Sambil terus mengumpat dalam hati, Deswita menunggu Arif di lobi gedung apartemen. Ia tidak mendatangi kantor putranya, karena merasa tidak leluasa jika bicara di sana. Siang tadi, Ivan sudah menghubungi dan memastikan bahwa Arif memang sedang mengurus surat untuk mengesahkan pernikahannya. Deswita segera berdiri, ketika melihat putranya keluar dari lift. “Jangan.” Arif menggeleng ketika Deswita baru membuka mulut untuk bicara. Ia berhenti tepat di hadapan wanita itu. “Kalau kedatangan Bunda ke sini cuma untuk protes atau mengkritik pernikahanku dengan Suci, lebih baik jangan pernah lagi temui aku.” Deswita menarik napas panjang. “Jadi, kamu lebih milih perempuan itu daripada Bunda? Orang tuamu sendiri? Orang yang sudah melahirkan kamu?” “Aku menghormati Bunda sebagai seorang ibu, tap

