Hari demi hari terus berjalan seperti itu. Ethan masih terus mendiamkan Oliv dengan segala tingkah lakunya. Ethan masih menganggap jika kehancuran hubungannya dengan Maya adalah karena Olivia. Entah mengapa Ethan masih memikirkan bagaimana nasib hubungannya dengan Maya. Sikap dingin pun masih ia perlihatkan pada Oliv, meskipun Olivia sendiri sudah berusaha untuk mengalah selama beberapa waktu ini.
"Oliv, kamu pulang, Nak?" tanya Arya yang melihat sang putri duduk sambil menonton televisi di rumahnya.
"Iya, Pa. Oliv kangen Papa," jawab Oliv yang masih menguyah potato chips di mulutnya.
Arya pun segera mendekat dan memeluk tubuh Olivia. "Apa kamu sedang bertengkar dengan Ethan?" tanya Arya dengan tatapan menelisik pada Oliv. Tak dapat dipungkiri, sebagai orang tua, Arya tentu saja dapat mengerti kegalauan sang putri dan apa-apa saja yang sering terjadi dalam hubungan rumah tangga itu sendiri.
Olivia pun mulai mengurai pelukannya, " nggak, Pa. Oliv hanya merasa sedikit bosan jika harus berada di rumah terus menerus," jawab Olivia asal.
"Pa, malam ini Oliv tidur di sini, ya." Oliv sedikit merengek pada Arya, yang sudah pasti permintaan itu tak akan bisa Arya tolak.
"Rumah ini adalah rumahmu juga, kapanpun kamu ingin pulang, pulanglah," ucap Arya dengan tatapan mata yang terlihat sendu. Dia sama sekali tak percaya jika putrinya itu kini sudah memiliki kehidupannya sendiri.
--
"Oliv ... Oliv!"
Suara Ethan memenuhi seluruh ruang yang ada di rumahnya. Dia berjalan ke sana kemari untuk mencari dimana keberadaan Olivia. Mungkin Oliv akan pergi bersama dengan Cyril dan juga Metta untuk menghabiskan waktu, tapi ini sudah jam tujuh malam. Kemana Oliv pergi malam-malam begini?
Ethan segera mencari ponsel dan menghubungi nomor Olivia yang tersimpan pada ponselnya. Namun nihil! Panggilan terhubung namun sama sekali tak ada jawaban yang didapatnya.
"Olivia, dimana kamu?" gumam Ethan dengan wajah yang terlihat gusar.
Selama beberapa waktu melihat perjuangan Olivia, sebenarnya Ethan sudah mulai luluh dengan sikapnya yang mulai dewasa dan mulai bisa menempatkan diri. Namun karena sikap dingin Ethan yang masih tetap menjaga jarak. Olivia yang tadinya sudah bersikap mengalah, lama-lama juga merasa lelah.
Ingin rasanya Ethan menghubungi Arya, tapi ada rasa takut di dalam dirinya untuk melakukannya. Apa yang harus ia katakan pada Arya nantinya. 'Ar, Oliv hilang?!' Begitukah?
Jam sembilan malam, Ethan masih tetap menunggu kedatangan Oliv, dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggaman tangannya. Berharap agar anak sahabatnya, yang kini telah menjadi istrinya itu segera menghubungi. Hingga tepat jam sepuluh malam, apa yang ditunggunya sejak tadi akhirnya berakhir. Ponselnya berdering, dan dengan cepat Ethan mengangkatnya.
"Halo, Oliv, sekarang kamu ada di mana?" tanya Ethan cepat.
"Kamu apakan anakku, Ethan?" tanya Arya pada sambungan telepon. Ethan yang memang sudah begitu panik, tak melihat siapa nama yang tertera pada panggilannya. Ternyata itu adalah Arya.
"A--Arya ...," ucap Ethan tergagap.
"Ar, Oliv ...." Ethan terdengar begitu kesulitan untuk mengatakan apa yang sebenarnya tengah ia hadapi kini.
"Dia ada di sini." Arya menyahut, dan hal itu membuat nyali Ethan sedikit menciut meskipun dalam hatinya Ethan merasa lega.
Ethan begitu takut untuk menjawab, sejenak dia hanya terdiam, dan setelah itu ia pun berkata, "baiklah, Ar. Aku akan ke sana," ucap Ethan pada Arya.
