Bab 13. Mulai Luluh

1052 Words
"Ssh ... ah ...." Dalam kedua mata yang masih terpejam, Ethan meracau tak jelas saat merasakan sesuatu yang hangat menjalar di bagian bawah tubuhnya. Ia menikmatinya, iya ... bahkan sangat menikmatinya. Di sana, Olivia sudah memasang posisi di bagian bawah tubuh Ethan. Oliv yang pagi itu baru saja membuka mata, merasa sangat kaget saat melihat jika Ethan tidur dengan memeluk dirinya. Maka dari itu Oliv sengaja memasang badan untuk merangsang sang lelaki pujaan. "Aww, aahh ...." Dengan batang yang sudah mulai mengeras, Ethan mulai membuka kedua matanya. Ada rasa kaget yang tak terhingga saat melihat keliaran yang diberikan Oliv di atas ranjang. Dengan kesadaran penuh, Ethan begitu terpana dengan kemolekan tubuh Olivia yang kini terpampang di hadapannya. Meskipun tak sebesar punya Maya, namun kedua gundukan itu terlihat benar-benar masih ranum dan begitu menggairahkan, bahkan masih tampak kencang dengan bongkahan kecil yang berwarna pink alami. Apalagi kulit tubuh Oliv yang memang putih dan begitu mulus. Membuat hasrat kelelakian yang dimiliki oleh Ethan pun menjadi naik tak terkendali. "Ah ... sudah, Liv." Ethan segera menarik tangan Oliv dan melumat bibir Olivia dengan cukup rakus. Oliv sendiri merasa begitu bahagia dengan hal itu. Setelah beberapa waktu lamanya ia menyandang status sebagai seorang istri sah dari seorang Ethan, baru ini kali pertama ia merasakan sentuhannya dalam keadaan yang sadar. Ciuman yang diberikan oleh Ethan itu terus menjalar dan semakin menjalar, menapak di setiap jengkal tubuh Olivia. Gerakan-gerakan penuh birahi itu akhirnya membuat kedua titik Olivia menegang. Melihat hal itu, Ethan pun segera melumatnya dengan sedikit kasar. Membuat desahan-desahan kecil akhirnya keluar juga dari bibir tipis milik Olivia. Oliv dengan sengaja ingin menarik diri dari Ethan, namun apa yang terjadi. Ethan dengan cepat mencekal kedua bahunya dan kembali memainkan lidahnya di dalam mulut Olivia. "Setelah kamu membangunkan macan yang sedang tertidur, seenaknya saja kamu mau pergi." Ethan berbisik di telinga Olivia. Pada detik berikutnya, Ethan pun meloloskan rudal titaniumnya ke dalam lubang buaya milik Oliv. Kini Ethan melakukannya dengan kesadaran penuh. Beberapa saat Ethan membenamkannya di sana, merasakan kehangatan dari lubang sempit milik Oliv. Dia sangat merasakan kenikmatan itu, dan itu sungguh berbeda dari milik Maya. "Mas," desah Oliv yang membuat kesadaran Ethan kembali. Oliv sendiri memang sudah begitu lama menginginkan hal itu. Kini Ethan memompa tubuh Oliv dengan cukup kencang. Memberikan irama dari setiap gerakan yang ia ciptakan. Suara lenguhan dan erangan kini saling beradu antara dua manusia yang saling memadu kasih tersebut. "Masss ...," lenguh Olivia memanjang seraya melengkungkan punggungnya ke atas. Dia telah merasakan puncak kenikmatannya, dan tak lama setelah itu Ethan kembali menggoyang tubuh Oliv dengan tempo yang lebih cepat. Membuat apa yang tertahan di ujung rudalnya kini keluar dan menyembur di dalam kewanitaan Oliv. Ciuman-ciuman liar Ethan daratkan di wajah Olivia hingga pada akhirnya ia terkulai lemas di atas tubuhnya. "I love you, Mas," bisik Oliv sembari memagut bibir Ethan. -- Ternyata pertikaian yang menjauhkan Maya dari Ethan mampu membuat hubungan antara Olivia dan Ethan semakin membaik. Meskipun belum bisa sempurna mencintai Olivia, perlahan Ethan mulai bisa memperlakukannya sebagai seorang istri dengan baik. Meskipun Ethan sendiri beberapa kali masih sering memikirkan Maya, tapi tetap saja apa yang tersaji di hadapannya kini tidak bisa dia biarkan begitu saja. Pesona kecantikan dari Olivia memang tak bisa untuk dia tolak. Tapi entah kebetulan macam apa yang saat itu sedang terjadi. Olivia sudah tertidur di kamarnya, sedangkan Ethan masih asyik berkutat dengan laptopnya di ruang kerja. Memang dirinya selalu seperti itu saat deadline pekerjaan sudah menumpuk. "Harrkh!" Ethan menyugar rambutnya dengan kasar saat pekerjaannya itu tak kunjung selesai. Dulu di saat dirinya masih bersama dengan Maya, seringkali hanya membantunya saat etan dalam kesulitan seperti sekarang ini. Saat etan benar-benar sedang merasakan pusing melanda kepalanya, dering ponselnya pun membuat tatapannya segera beralih, "Maya ...," gumam Ethan. Pasalnya, Ethan merasa aneh saat tiba-tiba saja Maya menghubunginya kembali, bukankah dirinya pula yang telah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Ethan. Bahkan untuk beberapa waktu, Ethan pernah mencoba untuk menghubunginya, namun tak pernah bisa. Dengan ragu, Ethan kemudian mengangkatnya, "Halo, May." "Ethan, tolong!" "Kamu kenapa, May?" tanya Ethan yang terdengar cemas. "Segera datang ke sini, Ethan. Aku ... Arrkhh!" Klik! Panggilan dari Maya pun dimatikan sepihak. Ethan merasa begitu khawatir, ia takut terjadi apa-apa pada Maya. Tanpa menata kembali buku dan juga laptopnya, dia langsung berlari keluar dan menyalakan mesin mobilnya untuk segera menuju ke apartemen Maya. Ethan makan sama sekali tidak kepikiran dengan Olivia yang mungkin nanti akan mencarinya. Pikiran Ethan hanya tertuju pada Maya saat ini. Ethan menekan bel berkali-kali, dan juga mengetuk pintu apartemen Maya dengan cukup kuat, sama sekali tak ada sahutan dari dalam. Karena pikirannya sudah terlalu berkecamuk, Ethan pun segera memencet beberapa angka yang digunakan sebagai sandi pintu, dan tentu saja etana menghafalnya. "Maya ... May? Kamu di mana?" tanya Ethan saat langkah kakinya sudah masuk ke dalam ruangan. Pandangan Ethan menyapu seluruh ruangan yang terlihat berantakan. Bahkan ada beberapa bercak darah terlihat di lantai. "Maya!" panggil Ethan dengan lebih kencang seraya membuka pintu kamar Maya. "Ethan!" Maya segera keluar dari dalam selimut, dan segera berlari menghambur ke dalam pelukan Ethan. Dia segera menangis di dalam dekapan Ethan. Ethan yang masih merasa kebingungan mencoba untuk menenangkan dengan mengusuk-usuk punggung Maya. "Kamu kenapa, May?" tanya Ethan. Bahu Maya terlihat bergetar, isak tangis pun terdengar tertahan dari bibirnya. "Aku takut, Ethan. Aku takut karena tadi ada yang berusaha membobol masuk ke dalam rumah." "Tapi kamu nggak apa-apa kan, May?" tanya Ethan yang saat ini menangkupkan tangannya pada wajah Maya. "Enggak, Sayang. Aku nggak apa-apa. Aku nggak tahu harus hubungi siapa lagi kalau bukan kamu, Ethan." Maya menatap penuh pada Ethan. "May, ini apa?" Ethan semakin panik saat melihat lengan Maya mengeluarkan darah yang membasahi bajunya. Dengan cepat Ethan membopong tubuh Maya dan mendudukkannya di tepian ranjang. Dia kemudian berlari untuk mencari betadine serta kapas untuk mengobati luka Maya. "Tunggu sebentar, ya." "Tak ada ruginya aku melukai diri sendiri untuk membawamu kembali padaku, Ethan," desis Maya. Seringai dingin pun langsung menghiasi bibir Maya saat ujung jarinya menyentuh tetesan darah yang mengalir di sana. Seketika, raut wajahnya berubah saat melihat Ethan masuk ke dalam kamar. "May," lirih Ethan sembari mengambil tangan Maya dan meletakkannya di pangkuannya. Pandangan Maya tak sedikitpun berpaling dari Ethan. "Sayang, temani aku untuk malam ini saja. Aku sangat takut jika para penjahat itu akan kembali lagi," pinta Maya yang tak dapat ditolak oleh Ethan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD