BAB 8

1700 Words
Suara gebrakan tangan itu masih bergema di dinding-dinding ruangan yang kini hening seketika. Semua mulut yang tadi berteriak menutup rapat, mata-mata yang tadi menatap marah kini membelalak terpaku. Napas berat terdengar samar-samar, keringat dingin mulai menetes di pelipis mereka yang tadi berapi-api. Aku berdiri di ujung meja panjang, menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang datar, dingin, dan tak tergoyahkan. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, tidak ada keraguan sedikit pun. Hanya keheningan yang terasa berat, seakan udara di ruangan ini berubah menjadi timah panas. "Saya ini bos di sini," ucapku perlahan, kalimat demi kalimat jatuh dengan tegas, terdengar jelas di setiap sudut ruangan. "Dan di tempat ini, cuma ada dua peraturan." Aku berhenti sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap. "Pertama: Bos tidak pernah salah." Aku menatap Pak Budi yang tadi paling lantang menuntut. Matanya berkedip tak berani bertemu pandang. "Kedua: Jika bos salah, kembali ke peraturan pertama." Ruangan itu masih hening. Beberapa orang saling bertukar pandang, seakan tidak percaya mendengar kalimat itu. "Apa kalian paham?!!" Kalimat terakhirku meledak, menggetarkan kaca-kaca jendela di samping ruangan. Beberapa orang tersentuh sampai mundur sedikit di kursi mereka. "Saya pemegang saham seratus persen. Saham mutlak. Perusahaan ini milik saya sepenuhnya. Memangnya kalian pikir kalian siapa? Berani-beraninya kalian menuntut saya? Mengatur waktu saya? Menilai keputusan saya?" Aku menatap mereka satu per satu, menelusuri wajah-wajah yang tadi penuh kemarahan dan keberanian, kini berubah menjadi pucat dan ketakutan. "Seratus persen..." bisik Pak Budi parau, tangannya gemetar memegang tepi meja. "Itu... tidak mungkin. Perusahaan ini bernilai ratusan miliar..." "Kenyataannya memang begitu," potongku dingin. "Kalau tidak percaya, silakan cek catatan di Bursa Efek. Atau tanya Pak Darma yang berdiri di sana." Semua mata beralih ke arah Pak Darma yang berdiri di dekat pintu, menunduk dalam dengan wajah pucat pasi. Dia mengangguk pelan, nyaris tak terlihat. "Benar..." suaranya bergetar. "Bapak Dika adalah pemilik tunggal. Seratus persen saham atas namanya." Gumaman tak percaya menyapu ruangan seperti gelombang. Mata mereka membelalak, mulut terbuka, wajah-wajah yang tadi penuh keberanian kini berubah menjadi ketakutan yang nyata. Mereka menatapku — seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahun, yang tadi mereka remehkan karena penampilannya, yang mereka tantang dan hina — dan kini menyadari bahwa di hadapan mereka berdiri penguasa mutlak atas nasib mereka semua. Tanpa banyak bicara lagi, aku berjalan ke kursi di ujung meja, menarik kursi dan duduk dengan santai seakan tidak ada yang sedang terjadi. Aku mengeluarkan selembar kertas putih dan pulpen, lalu mulai menulis dengan tenang. Pena itu bergerak mulus di atas kertas, menuliskan nama-nama yang sudah kutandai sejak tadi — siapa yang protes paling keras, siapa yang diam saja tapi menunduk karena takut, dan siapa yang diam sambil melirik ke kiri dan kanan, menunggu arah angin, menjilat siapa yang sedang berkuasa. Aku tidak terburu-buru. Menulis nama jabatan, tanggal, dan tanda tangan. Saat selesai, aku melipat kertas itu perlahan, lalu mendongak menatap Ratna yang masih berdiri di dekat pintu dengan wajah pucat dan terkejut. "Ratna," panggilku tenang. Ratna tersentuh. "Ya... ya, Pak Dika?" "Mulai hari ini, kamu adalah Direktur Utama perusahaan ini," ucapku dengan nada yang datar dan pasti. "Pak Darma tetap di posisi sebagai Wakil Direktur Utama. Dia akan membantu kamu menyesuaikan diri." Ratna melongo. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka, dia mundur selangkah seakan tidak mendengar dengan benar. "Saya... saya, Pak? Direktur Utama? Tapi... saya belum berpengalaman... saya cuma analis keuangan..." "Pengalaman bisa dibentuk. Kesetiaan dan kejujuran tidak bisa," potongku tegas. "Kamu yang saya pilih. Itu keputusan mutlak. Tidak ada diskusi." Aku menyodorkan kertas yang sudah kutulis tadi ke arahnya. Ratna melangkah maju dengan gerakan kaku, menerimanya dengan kedua tangan yang sedikit gemetar. "Sekarang, Ratna," kataku sambil menunjuk kertas di tangannya. "Baca nama orang dan jabatannya yang tertulis di sini. Lalu pecat." Kata terakhir itu diucapkan dengan tenang, tanpa nada marah, tanpa nada emosi — dan justru karena itulah terdengar jauh lebih mengerikan. Ratna menelan ludah. Dia menatap kertas di tangannya, lalu menatapku. "Pecat... semua yang tertulis di sini, Pak?" "Semua," jawabku singkat. "Tanpa pesangon. Tanpa surat rekomendasi. Beritahu mereka, kepergian mereka bukan karena kinerja. Tapi karena sikap. Karena tidak tahu diri." Ratna menatapku seakan meminta belas kasihan, seakan memohon agar aku mengurangi hukuman itu. Tapi aku menatapnya kembali dengan tatapan yang tak berubah — tegas, tak tergoyahkan, menunggu perintah dilaksanakan. Dia menarik napas panjang, lalu membuka kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya menyapu baris nama yang tertulis, dan dia menutup mata sejenak sebelum mulai membaca dengan suara yang bergetar namun jelas: "Pak Budi... Direktur Keuangan..." Pak Budi yang tadi paling lantang berdiri, wajahnya seketika berubah pucat seperti kertas. "Tidak... tidak mungkin! Saya sudah bekerja di sini sepuluh tahun! Saya yang bangun keuangan perusahaan ini! Kalau saya pergi, perusahaan ini hancur!" Aku tidak menatapnya. Aku hanya menatap Ratna. "Lanjutkan." "Bu Sari... Manajer Pemasaran..." lanjut Ratna, suaranya makin tegang. Bu Sari langsung menangis, berdiri sambil memegang tepi meja. "Pak Dika! Saya mohon! Saya punya anak yang sekolah! Saya tidak bisa kehilangan pekerjaan ini! Saya minta maaf kalau tadi saya salah bicara! Maafkan saya!" Aku diam saja. Tidak menoleh, tidak berkomentar. Biarkan Ratna yang bicara. "Pak Wawan... Manajer Operasional..." Pak Wawan yang tadi ikut berteriak maju selangkah, wajahnya merah padam karena panik. "Bapak tidak bisa melakukan ini! Ada hukum ketenagakerjaan! Saya bisa lapor ke serikat pekerja! Ke pengadilan!" "Hukum itu ada untuk melindungi yang benar," jawabku dingin, menatapnya lurus. "Dan kalian bukan yang benar. Kalian melupakan siapa yang memberi kalian makan selama ini. Kalian melupakan siapa bos kalian sebenarnya. Sekarang — duduk. Atau diseret keluar oleh satpam." Suaraku rendah, tapi ancamannya terasa lebih tajam dari teriakan apa pun. Pak Wawan mundur, jatuh terduduk di kursinya, keringat dingin mulai membasahi kemejanya. Ratna terus membaca nama demi nama. Setiap nama yang disebut disertai jabatan, diikuti tangis, permohonan, kemarahan, dan ancaman dari orang-orang yang namanya disebut. Ada yang melotot, ada yang memaki, ada yang diam saja dengan wajah mati rasa. Daftar itu berisi dua belas nama — hampir separuh dari yang hadir di ruangan itu. Mereka yang tadi berteriak paling keras, mereka yang menunggu arah angin, mereka yang menjilat atasan tapi menindas bawahan. Tidak ada yang dikecualikan. Tidak ada yang diampuni. "Selesai," kata Ratna pelan, melipat kertas itu kembali dengan tangan yang masih gemetar. "Baik," kataku. "Mereka semua punya waktu satu jam untuk mengosongkan meja mereka. Tidak boleh membawa apa pun milik perusahaan. Tidak boleh kembali ke ruangan ini. Kalau ada yang menolak, satpam akan mengantar keluar. Dan beri tahu mereka — kalau sampai ada yang berani mengganggu karyawan yang tersisa, atau menyebarkan berita buruk soal perusahaan ini, saya pastikan tidak ada satu pun perusahaan di kota ini yang mau mempekerjakan kalian lagi." Aku menatap mereka yang baru saja dipecat satu per satu. Mata mereka penuh amarah, ketakutan, dan keputusasaan. "Kalian pikir kalian siapa?" ucapku pelan tapi tajam. "Kalian pikir tanpa kalian perusahaan ini runtuh? Kalian salah. Perusahaan ini punya saya. Dan saya bisa cari pengganti yang lebih baik, lebih jujur, dan lebih tahu