Klik!
Tanpa menjawab, Arya langsung saja mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia lantas mendekat dan mengecup kening Olivia dengan lembut. "Pasti berat untukmu, Liv," bisik Arya di telinga putrinya yang kini sudah tertidur dengan begitu pulas.
--
Suara gebrakan meja terdengar menggema di sebuah ruangan yang cukup luas. "Bagaimana bisa?! Kerja begitu saja kamu nggak becus!" tantang seorang wanita yang sepertinya sedang sangat marah.
"Maaf, Nona," ucap Parno, supir truk yang telah dibayar mahal oleh Maya untuk menabrak Oliv. "Tapi tadi sudah hampir terletak, Non. Seandainya saja nggaa ada temannya yang menolong.
Maya benar-benar kehilangan kendali atas dirinya saat ini. Rencananya untuk menyingkirkan Oliv ternyata belum berhasil. "Baiklah kalau begitu, aku akan melenyapkanmu sendiri jal*ng tengil," gumam Maya.
"Pergi!" usir Maya kepada Parno sembari melempar amplop ke arahnya. Parno sang supir truk pun langsung pergi meninggalkan rumah Maya.
Sementara kemarahan sedang menaungi Maya saat ini, hal yang sama pun tengah di rasakan oleh Arya. Di tempat yang berbeda, Arya pun sedang mengungkapkan kekecewaannya pada Ethan.
"Jadi ...?" tanya Arya tiba-tiba setelah keheningan terjadi di antara kedua pria yang hampir seumuran itu. Ethan sendiri tampak kebingungan untuk menjawab sebuah kesimpulan tanpa pertanyaan itu.
"Maaf, Ar." Hanya sebuah kata maaf yang akhirnya keluar dari mulutnya.
"Ethan, aku tahu jika apa yang dilakukan oleh Oliv itu adalah suatu hal yang bodoh. Memilih menikah dengan seorang laki-laki yang usianya dua kali lipat dari dirinya. Namun tindakanmu itu jauh lebih bodoh, Ethan. Hhhaaah ...." Arya pun segera menghela napas cukup panjang.
"Kamu tahu jika aku hanya memiliki Olivia saja di dunia ini. Aku bahkan rela untuk membuang segala apa yang ku miliki demi kebahagiaannya. Sekian lamanya kita menjadi kawan, dan kamu pasti juga sangat tahu kan, Ethan. Aku bisa melakukan apapun jika sampai dia terluka," ujar Arya kemudian.
Arya sama sekali tak main-main dengan ucapannya itu. Ethan sendiri juga tahu itu. Untuk saat ini, Ethan benar-benar tak bisa berkutik. Sekali saja ia melakukan langkah yang salah, maka perusahannya yang akan menjadi jaminan.
"Ar, aku menyayangi Oliv," ucap Ethan. Entah itu benar-benar keluar dari dalam hatinya, ataukah hanya kamuflase belaka, hanya dirinya sendirilah yang tahu.
"Baik, aku akan memberikanmu kesempatan, Ethan." Arya berkata dengan begitu tegas. Hal itu terlihat dari rahangnya yang terlihat mengetat.
"Apa aku boleh menemuinya, Ar?" tanya Ethan yang hanya mendapatkan sebuah anggukan kepala dari Arya.
"Oliv ...," desis Ethan yang pada saat ini sudah masuk ke dalam kamar Olivia. "Ah, kamu benar-benar membuatku sangat prustasi."
Dua kali sudah Ethan berusaha untuk membangunkan Oliv. Namun usahanya itu tak berhasil. Akhirnya, ia lepaskan jaket yang sedari tadi dipakainya dan ikut merebahkan diri di samping tubuh Olivia. Agak canggung sebenarnya, namun entah kenapa Ethan justru memeluk tubuh Oliv dari belakang. Untuk malam ini, Ethan tidur di rumah Arya.
Untuk beberapa saat, Arya masih menunggu di bawah. Tapi setelah tak melihat adanya pergerakan dari kamar Olivia, Arya pun menyunggingkan senyumnya. Itu tandanya jika semua terkendali dengan cukup baik.
"Semoga nanti semua akan lebih baik," ujar Arya yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.