Ruangan rapat yang tadi masih tegang, berbau keringat dan ketakutan, kini perlahan mulai terasa lebih tenang — meski jejak ketegangan belum sepenuhnya hilang, seakan udara sendiri masih menahan napas. Hanya tersisa aku, Ratna, dan Pak Darma di ruangan yang luas itu. Cahaya matahari pagi yang condong mulai menyinari permukaan meja marmer yang mengilap, memantulkan bayangan jendela kaca besar yang memandang ke arah gedung-gedung kota yang berpadu dengan langit biru cerah. Ada sesuatu yang sudah lama ingin kulakukan, sesuatu yang lebih dari sekadar mengganti papan nama di pintu depan, lebih dari sekadar mengubah tulisan di kop surat. Sesuatu yang menyentuh inti dari semua ini — alasan kenapa aku berjuang, kenapa aku tidak menyerah saat dunia menendangku jatuh.
"Pak Darma," panggilku pelan tanpa menoleh dulu, mataku masih terpaku pada garis cakrawala yang terlihat di kejauhan.
"Ya, Pak Dika?" jawabnya sigap, berdiri tegak menunggu perintah, kedua tangannya disatukan di depan perut.
"Kalau boleh tahu... Bapak sudah tahu siapa nama ibu kandung saya?" tanyaku tiba-tiba, lalu perlahan menoleh menatap mereka berdua, suaraku tenang namun penuh perasaan yang mendalam.
Pak Darma mengerjakan sedikit, lalu saling pandang dengan Ratna, wajahnya bingung seakan tidak mengerti arah pertanyaan ini. "Maaf, Pak... sejujurnya, saya belum pernah mendengar nama Ibu Bapak. Boleh Bapak beri tahu? Kalau ada data administrasi yang perlu saya pelajari, saya catat sekarang juga."
Aku tersenyum tipis, dan di detik itu, kenangan wajah Ibu terbayang dengan sangat jelas di benak — wajah yang penuh pengorbanan, tangan yang kasar dan kapalan karena mencuci pakaian orang lain berbulan-bulan tanpa henti, senyum yang tak pernah pudar meski hidup memeras keringat dan air mata, meski perut kadang lapar dan dompet kosong. Aku ingat betul bagaimana beliau menyisakan porsi nasi untukku saat kami makan, berkata bahwa beliau sudah kenyang dari makan singkong tadi pagi. Aku ingat beliau bangun pukul empat pagi setiap hari, berjalan kaki jauh ke pasar untuk membeli sayur lebih murah, pulang siang lalu mencuci pakaian tetangga sampai sore, lalu memasak, menjahit, dan kadang menjajakan gorengan di depan rumah sampai malam. Beliau tak pernah punya hari libur. Tak pernah punya uang untuk dirinya sendiri. Tak pernah membelikan baju baru bertahun-tahun. Semua untukku.
"Nama Ibu saya adalah Rani," ucapku lembut namun tegas, namanya terasa manis sekaligus berat di lidahku, seakan mengucapkan doa. "Beliau wanita terhebat yang pernah ada di dunia ini. Beliau membesarkan saya sendirian sejak Ayah meninggal saat saya masih kecil — tanpa ada sanak saudara yang membantu, tanpa tabungan, tanpa penghasilan tetap. Bekerja siang malam tanpa pernah mengeluh di depan saya. Menahan lapar demi saya bisa makan kenyang. Memakai baju lusuh berlubang supaya saya bisa punya seragam sekolah dan buku tulis baru. Beliau tak pernah meminta apa-apa untuk dirinya sendiri, cuma berdoa supaya saya tumbuh sehat, jujur, dan tidak menjadi orang yang menyakiti orang lain."
Suaraku sedikit bergetar, dan aku berhenti sejenak untuk menelan ludah, menahan agar tidak terbawa emosi di depan mereka. Ratna menatapku lekat-lekat, matanya terlihat berbinar penuh pengertian dan simpati, seakan bisa merasakan betapa beratnya masa itu lewat nada suaraku. Pak Darma menunduk dengan hormat, seakan mendengarkan sesuatu yang suci dan patut dihormati.
"Maka dari itu," lanjutku, menatap mereka berdua dengan tekad yang bulat seperti batu karang, "Mulai detik ini juga, nama perusahaan ini tidak lagi TechNova Solutions. Nama barunya adalah RnD Corp."