diri dalam waktu seminggu. Kalian bukanlah yang tak tergantikan. Kalian cuma pekerja yang lupa tempatnya." Beberapa orang menunduk, menangis tanpa suara. Beberapa orang menatapku dengan kebencian yang dalam, tapi tidak berani bicara. Mereka tahu posisi mereka. Mereka tahu aku memegang kendali penuh. "Keluar," perintahku pelan. "Sekarang." Mereka berjalan keluar satu per satu. Ada yang berjalan cepat menunduk, ada yang berjalan lambat sambil menatap terakhir kali meja ruang rapat yang sudah bertahun-tahun mereka tempati. Suara pintu tertutup, dan akhirnya ruangan itu hening sepenuhnya. Yang tersisa hanya mereka yang diam saja tadi — yang tidak ikut berteriak, tidak ikut menuntut, hanya menunggu dengan tenang. Mereka menatapku dengan tatapan campuran rasa hormat, takut, dan kekaguman. Aku menatap Ratna yang masih berdiri di dekat meja, napasnya sedikit terengah seakan baru saja berlari jauh. Wajahnya pucat, matanya masih membelalak tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Ratna," panggilku lembut. Dia tersentuh, menatapku. "Ya, Pak?" "Kamu baik-baik saja?" tanyaku. Dia mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang. "Saya... saya kaget, Pak. Saya tidak menyangka akan sekeras ini. Mereka... sebagian sudah bekerja di sini sejak saya baru masuk." "Keras memang," jawabku jujur. "Tapi adil. Kalau saya tidak tegas dari awal, mereka akan terus menginjak-injak aturan, menganggap perusahaan ini milik mereka sendiri, dan membiarkan orang jujur seperti kamu terinjak di bawah. Saya tidak bisa membiarkan itu terjadi." Aku menatap mereka yang masih duduk di meja rapat. "Kalian yang tersisa, perhatikan baik-baik. Mulai hari ini, aturan main berubah. Tidak ada lagi yang merasa aman karena sudah lama bekerja. Tidak ada lagi yang bisa maju hanya karena pandai bicara manis. Yang dihargai di sini adalah kinerja, kejujuran, dan kesetiaan. Kalau kalian bekerja dengan baik, kalian akan dihargai lebih dari yang kalian bayangkan. Tapi kalau kalian berani melawan, mengelabui, atau tidak menghargai waktu dan aturan — ingat apa yang baru saja kalian lihat." Tidak ada yang berani bersuara. Semua mengangguk serempak. "Rapat selesai untuk saat ini," lanjutku. "Ratna, Pak Darma — tinggal sebentar. Kita susun rencana penggantian posisi yang kosong dan peninjauan kinerja semua divisi. Yang lain kembali ke meja kerja masing-masing. Mulai sekarang, kinerja kalian diawasi lebih ketat." Mereka berdiri, berjalan keluar dengan langkah hati-hati, tak ada yang berani berbisik, tak ada yang berani menoleh ke belakang. Pintu tertutup, dan kini hanya ada kami bertiga di ruangan itu. Aku duduk kembali di kursi, menatap Ratna dan Pak Darma. "Baik," kataku lebih tenang sekarang. "Sekarang kita bicara soal rencana ke depan. Ratna, kamu yang koordinasi langsung dengan saya. Pak Darma bantu penyesuaian organisasi. Kita mulai membangun perusahaan ini dari nol, dengan tim yang baru dan aturan yang baru." Ratna mengangguk, meski matanya masih terlihat kaget dengan perubahan yang begitu drastis dalam waktu sesingkat itu. "Baik, Pak. Saya siap. Tapi... boleh saya tanya sesuatu?" "Boleh," jawabku. "Kenapa Bapak memilih saya?" tanyanya pelan. "Banyak orang di sini yang lebih berpengalaman, lebih lama bekerja, lebih tahu seluk-beluk perusahaan ini. Kenapa saya?" Aku menatapnya lekat-lekat. "Karena dari semua orang di ruangan ini, kamu satu-satunya yang tidak pernah meremehkan saya. Kamu yang jujur, kamu yang berani menegur, dan kamu yang punya kemampuan. Pengalaman bisa dipelajari. Karakter tidak. Dan saya butuh orang yang berkarakter di posisi penting." Ratna menunduk, tersenyum tipis namun terharu. "Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan Bapak." "Bagus," kataku. "Sekarang kita kerja. Waktu tidak menunggu." DING..! Pemberitahuan Sistem... [Misi: Menetapkan Aturan Baru — Selesai. Ikatan Ratna: 98%. Kewenangan Ditingkatkan. Organisasi Sedang Disusun Ulang.]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD