Memikirkan keselamatan Maya, Ethan pun akhirnya menemani Maya pada malam itu. Itu menjadi kesempatan bagi Maya untuk kembali merebut hati Ethan, meskipun tidak dapat dipungkiri jika memang di dalam hati Ethan masih tersimpan ruang bagi Maya.
"Baiklah, Kamu tidurlah, May. Aku akan tidur di sofa, berjaga agar tidak ada yang mengganggumu lagi," ucap Ethan.
"Apa kamu nggak merindukan aku, Ethan? Di mana kamu tinggalkan panggilan sayangmu untukku?" Maya berjalan mendekat, dan dengan gerakan gemulai ia meletakkan tubuhnya di atas pangkuan Ethan.
"May ...," lirih Ethan yang memang sedang merada lelah.
"Sayang ...," lirih Maya di samping telinga Ethan.
Maya menolehkan wajah Ethan agar sejajar dengannya, dengan lembut Maya membasahi bibirnya dan kemudian melumat bibir Ethan. Untuk sesaat, Ethan larut dalam pagutan itu. Dadanya juga terasa berdesir saat dua bongkahan kenyal milik Maya menempel di dadanya.
"Sayang, aku sungguh rindu kamu," ucap Maya sedikit melepaskan pagutannya dan kembali melumatnya dengan sedikit liar. Maya turun dan menarik kerah baju Ethan, membawanya ke kamar dan melanjutkan aktivitas mereka di sana.
Kini Ethan sudah terlentang di atas ranjang. Maya pun sudah melepaskan satu persatu pakaian yang dikenakanya. Meninggalkan dalaman yang begitu mengundang hasrat Ethan. Maya mulai merangkak perlahan dengan meninggalkan sentuhan-sentuhan basah di perut dan juga d**a bidang Ethan.
Pada gerakan berikutnya, Ethan menahan gerakan Maya yang semakin liar. "Tolong, Maya. Jangan sekarang. Aku benar-benar sedang lelah."
Wajah Maya pun seketika langsung terlihat kecewa saat mendapatkan penolakan dari Ethan. Bibirnya mengerucut dan ia pun langsung merebahkan dirinya begitu saja dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Ia tidur membelakangi Ethan yang masih berada di sampingnya. Ethan sendiri tak peduli dengan itu.
Tak dipungkiri jika ia juga tergoda dengan apa yang baru saja Maya lakukan. Namun tiba-tiba saja sekelebat wajah Olivia hadir di pelupuk matanya. Setelah merasakan keindahan dan kenikmatan dari Olivia berkali-kali, hasratnya bersama Maya sudah tak seperti dulu lagi. Mau dibandingkan seperti apapun, tetap saja Ethan lebih merasakan kenikmatannya saat bersama dengan Olivia.
Ethan pun lantas memejamkan kedua matanya dan menghabiskan malam di kamar Maya.
--
"Mas! Mas Ethan?" Olivia mencari-cari dimana Ethan saat kedua matanya sudah terbuka. Berkali-kali Oliv memanggil, tapi tak ada sahutan yang ia dengar.
"Mas ...!" Kembali Oliv memanggil Ethan.
"Kemana sih, ini?" gumam Olivia yang saat ini masuk ke dalam ruang kerja Ethan. Di sana, Olivia pun hanya geleng-geleng kepala saat melihat laptop Ethan masih dalam keadaan menyala. Oliv pun segera kembali ke kamarnya, mengambil ponsel dan segera menghubungi Ethan.
Ethan yang masih tertidur, terjingkat saat dering ponselnya terdengar. Ia pun bangun dan mengangkat telepon dari istrinya. "Iya, Liv."
"Mas Ethan ada di mana? Sepagi ini sudah nggak ada di rumah?" tanya Olivia cemas.
"Semalam Mas ada berkas yang ketinggalan di kantor. Tadinya cuma mau ambil, tapi karena pagi ini ada meeting pagi, sekalian Mas kerjakan di kantor, Liv. Eh, malah ketiduran. Ya sudah Mas pulang, mau mandi." Seketika Ethan membuat alasan pada Olivia saat jari-jari lentik Maya sudah menggerayang di dadanya.
"Aku harus pulang, May."
"Tapi aku nggak izinin kamu pulang. Sayang." Maya berkata dengan nada yang terdengar begitu manja.
"Berikan aku satu kali dulu baru kamu boleh pulang," ucap Maya nakal.
"Nggak, Maya. Nanti Oliv bisa curiga," tolak Ethan.
Tak mau menyerah, Maya langsung beranjak dan duduk di atas tubuh Ethan. "Sebentar saja, Sayang. aku masih rindu."
"Baiklah-baiklah. Nanti malam aku akan datang ke sini lagi. Tapi untuk sekarang aku harus pulang, Sayang."
Mendengar panggilan sayang untuknya telah kembali, Maya tersenyum senang dan lantas turun dari atas Ethan. "Oke, aku tunggu nanti malam," sahut Maya senang.
--
Olivia kemudian berjalan menuju ke dapur dan membuka pintu kulkas. Banyak sekali sayuran yang ada di dalamnya, hanya saja Olivia tak semahir itu untuk bisa memasaknya. Namun tetap saja karena ia berpikir bahwa Ethan sedang capek, maka dia akan mencoba menyiapkan sarapan pagi untuk Ethan.
Dia mengambil dua butir telur untuk di goreng menjadi telur mata sapi. Tapi nyatanya bukan mata sapi yang ada, melainkan mata genderuwo. Telur itu melebar kemana-mana dengan warna yang sangat hitam. Berkali-kali ia mencoba, namun hasilnya tetap sama saja. Telur itu kembali menjadi gosong.
Hari sudah semakin siang dan Olivia juga belum mandi. Maka dia segera berlari menuju ke kamar untuk membersihkan diri dan segera berganti pakaian. Tak lama kemudian deru suara mesin mobil Ethan terdengar memasuki gerbang depan.
Olivia segera berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Di sana Olivia menyunggingkan senyum manisnya, menyambut kepulangan sang suami.
"Pagi, Mas," sapa Olivia.
Ada rasa bersalah di hati Ethan saat melihat Olivia yang begitu manis menyambutnya. Namun dia berusaha untuk tak memperlihatkannya di depan Oliv.
"Pagi juga, Cantik. Kamu sudah siap?" tanya Ethan.
"Sudah, Mas. Cuma ..., ehm ...." Olivia terlihat memainkan jari-jarinya.
"Kenapa?" tanya Ethan.
"Aku belum menyiapkan sarapan, Mas," jawab Oliv.
"Sudah, itu gampang. Nanti kita sarapan di luar saja," ujar Ethan dengan seraya merangkul pundak Olivia dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.
"Mas, kenapa Mas Ethan bekerja sampai segitunya? Pergi saja sampai laptop lupa untuk ditutup?" tanya Oliv saat menyiapkan dua gelas s**u hangat untuk mereka berdua.
"Aku terburu-buru," hanya itu yang Ethan katakan.
"Ya sudah ayo kita berangkat, sudah siang nanti terlambat," ajak Ethan.
Sesuai apa yang dikatakannya tadi, Ethan mengajak Olivia untuk sarapan terlebih dahulu di sebuah restoran cepat saji. Restoran di mana Metta melihat Maya dan juga Ethan pada waktu itu. Mereka juga tak lama, hanya sarapan saja, dan setelahnya Ethan mengantar Oliv menuju ke kampus.
"Ciyeee ... Makin romantis aja nih kalau dilihat-lihat?" seloroh Cyril saat melihat Oliv berjalan ke arahnya sembari melambaikan tangan kepada Ethan yang masih berada di dalam mobil.
"Apaan, sih?" ucap Oliv.
"Gue ikut senang kalau lu juga senang, Liv," sahut Metta yang berdiri di samping Cyril.
"Gue juga pengennya kayak gitu. Perjuangan juga bagi gue buat ngedapetin hatinya tuh om-om," ujar Oliv.
Ketiga gadis yang beranjak dewasa itu pun berjalan bersama memasuki area kampus setelah mobil Ethan pergi menjauh. Mereka melangkah dengan gurauan gurauan kecil yang membuat Mereka terlihat begitu bahagia dalam tawanya. Tanpa mereka sadari jika tak jauh dari tempat Ethan menurunkan Oliv tadi, ada sebuah mobil yang mengikutinya. Di dalamnya sudah terlihat Maya yang begitu geram melihat kelakuan centil yang Olivia perlihatkan.
Maya tampak tak suka, dan langsung memulul setir mobil. "Lihat saja! Aku akan membalasmu lebih kejam daripada apa yang telah kamu lakukan padaku jal*ng!"