Ratna mengerjakan sedikit, dahinya berkerut halus seakan mencoba menebak arti singkatan itu. "RnD Corp... boleh saya tanya kepanjangannya, Pak? Kalau dari istilah umum, RnD itu kan Research and Development... tapi sepertinya ada arti yang lain di sini, ya?"
Aku menggeleng pelan, lalu tersenyum lembut. "Bukan penelitian dan pengembangan, Ratna. RnD adalah singkatan dari Rani dan Dika Corporation."
Ratna tertegun sejenak, matanya sedikit membelalak seakan baru menyadari makna yang tersimpan di balik nama itu.
"Rani untuk Ibu, Dika untuk saya," lanjutku jelas dan tegas, memastikan setiap kata mereka dengar dan pahami. "Perusahaan ini dibangun di atas pengorbanan beliau, di atas keringat dan air mata beliau. Dan akan saya bangun untuk membalas segala jerih payah yang beliau korbankan sepanjang hidupnya. Setiap keuntungan, setiap kemajuan, setiap kali nama perusahaan ini disebut di berita, di rapat, di mana pun — semuanya akan teringat pada nama beliau. Beliau adalah akar dari semua yang saya lakukan. Tanpa beliau, saya tidak ada. Tanpa beliau, perusahaan ini tidak akan ada."
Pak Darma mengangguk dalam, wajahnya tampak penuh rasa hormat yang tulus. "Penggantian nama ini akan mengubah seluruh identitas perusahaan, Pak. Mulai dari akta pendirian, dokumen hukum, perizinan di instansi pemerintah, merek dagang, pajak, kontrak dengan klien, sampai papan nama di gedung dan di semua lokasi cabang, serta alamat situs web dan media sosial. Prosesnya akan memakan waktu dan biaya, ada banyak administrasi yang harus diselesaikan. Tapi saya pastikan akan saya kerjakan secepat mungkin, dan saya akan lapor perkembangannya setiap hari ke Bapak."
"Lakukan secepatnya," perintahku tegas, tidak memberi ruang untuk penundaan yang tidak perlu. "Biaya bukan masalah. Yang penting cepat, rapi, dan tidak ada kesalahan. Nama Rani harus tercantum dengan benar, terhormat, dan jelas di mana pun nama perusahaan ini tertulis. Tidak boleh ada yang salah tulis, tidak boleh ada yang disingkat sembarangan. Kalau perlu, saya periksa sendiri setiap dokumen yang menyebut nama beliau."
Ratna yang sedari tadi mendengarkan dengan saksama kini maju selangkah, menatapku dengan pandangan yang berubah — lebih dalam, lebih penuh rasa hormat dan kekaguman, seakan baru benar-benar memahami siapa sosok yang berdiri di hadapannya ini.
"Pak Dika..." ucapnya pelan, suaranya lembut namun tulus, "Saya sudah bertemu banyak orang sukses di dunia kerja ini. Banyak yang naik ke puncak lalu melupakan orang-orang yang mendukung mereka dari awal. Melupakan orang tua, melupakan keluarga, melupakan masa lalu mereka. Tapi Bapak justru... menjadikan nama Ibu sebagai bagian dari identitas perusahaan. Selamanya. Itu... sangat mulia. Saya yakin Ibu Bapak pasti sangat bangga dan bahagia kalau tahu."
Aku tersenyum, menatapnya dengan tulus, rasa syukur memenuhi dadaku. "Kalau bukan karena beliau, saya tidak akan ada di sini. Kalau bukan karena kesabaran dan kasih sayang beliau, saya mungkin sudah hancur oleh hinaan orang-orang, sudah menyerah pada keadaan. Keberhasilan saya adalah keberhasilan beliau. Kemewahan yang akan saya berikan adalah hak beliau. Beliau berhak mendapatkan yang terbaik sejak lama."
Aku berjalan perlahan menuju dinding di belakang meja direktur, menunjuk papan nama besar yang masih bertuliskan TechNova Solutions dengan huruf perak di latar biru gelap. "Papan nama ini diganti hari ini juga. Pasang yang baru, bertuliskan RnD Corp dengan huruf emas mengilap di latar belakang hitam pekat. Sederhana, tapi berkelas. Seperti Ibu — sederhana dalam penampilan, tapi hatinya murni dan berharga tak ternilai. Ukurannya sama dengan yang sekarang, supaya tidak merusak dinding, tapi hurufnya harus tegas dan jelas. Bisa dilihat dari ujung lorong."
Pak Darma mencatat di buku catatannya dengan cepat, ujung pulpen bergerak lincah di atas kertas. "Baik, Pak. Saya hubungi kontraktor papan nama sekarang juga, sebelum siang. Kalau pengerjaan cepat, paling lama sore ini sudah terpasang. Untuk dokumen-dokumen lainnya, saya akan bagi tim menjadi beberapa bagian supaya bisa dikerjakan berbarengan. Saya pastikan tidak ada yang terlewat."
"Bagus," kataku. "Dan Ratna, kamu siapkan pengumuman resmi untuk semua karyawan, klien, dan mitra bisnis. Jelaskan alasan perubahan nama. Tidak perlu sembunyikan. Ceritakan dengan jujur dan sederhana. Biarkan semua orang tahu siapa Rani. Biarkan mereka tahu bahwa di perusahaan ini, kita tidak melupakan jasa orang-orang yang paling berharga dalam hidup kita. Biarkan ini jadi contoh untuk semua orang yang bekerja di sini — bahwa kesuksesan yang luhur adalah kesuksesan yang tidak melupakan asal-usul."
Ratna mengangguk mantap, matanya berbinar semangat. "Siap, Pak. Saya siapkan drafnya dalam satu jam, lalu minta Bapak periksa. Setelah disetujui, saya sebarkan ke semua departemen dan kirimkan ke seluruh daftar kontak mitra kita. Saya juga siapkan pengumuman untuk dipajang di papan pengumuman dan di situs web sementara sampai yang baru selesai."
Aku berjalan menuju pintu, berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh kembali menatap ruangan ini — ruangan yang akan menyandang nama baru, nama yang bermakna lebih dari sekadar bisnis atau keuntungan. Di luar, jalanan kota sibuk bergerak, jutaan orang berjuang mencari nafkah, dan di tengah-tengah itulah RnD Corp akan berdiri tegak, bukan hanya sebagai perusahaan teknologi, tapi sebagai bukti bahwa kasih sayang seorang ibu adalah kekuatan yang bisa mengubah dunia.
"Pak Darma, Ratna," panggilku lembut sebelum melangkah keluar sepenuhnya.
"Ya, Pak?" jawab mereka serempak, serius dan siap melaksanakan tugas.
"Mari kita mulai babak baru ini dengan semangat yang baru juga," ucapku dengan tegas namun hangat. "Bukan hanya untuk mengejar keuntungan semata, tapi untuk membangun sesuatu yang bisa dibanggakan. Yang bermanfaat bagi banyak orang, yang dikelola dengan jujur, dan yang selalu mengingatkan kita pada orang-orang yang paling kita cintai. Mari kita bangun perusahaan yang tidak hanya kaya harta, tapi juga kaya hati."
Mereka mengangguk serempak, wajah mereka memancarkan tekad yang baru tumbuh, seakan ikut merasakan makna di balik nama ini.
"Saya pamit dulu," kataku sambil melangkah keluar. "Saya harus pulang sebentar. Besok pagi kita lanjutkan rapat penyusunan rencana kerja. Ratna, kabari kalau ada yang butuh keputusan saya segera, tidak peduli jam berapa."
"Baik, Pak Dika. Hati-hati di jalan," jawab Ratna dengan senyum tulus.
Saat aku berjalan menyusuri lorong menuju pintu keluar, terbayang lagi wajah Ibu. Beliau belum tahu. Beliau belum tahu bahwa namanya akan tercantum di gedung-gedung, di surat-surat penting, di mana pun orang membicarakan perusahaan ini. Beliau belum tahu bahwa pengorbanannya tidak sia-sia. Bahwa namanya akan dikenal, dihormati, dan diingat — bukan karena kekayaan, tapi karena kasih sayang yang tak pernah putus, kasih sayang yang membesarkan seorang anak yang berjanji akan menjadikan beliau ratu di dunia ini.
Aku melangkah keluar menuju halaman gedung, menghirup udara segar yang terasa penuh harapan. Di langit yang cerah itu, seakan tertulis jelas: RnD Corp. Rani dan Dika. Ibu dan Anak. Sepasang nama yang tak akan terpisahkan, dalam suka maupun duka, dalam miskin maupun kaya, selamanya.
DING..!
Pemberitahuan Sistem..
[Misi: Menetapkan Identitas Baru — Selesai. RnD Corp Resmi Didirikan. Ikatan Hati: 100%. Kekuatan Organisasi: Meningkat. Pengaruh Emosional & Motivasi Inti: Terbentuk.]