeli sesuatu, seakan aku membeli kacang rebus di pinggir jalan. Setiap kali dia menyebutkan harga, aku hanya mengangguk dan berkata "beli", dan setiap kali itu juga matanya membelalak, seakan tak percaya dengan kelapangan tangan yang tak terbatas ini. Saat kami akhirnya duduk di dalam mobil baru itu, Ratna menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik ke arah jam di dasbor. "Pak Dika," katanya pelan, mengingatkan. "Tadi Bapak bilang rapat jam enam pagi. Sekarang sudah hampir jam sembilan. Para dewan direksi dan manajer pasti sudah menunggu sejak lama. Bukan masalah kalau kita terlambat, tapi Bapak sendiri yang menetapkan jam enam pagi tadi. Mereka pasti..." Dia berhenti sejenak, memilih kata yang tepat. "...mereka pasti marah sekali, Pak." Aku menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung perkantoran yang berlalu-lalang. "Kita ke kantor jam sepuluh, Ratna. Katakan pada Pak Darma, rapat dimulai jam sepuluh. Saya masih ada urusan sebentar lagi." Ratna terkejut. "Jam sepuluh, Pak? Tapi..." "Jam sepuluh," potongku lembut namun tegas. "Saya punya alasan sendiri. Biarkan mereka menunggu. Itu bagian dari proses." Ratna menelan ludah, tidak bertanya lebih lanjut. "Baik, Pak. Saya sampaikan." Sesampainya di lobi gedung TechNova Solutions, suasana terasa tegang. Saat pintu ruang rapat terbuka, suara riuh dan marah langsung menyambut kami. Di dalam, dua puluh orang lebih duduk mengelilingi meja panjang — para direktur, manajer, dan kepala divisi. Wajah mereka merah padam, mata mereka menatapku dengan kemarahan yang nyaris meledak. "Jam berapa ini?!" bentak seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun, mengenakan setelan jas abu-abu. Itu Pak Budi, direktur keuangan. "Bapak sendiri yang menyuruh kami datang jam enam pagi! Sekarang sudah hampir jam sepuluh! Bapak mempermainkan kami ya?!" "Kami bukan orang yang tidak punya kerjaan, Pak!" tambah pria lain, manajer pemasaran. "Banyak pekerjaan yang tertunda karena Bapak! Kalau Bapak tidak bisa menghargai waktu kami, mendingan serahkan saja kepemimpinan ke orang yang lebih mampu!" "Benar! Kami tidak mau diperlakukan seperti ini!" seru yang lain. Aku berjalan perlahan menuju kursi di ujung meja, tidak terburu-buru, tidak juga terlihat terganggu. Ratna berdiri di samping pintu, menatap dengan cemas. "Kira-kira berapa lama lagi Bapak mau membiarkan kami menunggu?!" Pak Budi berdiri, menunjuk-nunjuk ke arahku. "Bapak pikir kami ini siapa?!" Aku berdiri di samping kursi, menatap mereka satu per satu dengan tenang. Di dalam hati, aku mulai memetakan siapa saja yang berteriak protes, siapa yang diam saja sambil menunduk, dan siapa yang meski diam tapi matanya melirik ke kiri dan kanan seakan mencari siapa yang paling lantang menentang — mereka yang munafik, yang menjilat di depan tapi menindih di belakang. Suasana makin memanas, makin banyak suara yang bergabung menuntut penjelasan, bahkan menuntut agar aku mundur. Aku menatap mereka dalam-dalam, menarik napas perlahan, lalu menekan kedua telapak tanganku ke permukaan meja yang mengilap. BRAK! Suara gebrakan tanganku memecah keributan seketika. Ruangan langsung hening total. Semua mata tertuju padaku, napas seakan tertahan. "DIAM..!!!!!" "Kalian pikir, kalian siapa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD