Sore itu, cahaya matahari yang mulai meredup menyelinap masuk lewat celah jendela dapur yang kusam, jatuh di wajah Ibu yang menunduk pelan sambil mengelap meja makan kayu tua. Gerakannya lambat, seakan ada beban berat yang menekan dadanya. Aku baru saja masuk ke rumah, menaruh tas di sudut ruangan, dan saat hendak menyapa, kata-katanya yang pelan lebih dulu terdengar. "Maafkan Ibu ya, Dika..." suaranya lemah, nyaris berbisik, seakan takut didengar. "Seharusnya kamu masih bisa fokus belajar, mempersiapkan kuliah, masa depan yang cerah... bukan malah harus kerja bantuin biaya rumah. Ibu merasa bersalah terus, membiarkan kamu terbebani sejak Ayah pergi. Seharusnya kamu tidak perlu susah payah seperti ini di usia muda." Hatiku seakan diremas kuat. Kata-kata itu, nada suara itu, wajah yang pe

